Tampilkan postingan dengan label Al-Quran dan Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran dan Tafsir. Tampilkan semua postingan



MUKADDIMAH SURAT AL BAQARAH:
(Ust Abu Fahmi Ahmad)
Kajian Shubuh santri-santri dan jama`ah Masjid al Muhtasib, Lembaga Pendidikan dan Pesantren Imam Bukhari Jatinangor, Jawa Barat

بسم الله الرحمن الرحيم
Sumber utama:
Tafsir al Mishbahul Muniir fi Tahdziib Tafsir Ibn Katsir, Syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfuri –
Taisirul Aliyyil Qadiir Li ikhtishar Tafsir Ibn Katsir, Syaikh Muhammad Nasib ar Rifaa`iy,  
Lubabut Tafsir Min Ibni Katsir, Syaikh Dr.Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh, dan Mukhtasor ShahihTafsir Ibn Katsir, Syaikh Abu Abdillah Musthafa al `Adawi
Tidak diperdebatkan lagi bahwa semua ayat dalam surat al-Baqarah diturunkan di Madinah. Ia termasuk surat yang pertama kali turun di Madinah.
-------------------
Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai huruf-huruf potongan yang terdapat pada awal beberapa surat. Di antara mereka ada yang mengatakan, bahwa itu merupakan huruf-huruf yang hanya Allah sendiri yang mengetahui maknanya. Maka mereka mengembalikan ilmu mengenai hal itu kepada Allah dengan tidak menafsirkannya. Pendapat ini dinukil al-Qurthubi dalam tafsirnya dari Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Ali, dan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhum
Tetapi ada pendapat yang menyatakan bahwa firman Allah:
“Dan peliharalah diri kalian dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian dikembalikan kepada Allah, ” (QS. Al-Baqarah: 281), adalah ayat al-Qur’an yang paling terakhir turun. Dan kemungkinan ia memang salah satu ayat yang terakhir diturunkan. Dan ayat riba juga termasuk yang paling terakhir diturunkan.
Khalid bin Ma’dan menyatakan bahwa surat al-Baqarah mengandung seribu kabar berita, seribu perintah, dan seribu larangan.

Orang-orang yang menghitungnya mengatakan, surat al-Baqarah ini terdiri dari 287 (dua ratus delapan puluh tujuh) ayat, 6221 (enam ribu dua ratus dua puluh satu) kata, dan 25.500 (dua puluh lima ribu lima ratus) huruf.
Wallahu a’lam.

Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, huruf-huruf itu adalah nama-nama surat al-Qur’an. Dalam tafsirnya, al-Allamah Abul Qasim Mahmud bin Umar az- Zamakhsyari menyatakan bahwa hal tersebut menjadi kesepakatan banyak ulama. (Dha’if, telah disampaikan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-`Ilal al-Mutanaahtyah [1/149]).

Beliau juga menukil dari Sibawaih bahwa ia menegaskan dan memperkuat hal itu. Berdasarkan hadits dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah membaca surat Alif laam mim as-Sajdah, (Surat as-Sajdah) dan hal ata ‘ala al-Insan (Surat al-Insan) pada shalat subuh pada hari Jum’at.

Sebagian ulama meringkas masalah ini dengan menyatakan: “Tidak diragukan lagi bahwa huruf-huruf ini tidak diturunkan Allah dengan sia-sia dan tanpa makna. Orang yang tidak tahu mengatakan bahwa “Di dalam al-Qur’an terdapat suatu hal yang tidak memiliki makna sama sekali,” ini merupakan kesalahan besar. Karena ternyata sesuatu yang dimaksud itu pada hakekatnya memiliki makna, jika kami mendapatkan riwayat yang benar dari Nabi tentu kami akan menerimanya, dan jika tidak, maka kami akan menyerahkan maknanya kepada Allah, seraya berucap: “Kami beriman kepadanya. Semuanya berasal dari sisi Rabb kami.”
Dan para ulama sendiri belum memiliki kesepakatan mengenai huruf-huruf tersebut, dan mereka masih berbeda pendapat. Barangsiapa yang menemukan pendapat yang didasarkan pada dalil yang kuat, maka hendaklah ia mengikutinya, jika tidak, maka hendaklah ia menyerahkan maknanya kepada Allah A hingga diperoleh kejelasan mengenai hal tersebut.

