205 TANYA JAWAB AQIDAH AHLUS SUNNAH.
BAGIAN-13: BAB XIV, BERIMAN KEPADA PARA RASUL.
085.
Tanya:
Dalil apa yang menegaskan keimanan kepada rasul Allah?

Jawab:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada yang sebahagian dan Kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)’, serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Para Rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisaa’: 150-152).

Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam pun pernah bersabda,
“Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya.”

086.
Tanya:
Makna apa yang terkandung dalam keimanan kepada rasul Allah itu?

Jawab:
Iman kepada rasul-rasul Allah berarti secara pasti mengakui kebenaran bahwa kepada setiap umat, Allah mengutus seorang rasul yang menyeru agar beribadah haya kepada Allah serta menolak segala bentuk penyembahan lain. Mereka adalah orang-orang terpilih yang jujur, baik, mulia, bertakwa, dipercaya, dan senantiasa memperoleh bimbingan dan hidayah Allah. Keberadaan mereka diperkuat dengan berbagai bukti dan ayat dari Rabb mereka. Seluruh risalah Allah mereka sampaikan kepada seluruh umat tanpa ada yang disembunyikan, diubah-ubah, ditambah, atau dikurangi walaupun hanya satu huruf. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“... Maka tidak ada kewajiban atas Para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”(An Nahl: 35).
Mereka berada diatas kebenaran yang jelas. Kepada Ibrahim ‘alaihissalam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Allah subhanahu wata’ala telah menganugerahkan kasih sayangNya. Kepada Musa ‘alaihissalam Dia telah berbicara langsung tanpa tabir, Dia telah mengangkat Idris ketempat yang tinggi, dan Dia menjadikan ‘Isa sebagai hamba dan rasulNya melalui ruh dan kalimat yang disampaikan kepada Maryam. Allah melebihkan sebagian rasul dari sebagian yang lain.

087.
Tanya:
Apakah dakwah pencegahan yang munkar dan perintah yang ma’ruf setiap rasul itu sama?

Jawab:
Pada dasarnya, setiap rasul itu, dari rasul yang pertama hingga yang terakhir, memiliki dakwah yang sepakat (sama), yaitu ketauhidan dengan mengesakan Allah melalui berbagai macam ibadah, baik i’tiqad, perbuatan, dan ucapan; serta menjauhi seluruh penyembahan kepada selain Allah.
Kewajiban-kewajiban kepada ibadah yang lain, seperti shalat fardhu, shaum dan lainnya, tidak kepada semua rasul diwajibkan. Begitu juga, ada hal tertentu yang dihalalkan untuk sebagian rasul tetapi tidak halal bagi rasul yang lain. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan ujian dari Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firmanNya berikut ini:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya ...”(Al Mulk: 2).

088.
Tanya:
Apa dalil yang menegaskan kesepakatan para rasul dalam pokok-pokok ibadah?

Jawab:
Dalil seperti itu secara rinci telah tercantum didalam beberapa ayat Al Qur’an, diantaranya firman Allah berikut ini:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’.”(An Nahl: 36).

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku’.”(Al Anbiyaa’: 25).

“Dan Tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: ‘Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?’.”(Az Zukhruf: 45).

“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’.”(Al Mu’minuun: 23).

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Hud. ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.”(Al A’raaf: 65).

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya ...”(Al A’raaf: 85).

“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”(Thaaha: 98).

“Katakanlah (ya Muhammad): ’Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan’.”(Shaad: 65).

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah’.” (Az Zukhruf: 26).

“... Padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”(Al Maaidah: 72).

089.
Tanya:
Apa dalil yang menunjukkan perbedaan syariat diantara para rasul terhadap umatnya, terutama berkaitan dengan penghalalan dan pengharaman terhadap sesuatu?

Jawab:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“... untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan ...” (Al Maaidah: 48).

Didalam shahih Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Kami para nabi adalah bersaudara dari satu ayah dengan ibu berbeda dan agama kami satu.”
Maksud agama satu adalah agama tauhid yang dengannya Allah mengutus setiap rasul dan menghimpun setiap kitab yang diturunkanNya. Adapun, syari’at, perintah, dan larangannya berbeda-beda.

