Tampilkan postingan dengan label Aliran sesat/Musuh Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aliran sesat/Musuh Sunnah. Tampilkan semua postingan



Kaum Sodom Bangkit Lagi Lewat LGBT


Dahulu hubungan seksual itu dengan lawan jenis. Itulah hubungan yang normal dan wajar. Bukan SSA (Same Sex Attraction) seperti yang dilakukan kaum homo dan lesbian saat ini. Bahkan saat ini perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) terus didukung. Bahkan di Amerika hubungan mereka dilegalkan, nikahnya pun teranggap. Padahal sebenarnya perilaku LGBT sejatinya cuma kebangkitan dari perilaku kaum Sodom dahulu di masa Nabi Luth.

Nabi Luth dan Kaum Sodom
Perlu diketahui hubungan seksual sesama jenis barulah ada di masa Nabi Luth dan tidak ada sebelumnya. Luth sendiri adalah putera dari Haran bin Azar. Luth adalah putera dari saudara laki-laki dari Nabi Ibrahim -khalilullah (kekasih Allah)-. Artinya, Nabi Luth adalah keponakan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Di samping sebagai keponakan, Luth juga banyak mengambil ilmu dari Ibrahim.
Nabi Luth beriman bersama Nabi Ibrahim dan berhijrah bersama Ibrahim ke Syam. Adapun Nabi Luth diutus pada kaum Sadum (Sodom) dan beberapa negeri yang ada di sekitarnya. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 59 dan Qishash Al-Anbiya’, hlm. 131)

Nabi Luth Mendakwahi Perilaku LGBT
Misi Nabi Luth adalah mendakwahi kaumnya untuk mentauhidkan Allah. Beliau juga mengajarkan kebaikan dan melarang dari kemungkaran.
Yang beliau ingatkan keras pada kaumnya ketika itu mengenai perilaku mereka yang tidak pernah ditemukan pada masa-masa sebelumnya, yaitu suka sesama jenis. Sebelumnya keturunan Nabi Adam tidak pernah punya ketertarikan pada hubungan seksual semacam itu. Barulah datang masa Nabi Luth, perilaku tidak normal semacam itu dilakukan oleh kaum Sodom. Oleh karena itu, di dalam ayat Al-Qur’an disebutkan,
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al A’raf: 80-81)
‘Amr bin Dinar menyatakan tentang ayat di atas, maksudnya perzinaan antara sesama lelaki belum ada sebelumnya sampai diperbuat oleh kaum Luth. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 59)

LGBT itu Perilaku Seksual yang Aneh dan Tidak Normal
Al-Walid bin ‘Abdul Malik, Khalifah Al-Umawi pernah berkata, “Seandainya Allah tidak mengisahkan kisah Luth (dan kaumnya, pen.), tentu aku sendiri tak bisa berpikir bagaimana laki-laki bisa main di atas laki-laki (maksudnya: bagaimana mungkin laki-laki bisa berhubungan seks dengan sesamanya).” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 59)

Artinya, Al-Walid tidak bisa membayangkan kenapa bisa ada hubungan percintaan seperti itu. Karena memang hubungan cinta itu seperti itu terbilang aneh. Oleh karenanya, perbuatan kaum Luth disebut melampaui batas sebagaimana dalam ayat,
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 81)

Dalam ayat lain disebutkan,
أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ , وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ
Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Asy Syu’ara: 165-166)
Disebut melampaui batas karena mereka tidak menyukai wanita. Padahal wanita sudah diciptakan sebagai pasangan bagi pria. Itulah bentuk melampaui batas dan kejahilan mereka karena mereka telah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 59)

Para ulama pakar tafsir menyatakan, di masa Nabi Luth, laki-laki saat itu hanya suka dengan sesamanya. Begitu pula perempuan. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4: 60)

Hal ini sama seperti yang terjadi pada komunitas LGBT yang saat ini ada.

Bela Atas Nama HAM
Saat ini, perilaku LGBT terus dibela dan didukung atas nama HAM (Hak Asasi Manusia) oleh kaum liberalis. Mereka menyatakan, tolonglah berilah kebebasan kepada yang punya perilaku seks yang berbeda dengan kita-kita.

HAM lagi, HAM lagi alasannya.
Seandainya para pelaku Homo dan Lesbi itu mati berpenyakit (AIDS misalnya), lalu mereka termasuk di antara kaum muslimin, apa pendukung HAM dan kaum liberal mau ambil peduli?