Imam Ahmad, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Suhail bin Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah bersabda:
لا تجعلوا بيوتكم قبورا، فإن البيت الذي تُقْرأ فيه سورة البقرة لا يدخله الشيطانُ  
“Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya rumah yang di dalamnya dibacakan surat al-Baqarah tidak akan dimasuki syaitan.”
At-Tirmidzi mengatakan, “hadits ini hasan shahih.”

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah bersabda:
إن الشيطان يفِرّ من البيت الذي يُسْمع فيه سورة البقرة. ورواه النسائ في اليوم والليلة. وأخرجه الحاكم في مستدركه ثم قال : صحيح الإسناد ولم يخرجاه..(أحمد 2:284 ومسلم 1:539، وتحفة الأحوذي 8:180، والنسائ في الكبرى 5:13، 6:240 ، والحاكم 2:260)

“…Sesungguhnya rumah yang paling kosong adalah bagian dalam rumah yang hampa dari kitab Allah (al- Qur’an).” (HR. An-Nasa’i dalam kitab al-Yaum wa al-Lailah.)

Abdullah bin Mas’ud mengatakan,
منْ قرأ عشرَ آيات من سورة البقرة في ليلة لم يدخل ذلك البيت شيطان تلك الليلة، أربع من أولها، وآية الكرسي وآيتان يعدَها، وثلاث آيات من آخِرها، وفي رواية: لم يقرّبه ولا أهله يومئذ شيطان, ولا شيء يكرهه، ولا يقرأن على مجنون إلا أفاق..
 “Barangsiapa membaca sepuluh ayat dari surat al-Baqarah pada suatu malam, maka syaitan tidak akan masuk ke rumahnya pada malam itu. Yaitu empat ayat dari awal Surat al-Baqarah, ayat kursi dan dua ayat selanjutnya, serta tiga ayat terakhir Surat al-Baqarah. Dalam satu riwayat disebutkan pada hari itu dia dan keluarganya tidak akan didekati syaitan, dan tidak ada sesuatu yang dibencinya. Dan tidaklah ayat-ayat itu dibacakan atas orang gila, melainkan dia akan sadar (sembuh).”

Al-Bukhari meriwayatkan, dari al-Laits, dari Yazid bin al-Haad, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Usaid bin Hudhair, katanya: “Pada suatu malam ia membaca surat al-Baqarah -sementara kudanya ditambatkan di dekatnya.- Tiba-tiba kuda itu berputar-putar. Ketika Usaid berhenti membaca, maka kuda itupun merasa tenang. Kemudian Usaid membacanya kembali, maka kuda itu kembali berputar-putar. Tatkala berhenti membacanya, kuda itu pun terdiam. Setelah itu ia membacanya lagi, dan kudanya itupun berputar- putar. Maka ia pun kembali, sedangkan puteranya, Yahya berada di dekat kuda tersebut. Karena merasa kasihan dan khawatir kuda itu akan menerjangnya mengambil anaknya itu, ia menengadahkan kepalanya ke langit sampai ia tidak melihatnya.
Ketika pagi hari tiba, ia menceritakan peristiwa itu kepada Nabi maka beliau bersabda: “Wahai putera Hudhair, baca terus.” Ia pun menjawab: “Ya Rasulullah, aku merasa kasihan kepada Yahya, karena ia berada dekat dengan kuda tersebut. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan kembali melihat arahnya. Setelah itu aku menengadahkan kepalaku ke langit, tiba-tiba aku melihat sesuatu seperti bayangan yang mirip dengan lampu-lampu. Setelah itu aku keluar rumah hingga aku tidak dapat melihatnya lagi. “Tahukah engkau, apa itu?” Tanya Rasulullah. “Tidak,” jawabnya. Beliau pun bersabda: “Itulah malaikat yang mendekati karena suara bacaanmu. Seandainya kamu terus membacanya, niscaya pada pagi hari esok manusia akan dapat melihat malaikat itu tanpa terhalang.”
تعلموا سورة البقرة وآل عمران فإنهما يوم القيامة كأنهما غمامتان أو غيايتان أو فرقان من طير صواف، وإن القرآن يَلقَى صاحبه يوم القيامة حين ينْشَقُّ عنه قبرُه كالرجل الشاحِبِ فيقول له هل تعرفني ؟ فيقول : ما أعرفك. فيقول : أنا صاحبك القرآن الذي أظمأتك في الهواجر وأسهرْتُ ليلك/ وإن كل تاجر من وراء تجارته، وإنك اليوم من وراء كل تجارة، فيُعطى الكلْك بيمينه والخلد بشماله، ويو ضع على رأسه تاج الوقار، ويكْسى والداه حلّتين لا يقوم لهما أهل الدنيا، فيقولان: بم كُسِيْنا هذا ؟ فيُقال: بأخْذِ ولدِ كما القرآن، ثم يقال: اقرأ واصعد في درج الجنة وغرفها، فهو في صعود ما دام يقْرأُ، هذًّا كان أو ترْتيلاً
 “Pelajarilah surat al Baqarah dan Ali Imran, karena sesungguhnya keduanya adalah cahaya yang akan menanungi pembacanya pada hari kiamat seakan-akan keduanya seperti dua gumpalan awan atau bagaikan dua bentuk paying atau bagaikan dua kelompok burung yg mengembangkan sayapnya. Sesungguhnya al Quran akan mendatangi orang-orang yang gemar membacanya pada hari Kiamat saat kuburannya terbelah. Dia datang seperti seorang laki yg kurus dan pucat. Laki-laki itu bertanya kepadanya: Apakah anda mengenalku ? Jawab: aku tidakmengenallimu. Laki-laki itu berkata: aku adalah temanmu, al Qur``an, yang telah membuatmu dahaga pada hari yang terik dan membuatmu tidak tidur di malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang berada di belakang dagangannya, dan engkau pada hari ini berada di belakang seluruh perdagangan. Lalu diberikanlah kerajaan dengan tangan kanannya dan kekekalan  dengan tangan kirinya. Lalu diletakkan mahkota kehormatan di atas kepalanya. Kemudian kedua orangtuanya diberi sepasang perhiasan yang belum (tidak) pernah dibuat oleh ahli dunia. Keduanya berkata: “Karena alasan apakah kami diberi pakaian seperti ini ? Lalu dikatakanlah: “Karena anakmu rajin membaca al Qur`an. Lalu dikatakan lagi: “Baca dan naik lah di anak tangga Surga dam kamar-kamarnya. Damn ia terus naik selama ia terus membaca. Baik membacanya dengan cepat atau pun dengan tartil.
(HR Ahmad, 5?352, Shahih,menurut syaikh al Albani dalam shahih at Targhiib wat Tarhiib, hadits no. 1466, demikianlah dikutip oleh syaikh Safiyurrahman akl Murarakfury, dalam al Mishbahul Muniir, Tafsir Ibnu Katsir)…