090.
Tanya:
Apakah kisah seluruh rasul tercantum dalam Al Qur’an?

Jawab:
Sebagian besar kisah rasul tercantum didalam Al Qur’an. Kisah-kisah tersebut dapat kita jadikan ibrah dan teladan, sebagaimana telah difirmankan Allah:

“Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (An Nisaa’: 164).
Dengan begitu, sudah sepatutnyalah kita mengimani seluruh nabi dan rasul secara rinci jika memang diperlukan dan secara umum jika memang diharuskan.

091.
Tanya:
Siapa saja diantara mereka yang disebut-sebut dalam Al Qur’an?

Jawab:
Mereka adalah Adam, Nuh, Idris, Huud, Shalih, Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, Luth, Syu’aib, Yunus, Musa, Harun, Ilyas, Zakaria, Yahya, Yasa’, Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, Ayyub, (dan sejumlah cucu), ‘Isa, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

092.
Tanya:
Siapa sajakah diantara mereka yang tergolong Ulul ‘Azmi?
Jawab:
Jumlah mereka ada lima orag dan sebagai keistimewaan mereka, didalam Al Qur’an, Allah menyebutnya hingga dua ayat, yaitu:
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil Perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka Perjanjian yang teguh.”(Al Ahzaab: 7).

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya ...” (Asy Syuuraa: 13).

093.
Tanya:
Siapakah yang pertama kali diangkat menjadi rasul?

Jawab:
Rasul yang pertama kali diangkat adalah Nuh ‘alaihissalam setelah terjadi ikhtilaf (pertentangan) dengan kaumnya, sebagaimana firmanNya ini:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya ...”(An Nisaa’: 163).

“Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, Dan kaum Aad, kaum Fir'aun dan kaum Luth.”(Qaaf: 12-13).
Mengenai kapan tepatnya terjadi ikhtilaf tersebut, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Adalah antara kaum Nuh dan Adam berselang waktu 10 abad, semua mereka berada dalam syari’at yang benar, kemudian diantara kaum mereka terjadi ikhtilaf ...”
Hal itu sesuai dengan firman Allah yang mengatakan:
“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar ...”(Al Baqarah: 213).
Selain itu, Qatadah mengatakan:

“Mereka semua berada diatas petunjuk Allah, kemudian mereka berikhtilaf, maka Allah mengutus para nabi. Maka nabi pertama yang diutus Allah adalah Nuh ‘alaihissalam”.
Pendapat yang sama diungkapkan pula oleh Mujahid:

“Manusia mulanya sebagai pengikutajaran Adam sehingga kemudian menyembah berhala, maka Allah mengutus kepada mereka Nuh ‘alaihissalam, dan dia itu merupakan rasul pertama yang diutus Allah diatas bumi.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, I/250).

094.
Tanya:
Siapa penutup para nabi itu dan bagaimana dalil yang menegaskannya?

Jawab:
Penutup para nabi adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah berikut:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”(Al Ahzaab: 40).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pun bersabda:
“Sungguh kelak akan terjadi setelahku para pendusta sebanyak tiga puluh orang. Semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi lagi setelahku.” (HR Muslim).

“Perumpamaanku dan nabi-nabi yang sebelum aku adalah seperti seseorang yang membangun rumah da penyelesaian pembangunannya ternyata masih kurang satu batu bata sehingga tempatnya masih kosong. Maka diutuslah aku untuk mengisi tempat bata yang kosong itu.” (HR Ahmad dari Sa’id Al Khudhri radhiyallahu ‘anhu).
Dalam riwayat Imam Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya risalah dan kenabian telah terputus, tiada lagi sesudah aku seorang rasul atau nabi.”

Didalam hadits Dajjal pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Dan aku adalah penutup para nabi dan tak ada nabi (lagi) sesudahku.”(HR Muslim).



2 komentar:

Unknown mengatakan...

Bismillah, assalamualaikum, saya ingin bertanya, Mengapa manusia tidak boleh mengkultuskan rasul secara tidak wajar
menurut hawa nafsu? Jelaskan!

Rahman Ali mengatakan...

Bismillah, assalamualaikum, saya ingin bertanya, Mengapa manusia tidak boleh mengkultuskan rasul secara tidak wajar
menurut hawa nafsu? Jelaskan!

Mari berdiskusi...

--------------------------------------------------------------------

Awali dengan bismillah sebelum memberi komentar...

--------------------------------------------------------------------