Yang ada akibat dari perilaku LGBT:
·         Rambut rontok
·         Kulit bernanah
·         Lidah jadi kelu/ kaku
·         Tak mampu mengunyah
·         Buta/ katarak hebat
·         Infeksi penis/ anus/ vagina
·         Tak mampu duduk atau berdiri
·         Fatal error fungsi imun
·         Gangguan fungsi organ
·         Ditinggal seluruh teman
·         Dijauhi aktivis HAM
·         Menunggu mati

Atau kalau tidak, Allah bisa menurunkan siksaannya yang lebih pedih dengan segera. Coba kita bisa renungkan siksa yang menimpa kaum Luth yang disebutkan dalam ayat berikut ini,
 Kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 33-40)

Siksaan tersebut bisa jadi menimpa orang beriman dan orang yang rusak sekaligus. Ingatlah,
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan keterangan mengenai ayat di atas. Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Allah memerintahkan orang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran begitu saja di tengah-tengah mereka karena azab tersebut bisa menimpa yang lainnya pula.”
Semoga Allah memberi taufik.

Referensi:
Qishash Al-Anbiya’. Cetakan pertama, tahun 1422 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Dar Ibnu Hazm.
Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.



[Baca...]





Syiah Telah Lecehkan Al Qur’an & Ummul Mukminin ‘Aisyah,
Apakah Kita Akan Diam Saja?
SUKOHARJO (Panjimas.com) – Ketua Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf menjelaskan bahwa pelecehan dan penghinaan yang dilakukan oleh Syi’ah terhadap Islam dan simbol-simbol Islam sudah sangat luar biasa.
Salah satu pelecehan yang sangat luar biasa tersebut adalah perkataan lancang dari kaum Syi’ah yang telah menuduh istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yakni ‘Aisyah berbuat zina. (Baca: Ribuan Umat Islam Sukoharjo Banjiri Tabligh Akbar Mewaspadai Pengaruh Bahaya Syi’ah di Indonesia)
Hal ini diungkapkan Habib Zein saat menjadi pemateri dalam acara tabligh akbar berjudul “Menjalin Silaturahmi, Menjaga Keutuhan NKRI & Mewaspadai Pengaruh Syi’ah” di Masjid Agung Baiturrohman Sukoharjo Jawa Tengah (Jateng) pada Ahad (12/4/2015) pagi. (Baca: Tokoh NU: Perbedaan Islam & Syi’ah Bukan Hanya Masalah Furu’, Tapi Juga Ushul)
“Jadi Syi’ah ini ngakunya cinta ahlul bait, tapi faktanya mereka justru yang melecehkan dan menginjak-injak kehormatan ahlul bait itu sendiri. Salah satu pelecehan mereka adalah menuduh ibunda Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berbuat serong, zina,” kata Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini.
“Padahal didalam Al Qur’an surat An Nur, Allah telah menerangkan secara jelas dan membantah tuduhan dan fitnah keji orang-orang munafik saat itu, yang mengatakan dan membuat fitnah ibunda ‘Aisyah telah berbuat serong,” anggota MUI Jatim ini. (Baca: Habib Zein Alkaf: Bisa Berhaji & Masuk Mekkah Bukan Syarat Tidak Kafirnya Syi’ah)
“Jadi sebetulnya apa yang dilakukan oleh orang Syiah saat ini yang melecehkan dan menghina Ummul Mukminin sejati juga melecehkan Al Qur’an. Lalu apakah kita yang mengaku cinta Rasulullah, cinta ibunda ‘Aisyah akan diam saja dengan penghinaan demi penghinaan orang Syi’ah tersebut?,” tanya Habib Zein. [GA]
SUKOHARJO (Panjimas.com) – A’wan Syuriah Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf mengungkapkan adanya sejumlah masyarakat awam dan para tokoh yang masih sangsi dengan kekafiran Syi’ah.
Salah satu hujjah atau alasan serta syubhat yang biasa dihembuskan oleh orang-orang Syi’ah maupun para pembela Syi’ah adalah, tentang bolehnya orang Syi’ah masuk Mekkah dan melakukan ibadah haji. (Baca: Ribuan Umat Islam Sukoharjo Banjiri Tabligh Akbar Mewaspadai Pengaruh Bahaya Syi’ah di Indonesia)
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini menegaskan bahwa kekafiran Syi’ah tidak diukur dari boleh dan tidaknya orang-orang Syi’ah memasuki Kota Mekkah dan berhaji. (Baca: Tokoh NU: Perbedaan Islam & Syi’ah Bukan Hanya Masalah Furu’, Tapi Juga Ushul)
“Jadi, bisa berhaji dan masuk ke Mekkah itu bukan syarat dan penghalang tidak kafirnya orang Syi’ah,” tegas Habib Zein saat menjadi pemateri dalam acara tabligh akbar berjudul “Menjalin Silaturahmi, Menjaga Keutuhan NKRI & Mewaspadai Pengaruh Syi’ah” di Masjid Agung Baiturrohman Sukoharjo Jawa Tengah (Jateng) pada Ahad (12/4/2015) pagi.