تعلموا القرآن واقرءوه فإنّ مثلَ القرآن لمن تعلّمه فقرأه وقام به كمثل جِرابٍ محْشُوٍّ مِسْكا يفُوْحُ ريْحُهُ في كلّ مكان ومثل من تعلمه فيَرْقُدُ وهو في جوفهِ كمثل جراب أُوْكِيَ على مِسكٍ
Pelajarilah al Qur`an dan bacalah. Sesungguhnya perumpamaan al Qur`an bagi orang yang mempelajarinya lalu membaca dan mengamalkannya adalah seperti kantong kulit berisi minyak kesturi yang (karena tutupnya terbuka) maka aromanya menyebar ke seluruh penjuru. Sedangkan perumpamaan orang yag  mempelajarinya, lalu tidur (tidak mengamalkannya), padahal al Quran ada dalam dirinya, laksana kantong kulit yang (tutupnya) terikat padahal di dalamnya terdapat minyak kesturi”. Lafal ini berdasarkan riwayat at Tirmidzi. Kemudian ia berkata: Hadits ini hasan, Lalu ia meriwayatkannya secara mursal, wallahu a`lam (syaikh Shafiyyurrahman al Mubarakfuri)


[Baca...]





Tafsir Tematik QS An Nisa’ : 77
(Bag. Ke-3) Habis

Pesan Kami Untuk Keluarga Muslim:
Berdasarkan QS At Tahrim: 6, Allah mengingatkan sekaligus memerintahkan, agar kita semua dapat menyelamatkan keluarga kita dari “Api Neraka”. Dan hal itu tidaklah mungkin bisa dicapai kecuali dengan “Tarbiyah” (Pendidikan) Islam yang Shahih.
Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa “Pendidikan” itu dimulai dari keluarga, dan di pundak ayah-bunda pendidikan anak itu dipikulkan. Tugas kita sebagai orangtua adalah mengarahkankan (taujih) perkembangan mereka dalam rangka menjaga dari Murka Allah dan adzab-Nya yang pedih, dan dalam rangka mewujudkan “kemanusian” mereka dan kemaslahatan masyarakat mereka.

