Tampilkan postingan dengan label Mausu`ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mausu`ah. Tampilkan semua postingan



Materi ke-5
Wajibnya Menjaga Waktu dan tidak Menghabiskannya
untuk Sesuatu yang tidak Bermanfaat

(Ash shihhah) atau Kesehatan dan (al faragh) adalah waktu luang, yaitu dua jenis kenikmatan yang sering kali manusia lalai untuk memafaatkannya, tak jarang mereka baru merasa kehilangan kenikmatan itu setelah mereka menyia-nyiakannya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia; (yaitu) kesehatan dan waktu luang.”[1] (HR. Bukhari)

Salah satu bentuk memanfaatkan waktu luang (yang penuh manfaat dan kebaikan) adalah dengan shalat tahajud, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan yang lainnya. Sebagaimana Aisyah Radhiyallahu Anha berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ (أَيْ: عَشْرُ رَمَضَانَ) أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Jika sudah masuk kesepuluh hari (yakni: sepuluh terakhir ramadhan), Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya (untuk shalat), dan beliau menguatkan ikatan sarung beliau (tidak melakukan jima’).”[2] (Muttafaq Alaih)

Adapun sebab perintah menjaga waktu dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat, karena di akhirat nanti hal itu akan ditanyakan oleh Allah Azza wa Jallam. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda:
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ, وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلاَهُ, وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ, وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ؟
“Tidak akan bergerak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya dengan lima pertanyaan: Tentang umurnya kemana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia belanjakan, dan apa yang sudah dia amalkan dari ilmunya?”[3] (HR. At-Tirmizi)

Maka, setiap muslim yang ingin mendapatkan kenikmatan di akhirat harus bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kenikmatan di akhirat sangatlah mahal harganya. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ خَافَ أَدْلَجَ وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ. أَلآ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ إِلاَّ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ
“Barangsiapa yang takut akan musuh (setan) maka hendaknya dia berjalan di malam hari, dan barangsiapa yang berjalan di malam hari maka dia akan sampai (dengan selamat) ke tujuannya. Ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah harganya mahal, hanya saja barang dagangan Allah adalah surga.”[4] (HR. At-Tirmizi)

Pada hakikatnya, waktu adalah kehidupan. Barang siapa yang menyia-nyiakan waktu, maka ia telah menyia-nyiakan kehidupannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas kesia-siannya. Banyak manusia yang tertipu dalam menggunakan waktunya, sehingga ia mengalami kerugian karena menghabiskannya untuk perkara-perkara tidak bermanfaat, baik untuk manfaat dunia maupun untuk manfaat akhirat.

Kesimpulan dan Faedah Yang Dapat Kita ambil dai uraian di atas antara lain adalah:
1.    Wajibnya menggunkan waktu-waktu untuk perkara-perkara yang bermanfaat.
2.    Anak Adam akan dimintai pertanggung jawaban mengenai waktu-waktunya yang ia habiskan.
3.    Banyaknya orang yang menghabiskan dan menyia-nyiakan waktu mereka serta tertipu di dalamnya.


[1] HR. Al-Bukhari, Ar-Riqaq, 6049; At-Tirmidzi, Az-zuhdu, 2304; Ibnu Majah, Az-Zuhdu, 4170; Ahmad, 1/258; Ad-Darimi, Ar-Riqaq, 2707.
[2][2] HR. Al-Bukhari, Shalatut Tarawih, 1920; Muslim, Al-I’tikaf, 1174; At-Tirmidzi, Ash-Shaum, 796; An-Nasa’i, Qiyamul Lail wa Tathawwu’un Nahar, 163; Abu Dawud, Ash-Shalat, 1376; Ibnu Majah, Ash-Shiyam, 1768, Ahmad, 6/41.
[3] HR. At-Tirmidzi, 2416 dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7299.
[4] HR. At-Tirmidzi, 2450 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 6222.

[Baca...]





Materi ke-4
Peringatan dari Majelis yang tidak Disebut nama Allah

Terkait pembahasan ini Allah Ta’ala berfirman:

 مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ١٨
“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Hal ini dipertegas lagi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَعَدَ مَقْعَداً لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ، وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجِعَاً لاَ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ
“Barangsiapa yang duduk pada sebuah tempat lalu dia tidak berzikir kepada Allah di situ maka hal itu akan menjadi tirah (penyesalan) baginya di sisi Allah. Barangsiapa yang berbaring pada sebuah tempat lalu dia tidak berzikir kepada Allah di situ maka hal itu akan menjadi tirah (penyesalan) baginya di sisi Allah.” (HR. Abu Dawud)[1]
Makna ‘tiratun’ ialah kerugian, dan ada yang mengatakan konsekuensi.[2]
Semakna dengan hadits di atas, Abu Hurairah juga berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ
“Apabila suatu kaum duduk di majelis, lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabinya, pastilah ia menjadi kekurangan dan penyesalan mereka, maka jika Allah menghendaki bisa menyiksa mereka dan jika menghendaki mengampuni mereka.”(HR. At-Tirmidzi)[3] At-Tirmidzi, 3380. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, 5607.


Hal ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu juga meriwayatkan suatu hadits yang menunjukkan ancaman dari bermajelis yang tidak disebutkan nama Allah Ta’ala. Ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ، وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسُ مِنَ اللهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
“Janganlah kalian memperbanyak bicara dengan selain zikir kepada Allah, karena memperbanyak bicara dengan selain zikir kepada Allah membuat hati menjadi keras, sementara hamba yang paling jauh dari Allah adalah yang hatinya keras.” (HR. At-Tirmidzi)[4] At-Tirmidzi, 2411 dan ia berkta, “Hadits Hasan Gharib”. Dihasankan oleh Al-Arnauth dalam Jima’ul Ushul, 11/737.


Kita sudah maklum bahwa setiap manusia pasti memiliki suatu majelis yang di dalamnya mereka berkumpul dan saling bersenda gurau. Namun, sebaik-baik majelis adalah yang di dalamnya disebut nama Allah. Adapun majelis yang di dalamnya tidak disebut nama Allah, tidak ada shalawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka ia adalah majelis yang tercela.

Majlis seperti ini (yg di dalamnya tidak disebut Asma` Allah) ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa pada hari Kiamat kelak ia akan menjadi kerugian bagi pelakunya, karena mereka telah menghabiskan waktu mereka untuk perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi mereka.

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memberitahukan bahwa majelis seperti ini merupakan sebab kerasnya hati, sehingga hatinya tidak tersentuh dengan nasihat dan tidak mau menerima peringatan.

Kesimpulan dan Faedah Yang Dapat Kita ambil dai uraian di atas antara lain adalah:
1.    Peringatan dari banyak berbicara tanpa disertai berdzikir kepada Allah, seperti istighfar, mengkaji ilmu, dan amar makruf nahi mungkar.
2.    Wajib berhati-hati dari majelis-majelis yang tidak disebutkan nama Allah di dalamnya dan berusaha mencari majelis-majelis yang selalu digunakan untuk berdzikir kepada Allah.
3.    Banyak berbicara tanpa disertai dzikir kepada Allah merupakan salah satu sebab kerasnya hati.






[1] Abu Dawud, 4856, 5059. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Misykat, 2/703.
[2] An-Nihayah, Ibnu Al-Atsir, 1/189.
[3] At-Tirmidzi, 3380. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, 5607.
[4] At-Tirmidzi, 2411 dan ia berkta, “Hadits Hasan Gharib”. Dihasankan oleh Al-Arnauth dalam Jima’ul Ushul, 11/737.

[Baca...]