“Untuk mengukur Syi’ah itu sesat atau Kafir pedomannya bukan perkataan Saiq Aqil atau Umar Syihab atau orang yang dikasih fulus sama Syi’ah seperti mereka-mereka itu. Tapi ukuran Syi’ah itu Kafir atau tidak yang jadi rujukannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah,” jelas anggota MUI Jatim ini.
“Sekarang coba KTP mereka disuruh ganti agamanya ditulis Syi’ah, pasti mereka akan diusir dan ditendang oleh pemerintah Saudi. Lha mereka itu bisa masuk ke Mekkah karena didalam KTP mereka agamanya tertulis Islam,” tandas Habib Zein. [GA]
SUKOHARJO (Panjimas.com) – Tokoh Nahdhatul Ulama (NU) Jawa Timur (Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf mengatakan bahwa perbedaan yang ada didalam ajaran Islam dan ajaran Syi’ah bukan hanya terdapat dalam masalah furu’iyyah atau cabang semata, namun juga dalam persoalan ushul atau aqidah.
Hal ini dikatakan Habib Zein saat menjadi pemateri dalam acara tabligh akbar berjudul “Menjalin Silaturahmi, Menjaga Keutuhan NKRI & Mewaspadai Pengaruh Syi’ah” di Masjid Agung Baiturrohman Sukoharjo Jawa Tengah (Jateng) pada Ahad (12/4/2015) pagi. (Baca: Ribuan Umat Islam Sukoharjo Banjiri Tabligh Akbar Mewaspadai Pengaruh Bahaya Syi’ah di Indonesia)
Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini menjelaskan, rukun Islam dan rukun iman antara Islam dan Syi’ah saja sudah berbeda, maka sungguh aneh jika masih ada sejumlah tokoh di Indonesia yang selalu berkata dan menabur syubhat ditengah-tengah masyarakat bahwa Syi’ah dan Islam hanya berbeda dalam urusan furu’.
“Sekarang kita lihat dan perhatikan dengan seksama perbedaan yang ada didalam Islam dan Syi’ah. Rukun iman yang ada didalam Islam itu ada 5, sedangkan rukun iman Syi’ah itu ada 6. Rukun iman ini bukan masalah furu’, tapi sudah masuk dalam persoalan ushul,” jelas Habib Zein dihadapan ribuan jama’ah yang hadir.
“Kemudian dalam hal penghormatan kepada para sahabat juga berbeda. Didalam Al Qur’an sudah sangat jelas sekali Allah memuliakan dan meridhoi para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Syi’ah dengan terang-terangan telah melecehkan, menghina dan bahkan mengkafirkan para sahabat mulai Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Utsman dan sahabat mulia lainnya,” ungkap Ketua PWNU Jatim ini.
“Jadi untuk membedakan apakah ajaran didalam Islam dan Syi’ah itu berbeda dalam hal ushul, kita tidak usah mendengarkan perkataan orang-orang Syi’ah yang sedang bertaqiyyah itu. Tapi kita lihat saja langsung didalam kitab-kitab rujukan orang Syi’ah seperti ushul Kaffi karya Al Kulaini,” tegas Anggota MUI Jatim ini. [GA]

JAKARTA (Panjimas.com) – Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Ma’arif menilai Sunni dan Syi’ah bukanlah ajaran asli dari Al Qur’an. Ia mengumpamakan bila ingin mengambil air yang bersih itu di hulu, jangan di hilir. Sedangkan Sunni dan Syi’ah keduanya ada di hilir, maka hal itu bukan persoalan yang pokok.
Sepeti dilansir Republika pada Kamis (16/4/2015), ia mengatakan jika Sunni dan Syi’ah tidak ada di zaman nabi. Sunni dan Syiah adalah hasil yang diciptakan oleh sejarah karena pertentangan politik orang arab waktu itu. Kemudian hal itu menjalar ke theologi atau aqidah, dan sistem berfikir yang berlanjut hingga sekarang.
Menanggapi hal itu, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf menyatakan bahwa Syafi’i Ma’arif sudah pikun dan tidak tahu menahu tentang sejarah persoalan antara umat Islam Ahlu Sunnah dengan Syi’ah.
“Lebih baik saya katakan dia sudah pikun, dari pada saya katakan sebagai penjual Aqidah. Untung sudah tidak jadi Ketua Muhammadiyah,” tegas anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim ini kepada Panjimas.com pada Kamis (16/4/2015).
Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini menambahkan, dengan adanya statemen-statemen nyleneh dari sejumlah tokoh Islam dan lebih cenderung membela Syi’ah telah membuktikan kepiawaian orang-orang Syi’ah dalam melobi dan mempengaruhi para tokoh Islam di Indonesia.
“Ini semua menunjukkan kepandaian tokoh-tokoh Syi’ah melobi tokoh-tokoh kita. Dia kira perbedaan Syi’ah dengan Ahlu Sunnah itu seperti perbedaan NU dengan Muhammadiyah. Maklum bermilyar-milyar dolar Syi’ah hamburkan dalam pemurtadan di Indonesia,” jelasnya. [GA]