Sejarah mencatat, bahwa beban orangtrua dalam pendidikan anak itu sempat diringankan oleh peran dan fungsi Masjid, dan ini sangat membantu keluarga dalam melakukan amal-amal tarbiyah, kemudian kini peran pendidikan beralih kepada “Madrasah & Ma`had” (Sekolah-sekolah dan Pesantren).

NAMUN ternyata tidak semua lembaga pendidikan (sekolah dll) itu selalu membantu dan meringankan beban pendidikan dari keluarga. Justru bisa jadi beban pendidikan keluarga akan menjadi semakin  berat dan penuh problem manakala di lembaga-lembaga pendidikan tersebut terdapat berbagai penyimpangan dari pengajaran Islam dan dari tujuan pendidikan Islam.

Sangatlah Tidak Memadahi jika Kita hanya puas dapat memasukkan sekolah anak-anak kita pada lembaga-lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan aqidah Islam yang lurus, Ibadah yang benar, dan menanamkan Tsaqafah Islami, yang selalu memperbaiki ilmu dan amal anak-anak, meluruskan kesalahan mereka dan melatih serta membiasakan hidup di atas jalan Islam yang benar – selama 6 tahun di SDIT Imam Bukhari dan atau di SD Islam sejenisnya – kemudian Bapak & Ibu SECARA SADAR memilihkan sekolah lanjutan untuk anak-anak di sekolah lanjutan yang tidak lagi melakukan fungsi “Ishlah” (perbaikan pribadi), “Tashihul Khatha’ (meluruskan kesalahan anak: ilmu dan amal), dan “Ta`wiid” (Melatih serta membiasakan) hidup anak berjalan di atas jalan Islam yang shahih.

Ditambah lagi dengan buruknya lingkungan pergaulan sekolah (baik antar guru, ataupun antar murid dan guru, dan antara sesama murid). Maka sungguh ini sangat disayangkan, karena ini merupakan sebuah pilihan “Gambling” sangat beresiko tinggi, baik bagi perkembangan anak itu sendiri maupun bagi masa depan orang tua.

Ingat, bahwa usia anak-anak SMP adalah usia awal memasuki “Murahaqoh”, pubertas awal, masa yang paling labil dan paling bahaya bagi sebuah kehidupan, disana “Tidak ada jaminnan” bagi anak yang telah 6 tahun di tempa di SDIT sekalipun, belum tentu dapat bertahan melawan derasnya arus pergaulan bebas dan invasi pemikiran dan pemahaman-juga terhadap lingkungan yang merusak dan menyimpang. Ini artinya salah memilih sekolah bagi anak usia SMP ini bisa jadi berbuah “malapetaka” buat anak dan orangtua.  Bisa jadi kebiasaan baik yang tertanam 6 tahun, tiba-tiba begitu cepat berubah ke arah tidak baik, hanya dalam satu semester atau dua semester …. Takutlah kita kepada Allah Ta`ala. 

Mari kita simak nasihat dari mahaguru kaum muslimin, Ibnul Qayyim al Jauziyah rahimahullah :
“Barang siapa (dari Orangtua) yang meremehkan pengajaran anak-nya pada hal-hal yang memberinya manfaat dan membiarkan begitu saja (sehingga tanpa mengenal Islam sebagai jalan hidup), maka sungguh ia telah melakukan suatu kesalahan besar –bahkan puncak dari kesalahan - . Ketahuilah, bahwa sebagian besar lahirnya anak-anak dengan prilaku buruk (fasad) adalah bersumber dari orangtua (Bapak-Bapak) dan karena sikap meremehkan tadi, dan membiarkan mereka tidak mendapatkan pengajaran agama (kewajiban dan sunnah-sunnahnya), maka hilanglah usia dini (usia emas) mereka, sehingga mereka tidak dapat memberi manfaat untuk diri mereka sendiri, dan tidak pula memberi manfaat bagi orangrtua mereka di masa dewasanya. Mungkin saja dengan sikap orangtua yang acuh terhadap pendidikan agama ini, akan melahirkan anak-anak cerdas, namun menjadi penentang Islam, menjalani hidup tanpa arah yang jelas, mereka “yatiihuun” (berjalan tanpa arah yang jelas, sehingga tersesat jalan).
Bahkan ada sebagian anak yang durhaka ketika dewasanya menyalahkan orangtuanya, sambil berkata dengan keras:

“Wahai Ayahku, engkau telah mendurhakaiku ketika kecil-ku, maka kini akupun mendurhakaimu saat aku dewasa, dan engkau campakkan aku ketika kecil-ku, sehingga kini aku mencapakkanmu pada masa tuamu”.
(Manhaj at Tarbiyah an nabawiyah Lith Thifli, Cet. Ke-3, Maktabah al Mannar-Kuwait, hal. 27, Syaikh Dr. Muhammad Nur Suwaid).

Wassalam, Jatinangor 25 September 2007. Updated, 21 Januari 2016
Al Faqir ilallah, Abu Fahmi Ahmad.
------------

[Baca...]





Bagian ke-02: (Tafsir QS An NIsa’: 77, Lanjutan dari 01)
ماهي التربية ؟
Jika demikian, lalu apa itu Tarbiyah ?
164. Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.  QS Ali Imran: 164.  Ayat senada juga terdapat pada QS Al Jum`ah: 2, dan Al Baqarah: 129.

Oleh karena itu Aisyah RA secara singkat dan tegas, ketika ia ditanya tentang seperti apa sih akhlaq Nabi Saw ? Jawabnya: Akhlaq beliau adalah Al Qur’an. (HR Muslim dan Ahmad dll)
كان خلقه القرآن   (أخرجه مسلم وأحمد وغبرهما).
Dengan demikian,
إذن : التربية ليس حسن الخلق وبشاشة الوجه فحسب , بل تعني : الـتزام هذا الدين كافة , قلبا وقالبا , ظاهرا وباطنا , علما وعملا , دعوة وعبادة , بدءًا من فهم كلمة التوحيد والعمل بها, وانتهاء بإماطة الأذى عن الطريق . (السبيل إلى منهج الطائفة المنصورة, سلسلة 5, ص: 75-77)

Maka menjadi jelaslah bahwa “Tarbiyah” itu bukan sekedar menampakkan wajah berseri-seri dan ber-akhlak baik, bahkan jauh lebih dari itu, yaitu: sebuah sikap komitmen (iltizam) terhadap Ad Dien (Islam) ini secara kaffah, oleh hati dan fisik, lahir dan batin, secara ilmu dan amal, dakwah dan ibadah,  dan haruslah dimulai dari memahami kalimat Tauhid (secara benar dengan manhaj yang benar pula) dan beramal dengan dasar Tauhid, dan berujung pada menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. (Assabiil ilaa Manhaj ath Thaifah al Manshurah, seri 5, hal. 75-77)

1.    Apabila telah diketahui bahwa Tarbiyah itu adalah beramal dengan ilmu .. maka usaha keras menekuni bidang ini memiliki dampak yang besar dalam ketaqwaan seseorang kepada Allah, dalam memperbaiki manusia (akal, hati dan ruhnya), dan dalam membangun dan menegakkan masyarakat
2.    Di dalam Tarbiyah ada upaya mewujudkan mengokohkan barisan dan menyempurnakan “satu kalimah”, dan dapat mengubur habis sebagian besar pertikaian ummat ini.
3.    Dengan Tarbiyah akhlak terpuji menjadi hidup, lapang dada dan jiwa toleran, dapat menanamkan kemashalahatan individu … sehingga tegak dan baik masyarakat tersebut, dan jadilah kaum muslimin seperti sebuah bangunan yang tersusun kokoh, sebagiannya menopang sebagian lainnya … maka akan turunlah kemenangan (pertolongan) Allah dan menjadi sempurnalah kekokohannya. (hal. 79).

Tahapan menuntut ilmu:
1.    Taujih dan tashfiyah, Bina’ dan tarbiyah, Ta’shil dan Tahliyah, Ta`lim dan Taqwiyah: membangun akal dan fikrahnya, mendidik jiwanya dan akhlaknya, mengarahkan motivasi dan cita-citanya, membersihkan pemikirannya dan aqidahnya, menghunjamkan aqidahnya dan petunjuk-petunjuk diennya, menguatkan imannya, memuliakannya dengan Islamnya, mengikuti salaf-nya dan mempelajari hukum-hukum ibadahnya, sendi-sendi mengenali kebenaran, melatihnya agar dapat melaksanakan kaidah-kaidah yang adil, adab ikhltilaf, husnul khulq.
2.    Syarah dan Tafshil, menindak lanjuti apa-apa yang telah dicapai pada tahap pertama.
3.    Ta`ammuq (pendalaman), pemahaman yang shahih terhadap kaidah-kaidah Dien ini dan pokok-pokoknya. Dan dari sini maka seorang pelajar kelak diharapkan untuk menjadi seorang du`at ilallah Dengan : Bashiroh, ilmu dan hikmah. (hal. 93-94).