[Baca...]





Zaidiyah dan Al Hautsi Serta Cikal Bakal Pemberontakan di Yaman

Selasa, 14 April 2015 - 05:58 WIB
Para keturunan Badruddin inilah yang sekarang menjadi para pemimpin kelompok Al Hautsi (Al Houthi) dalam melawan pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Saudi
Oleh: Dr Adil Bana’imah

HARI ini, sudah masuk dua pekan operasi  militer bertajuk “Aashifatul Hazm(Badai Penghancur) yang dipimpinan Arab Saudi menyerang pemberontak Syiah Hautsi (Syiah al-Houthi atau Hautsiyyun) sejak dimulainya operasi ini hari Kamis (26/03/2015) oleh Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk (GCC).
Hanya saja, hingga saat ini masih banyak terjadi kerancuan dalam masyarakat dalam permasalahan terkait pemberontak Al Hautsi (Syiah al-Houthi). Siapakah mereka? Apakah mereka termasuk kelompok Zaidiyah? atau Syiah? Maka saya sampaikan tulisan ringkas ini, semoga bisa memberikan pencerahan tentang hakikat mereka.
Sebagaimana diketahui bahwasanya dahulu Zaidiyah merupakan mazhab mayoritas sebelum revolusi  rakyat Yaman menetapkan untuk menghidupkan kembali ijtihad Imam As-Syaukani yang lebih dekat kepada mazhab Ahlus Sunnah, dan sebelum persatuan Yaman berkontribusi dalam penyebaran Mazhab Syafi’i.
Mazhab Zaidiyah dinisbatkan kepada seseorang dari yang bernama Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain bin Ali rahimahumullah. Zaid ini membelot dari rezim Hisyam bin Abdul Malik penguasa Dinasti Umayyah dengan bujukan dari penduduk Kufah (syiah). Ketika mereka mengetahui bahwasanya Zaid tidak mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, serta tidak menghina para sahabat, mereka menghinanya dan menolaknya, kemudian Zaid tewas dalam salah satu pertempuran melawan pasukan Hisyam.
Di dalam kitabnya -Siyar A’laminnubala- Imam Adz Dzahabi meriwayatkan bahwasanya suatu hari Zaid didatangi oleh sekelompok orang dari Kufah, sepulangnya ia dari bertemu dengan penguasa Iraq, Yusuf bin Umar, yang merupakan orangnya Hisyam. Lalu mereka -orang-orang Kufah- berkata: “Wahai Zaid, kembalilah maka kami pasti membaiatmu, Yusuf bukanlah siapa-siapa”. Ia pun menuruti perkataan mereka, dan bersiap perang (melawan Yusuf).
Diriwayatkan pula dari Isa bin Yunus, beliau berkata: sekelompok Syiah Rafidhah mendatangi Zaid kemudian berkata, “Berlepas dirilah engkau dari Abu Bakar dan Umar agar kami menolongmu”. Maka Zaid menjawab, “Tidak akan, bahkan aku berwala’ kepada mereka”. Kemudian kaum Rafidhah tersebut berkata, “Kalau begitu kami menolakmu (رفض)”. Sejak saat itulah mereka disebut Rafidhah. Adapun Zaidiyah mengikuti perkataannya dan berperang bersamanya.
Sekte Zaidiyah ini telah lama mengakar di Yaman semenjak Yahya Hamiduddin sukses memisahkan Yaman dari kekuasaan Turki, dan mendirikan negara Zaidiyah hingga tahun 1962 di saat meletusnya revolusi Yaman, dan di saat itu pula berakhir kekuasaan Zaidiyah di Yaman, walaupun hingga saat ini eksistensi mereka tetap kuat.
Mayoritas Zaidiyah mengakui keabsahan Khilafah Abu Bakar dan Umar serta tidak melaknat mereka, bahkan mereka ber-taraddhi (mendoakan keridhaan Allah) bagi mereka dan mengakui keabsahan Khilafah Utsman terlepas dari beberapa hal yang mereka anggap kesalahan yang melekat dalam diri Utsman.
Secara garis besar Zaidiyah memiliki kesamaan dengan Ahlus Sunnah dalam masalah ibadah dan kewajiban-kewajiban, kecuali beberapa hal kecil dalam masalah furu’.