Perhatikan Perkataan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah:
Ilmu adalah merupakan seutama-utamanya amal shalih seseorang, dan ia merupakan seutama-utamanya dan seagung-agungnya jenis ibadah , ibadah tathawwu`; karena itu ia merupakan jenis jihad fi sabilillah. Ketahuilah bahwa Penegakan Dienullah itu dilakukan dengan dua hal:
(1) Al-`Ilmu dan al-Burhan. (2) Al Qitaal wa ‘l-Sinan
Yang pertama harus selalu didahulukan daripada yang kedua, dan dien ini tidak akan pernah mungkin  ditegakkan dan dizhahirkan kecuali dengan menghimpun keduanya. (Kitabul `Ilmi, Syaikh Utsaimin, hal.15, Daar Ats Tsurayya, Riyadl, cet. I, Thn 1999 /1420 H).

Syaikh Abdurrahman as Sa`dy rahimahullah dalam menafsirkan ayat “Innamaa yakhsyallahu min `ibadihil `ulamaa`”:
فكلّ من كان بالله أعلم: كان أكثر له خشية، وأوجبت له خشية الله، الانكفاف عن المعاصي، والاستداد للقاء كن يخشاه...فهذا دليل على فضيلة العلم ، فإنه داع إلى خشية الله (تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان 6: 317)
“Maka siapa saja (muslim) yang terhadap Allah dia itu lebih mengetahui / mengenalnya: baginya yg lebih banyak takutnya kepada Allah, mengharuskan baginya untuk takut Khasyyatillah, mencegah dirinya dari kemaksiatan, dan mempersiapkan diri untuk saat perjumpaaannya dengan Dzat yang dia takuti Nya.. Ini lah dalil tentang keutamaan ilmu, yaitu mengajak kepada khasyyatillah. (Taisirul Kariimirrrahmaan fi Tafsiril Kalamil Mannan, 6:317)

إن أعان إلى طاعة الله ونصر دينه وانتفع به عباد الله..فهو علم خير ونافع, وإلا هو علم شر وغير نافع
Syaikhul Islam Muhammad Shalih bin Utsaimin rahimahullah mengingatkan kepada setiap penuntut ilmu:
Apabila dengan ilmu yang ia miliki, dapat membantunya dalam ketaatannya kepada Allah, dan untuk membela agama Nya, serta memberikan faedah bagi hamba-hamba lainnya, .. maka ilmu tersebut (ilmu non syariah, apapun disiplin ilmunya) menjadi ILMU NAFI` dan KHAIR. Namun jika tidak menjadikan ilmu yang dia kuasai itu demikian, maka ilmu itu mejadi JAHAT dan TIDAK NAFI`.

Wahai Para Murabbi-Murabbiyah, Jika Anda telah meletakkan “Dunia Pendidikan Islam” sebagai “sarana jihad fi sabilillah Anda”, maka CINTAI lah apa yang menjadi harapan Anda, TAKUT lah pada hal-hal yang dapat membuyarkan harapan atau yang menjadi kendala, dan berikanlah POTENSI, USAHA dan ENERGI Anda untuk menggapai harapan dan cita-cita mulia ini. Insya Allah Anda sudah benar melangkah, mendahulukan pembinaan umat melalui ilmu dan pendidikan daripada menyibukkan diri  mengurusi berbagai makar musuh, apalagi dengan thariqah yang menyimpang, dengan  menghalalkan segala cara , atau  yang dikenal dengan istilah:
“Tubarrirul Wasilah” untuk mencapai tujuan.



[Baca...]





Tafsir Tematik QS An Nisa’ : 77

Tafsir Tematik Mengikuti Manhaj Ahlus Sunnah

Berjihad Melalui Pendidikan & Pengajaran

Oleh : Abu Fahmi Ahmad

Bagian ke-01:

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah SWT berfirman:
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka[a]: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: "Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun[b]. QS  4: 77.

[a] Orang-orang yang Menampakkan dirinya beriman dan minta izin berperang sebelum ada perintah berperang.
[b] Artinya pahala turut berperang tidak akan dikurangi sedikitpun.

Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Kitab Tafsirnya mengatakan: “Orang-orang mukmin pada awal Islam, ketika itu di Makkah, mereka diperintahkan untuk  shalat dan zakat, walau tanpa batasan tertentu. Mereka diperintahkan untuk melindungi orang-orang fakir, diperintahkan untuk toleransi dan memaafkan kaum musyrikin, dan sabar hingga batas waktu yang ditentukan. Padahal mereka amat membara dan amat senang seandainya mereka diperintahkan berperang melawan musuh-musuh mereka. Akan tetapi, kondisi saat itu tidak memungkinkan dikarenakan banyak sebab. (Jilid I: 538).

Selanjutnya beliau mengatakan, alasan utama mengapa Allah belum memerintahkan jihad (qital) melawan musuh-kaum musyrikin-kafirun ketika kaum mukmin masih berada di Makkah (fase-fase awal dakwah Nabi Saw), dan baru perintah itu Allah sampaikan ketika mereka telah berhijrah ke Madinah, antara lain adalah:
1.    Sedikitnya jumlah kaum mukmin dibandingkan jumlah & kekuatan  musuh
2.    Mereka masih berada di wilayah tanah haram, di kota sendiri, tempat yang paling mulia..
3.    Belum memiliki kekuatan, benteng dan pendukung yang memadahi.

Oleh karenanya, mereka tidak diperintahkan jihad kecuali setelah di Madinah, ketika mereka telah memiliki negeri, benteng dan dukungan.

Ayat di atas juga menjelaskan, ternyata ketika di Madinah, dimana Allah memerintahkan jihad, justru sebagian mereka berbalik fikiran menjadi  “enggan”(dan bahkan menolak dengan berbagai alas an yang tidak logis, pent) menerima perintah jihad, bahkan minta ditunda. (Pent. Padahal ketika awal Islam di Makkah, dimana mereka  (masih) dalam kondisi lemah, mereka itu yang paling ngotot meminta disyaria`atkan Jihad berperang melawan musuh dengan segera) Mereka beralasan khawatir terjadinya pertumpahan darah, anak-anak menjadi yatim dan isteri-isteri menjadi janda. (Hal. 538-539).   Bagaimana dengan model kaum muslimin seperti kita ini ?  Yang telah terjangkit parah penyakit “al wahn” ? Cinta dunia dan takut mati ?.Dan mayoritas umat ini tak terdidik dengan didikan Islam yang baik. Mesin uang mengatur perjalanan para da`i, dan bahkan mesin manajemen dakwah di atur oleh kemauan pemilik modal, walau dengan alasan bahwa ekonomi itu teramat penting dalam dakwah dan pendidikan ….  Bagaimana mungkin menjadi seorang “muharrik” padahal mereka belum merasakan lezatnya ujian iman, pengorbanan dan Itsar ?

Syaikh Abu Bakar Al Jazairi rahimahullah mengatakan : “mereka itu menginginkan penundaan perintah perang, (bila perlu) sampai mereka menemui kematian tanpa menghadapi musuh dan bertempur melawannya. Sehingga kemudian Allah memerintahkan Rasul-Nya agar berkata kepada mereka, “Kesenangan dunia ini hanyalah sementara, dan akhirat bagi orang bertaqwa jauh lebih baik daripada kehidupan dunia” (Aisarut Tafasir li Kalaamil `Aliyyil Kabiir, Jilid I : 511).
Menurut Syaikh Abdurrahman As Sa`di rahimahullah dalam mengomentari ayat ini, dia berkata: “Ada beberapa faedah adanya perintah di atas ketika kaum mukmin masih di Makkah (kondisi lemah dan sedikit):
1.    Ini merupakan hikmah dari Allah ta`ala yang mensyariatkan untuk hamba-hamba Nya dengan tidak memberatkan, dan memulainya dari yang paling penting diantara yang penting penting, dari yang paling mudah di antara yang mudah-mudah.   
2.    Andaikan Allah perintahkan (wajibkan) mereka, tatkala masih lemah dan sedikit jumlah mereka, di tengah musuh yang jauh lebih kuat dan lebih banyak, akan membawa mafsadat bagi mereka dan perkembangan Islam itu sendiri. (Taisirul Kariimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannaan, hal. 187-188)
Ibnul Qayyim al jauziyah rahimahullah mengomentari ayat 4 : 77 ini sbb:
“Alasan Allah ta`ala melarang kaum mukmin di Makkah (fase Makkah), dari penggunaan tangan (kekuatan) dalam membela Islam, dan bahkan memerintahkan mereka untuk memaafkan kaum musyrik dan berlapang dada atas prilaku tak bersahabat dari mereka, tidak lain agar bisa menutupi celah-celah ke arah timbulnya mafsadat yang lebih besar, untuk dapat membuka kemaslahatan dalam memelihara jiwa mereka, dien mereka, keturunan mereka. Dan ini jauh lebih penting” (I`lamul Muwaqqi`iin, II: 150).