Mereka tidak meyakini adanya Imam Mahdi yang ditunggu kedatangannya, dan mereka juga tidak meyakini bahwasanya para imam terbebas dari dosa sebagaimana yang diyakini Syiah. Di kalangan Zaidiyah sendiri mucul banyak ulama besar yang kemudian mereka menjadi bagian Ahlus Sunnah seperti: Ibnul Wazir, As Syaukani, dan As Shan’ani.
Tidak ada satupun dari kelompok Zaidiyah ini yang menyimpang kecuali 3 kelompok, dan mereka saat ini hampir hilang eksistensinya; Al Jarudiyyah, As Solihiyyah, dan Al Batriyyah. Ketiga kelompok ini dalam akidahnya lebih condong kepada sekte Syiah 12 Imam (Itsna ‘Asyariyyah), khususnya Al Jarudiyyah yang kelompok ini dinisbatkan kepada Abu Aljarud Al Hamadzani, yang disebutkan tentang dirinya bahwa dia mati karena minum khamr (minuman keras).
Nah, dari Jarudiyah inilah muncul Al Hautsi (atau juga Syiah Al Houthi) yang saat ini melakukan pemberontakan di Yaman. Kemudian mereka menambah-nambahi dalam agama secara berlebihan (ghuluw) dan bidah, sehingga tak ada sedikitpun hubungan antara Al Hautsi dengan Zaidiyah. Oleh karena itu adalah suatu kesalahan apabila memikulkan tanggungjawab kepada madzhab Zaidiyah dan menuduh mereka dalang pemikiran dibalik aksi para Al Hautsi (Al Houthi).
Al Hautsi (Al Houthi) yang ada di zaman sekarang dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Badruddin Al Hautsi yang sudah wafat sejak 4 tahun yang lalu  dan pada awalnya dia memunculkan pemikiran-pemikiran Al Jarudiyah yang sesat dan menggabungkan pemikiran-pemikiran tersebut dengan beberapa pemikiran Syiah Imamiyah. Karena hal tersebut terjadilah perselisihan antara Badruddin dengan para ulama Zaidiyah yang menyebabkan dia melarikan diri ke Iran dan hidup di sana beberapa lama, sambil menimba ilmu-ilmu sesat dari Syiah Imamiyah, kemudian dia kembali ke Yaman pada tahun 2002 untuk menyebarkan pemikiran yang ia dapat dari Iran, antara lain; bahwa para sahabat terlaknat dan mereka telah kafir, wajibnya menerapkan khumus (pungutan 1/5 harta untuk ahlul bait/imam), dan hal-hal lainnya yang sesuai dengan ajaran Syiah Imamiyah. Mereka juga mengirim para pemuda Sha’adah (basis mereka) untuk belajar di Kota Qom dan Najaf. [Baca: Siapa Pemberontak Syiah Hautsi Yang Diperangi Koalisi Negara Arab? [1]]
Para keturunan Badruddin inilah yang sekarang menjadi para pemimpin kelompok Al Hautsi (Al Houthi) dalam melawan pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Saudi. Badruddin Al Hautsi adalah penyeru paham Syiah, dan anaknya yang bernama Husain merupakan pendiri sesungguhnya Harakah Syabab Mu’min (cikal bakal dari tanzim angkatan bersenjata Al-Hautsi yang lebih dikenal saat ini sebagai Harakah Ansarullah) dan anaknya yang kedua yang bernama Abdul Malik inilah yang merupakan pemimpin pasukan mereka dalam perang yang terjadi saat ini yang banyak disiarkan di berbagai media massa. Husain telah terbunuh 10 tahun lalu oleh pasukan Yaman, sedangkan sang ayah telah mati 4 tahun yang lalu, dan tersisa hingga saat ini sang anak – Abdul Malik- yang terus menerus menyebarkan kerusakan di muka bumi.*
Penulis adalah dosen Universitas Ummul Qura, Makkah, tulisan ini awalnya dimuat  di situs banaemah.com dan dimuat ulang oleh  Manhajuna.com
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Syia

[Baca...]