Faedah Dari Tafsir Ayat ini:
1.    Bahwa perintah jihad dikaitkan dengan kondisi kesiapan kaum muslimin itu sendiri, bukan  karena keinginan atau tuntutan sesaat sebelum waktunya.
2.    Ketika kaum muslimin masih lemah, mereka diperintahkan untuk menegakkan shalat, zakat, menyantuni fuqoro’-masakin, memaafkan dan lapang dada menghadapi perlakuan musuh.
3.    Bagaimana mungkin kita berjihad sementara kita rapuh dalam tauhid dan akhlak
4.    Bagaimana mungkin kita berjihad padahal kita belum merasakan lezatnya santapan kesabaran dan ukhuwwah.
5.    Bagaimana mungkin kita berjihad, sementara kita belum mengenal apa itu pengorbanan dan sikap lebih mengutamakan orang lain.
6.    Bagaimana kita berjihad, sementara kita belum merasakan lezat dan nikmatnya taat kepada Allah dan kepatuhan kepada-Nya.  Perhatikan QS Muhammad: 31).
7.    Dalam fase seperti ini, maka berdakwah kepada tauhid adalah prioritas yang harus didahuklukan, lalu disusul dengan pembinaan ibadah yang disertai dengan pembinaan akhlak, adalah sebuah keniscayaan dan Manhajiyah, dan bukan  sebagai strategi atau tuntutan sesaat.
8.    Yang harus kita lakukan dalam kondisi kaum muslimin seperti ini, adalah: Tarbiyatul Fardi wa Wihdatush shaff (mendidik pribadi/umat dan menyatukan shaff); dan jangan banyak bicara tentang musuh dan apalagi penegakan syariat Islam (tanpa thariqah yang jelas dan manhajiyah).

Artinya: Tuntutan menegakkan nizham (system perundangan) Islam dan bertahkim dengan syari`at Islam BUKANLAH merupakan “Langkah Pertama”, akan tetapi yang menjadi “Langkah Pertama” (dalam Dakwah dan Tarbiyah, pent.) adalah : (Upaya) mentranformasi masyarakat (muslim) itu sendiri – baik darikalangan pengambil kebijakan (para pemimpin) maupun yang dipimpin (rakyat-kaum muslimin), dari jalan lama yang mereka tempuh (yang tak sesuai manhaj, pent.) kepada pemahaman-pemahaman Islam yang shahih. (Perkataan Sayyid Quthb, dalam bukunya “Limadza A`dumuuni ?, hal. 44, dan Tafsir Fi Zhilal al Qur’an, Jilid 2 hal. 712)…. (ini termasuk muhasabah Sayyid Qutbh – otokritik terhadap perjalanan dakwah IM – dalam pledoi-nya, saat akan dihukum  gantung)

31. Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. QS Muhammad: 31

أن التربية لا تتحقق بالخطب . ولا بحضور دروس العلم , ولا بحفظ متون الكتب. وإنما التربية : ممارسة عملية , وترجمة حقيقية , لكل ما نتلقّى ونتعلّم على ساحة الواقع. وبِـعبارة  أُ خْرى: هي العمل الصادق بالعلم الصحيح , أو تزكية النفس على ما يحبه الله ورسوله صلى الله عليه وسلم.
Pendidikan itu tidak terwujud hanya melalui retorika (lewat khotbah-khotbah), juga bukan sekedar menghadirkan sejumlah pelajaran, dan bukan pula dengan menghafal sejumlah kitab (walau itu semua penting). Akan tetapi Tarbiyah itu adalah sebuah kesungguhan amal dan eksistensi dari sebuah hakikat, terhadap setiap yang kita terima dan kita pelajari di lapangan kehidupan nyata.

Dengan kata lain, bahwa tarbiyah adalah: suatu amal perbuatan yang konkrit dan nyata yang disertai dengan ilmu yang shahih, atau ia merupakan penyucian jiwa terhadap apa-apa yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya



[Baca...]