Tampilkan postingan dengan label Visi Misi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Visi Misi. Tampilkan semua postingan

Visi Misi Yayasan Bag.11

Pasal Ketiga :
THARIQAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH
TERHADAP HAK PARA SAHABAT , AHLI BAIT DAN KHILAFAH

طريقة أهل السنة والجماعة في حقّ الصحابة رضي الله عنهم

Yang dimaksud dengan shahabat adalah setiap orang melihat Nabi Saw  dan beriman kepada-nya serta wafat dalam keadaan beriman; sekalipun pertemuannya itu hanya setahun, sebulan, sehari atau hanya sesaat. (Abdullah bin Abdul Hamid al Atsari, dalam Kitabnya al Wajiz fi `aqidatis salaf, Dar ar Rayah, 1418 H,  hal. 162. Juga oleh Dr. Shalih Fauzan bin Abdullah al Fauzan, Ar Tauhid fish shaffi ats tsalits al `aali).
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (at Taubah: 100).
Dalam QS Al Fath: 29 Allah berfirman:
“ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[*]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang menge luarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam -penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.
QS Al Fath: 29.
[*] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.
Itu semua adalah keutamaan para shahabat Ra secara umum.
Ada juga keutamaan-keutamaan lain dari mereka secara khusus, yang masing-masing dari mereka memiliki keunggulan-keunggulan khas masing-masing.

Prinsip Aqidah Salafush Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama`ah
Dalam mensikapi Para Sahabat Ridlwanullah Ajma`in:
1
Mencintai para Sahabat Nabi Saw  , menjaga kesucian hati dan lisannya terhadap mereka. Sebab mereka itu adalah manusia yang paling sempurna keimanan dan kebaikannya serta paling besar ketaatan dan jihadnya. Allah telah memilih mereka untuk menjadi sahabat Nabi Saw  . Nabi Saw  bersabda:
{الله الله في ـصحابي للا تتخذوهم غرضا بعدي ، فمن أحبهم فبحبي أحَبهم ، ومن أبغضهم فببغضي أبغَضَهم ، ومن آذاهم فقد آذاني ، ومن آذاني فقد آذي الله ، ومن آذي الله يوشك أن يأخذه  } صحيح سنن الترمذي  للألباني.
2
Para sahabat itu smeuanya `uduul (jujur dan adil) berdasarkan kesaksian Allah dan rasul-Nya. Mereka adalah para wali Allah dan orang pilihan-Nya serta orang yang paling baik diantara para makhluk-Nya. Mereka juga sebagai umat yang paling baik setelah Nabi-Nya. Sebagaimana pernyataan Allah dalam QS 9 : 100 di atas.
3
Kesaksian Allah dan rasul-Nya bagi mereka (para sahabat) atas keimanan dan keutamaan merupakan prinsip yang pastim yang tentu saja diketahui dalam agama Islam. Mencintai mereka merupakan bagian darti agama dan iman; sedang membenci nya merupakan kekufuran dan kemunafikan. Karena Rasulullah Saw mencintai mereka dan berwasiat agae ummat nya mencintai mereka, maka sudah seharusnya Ahlus sunnah wal jama`ah tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan
4
Tidak akan masuk Neraka seorang pun dari para sahabat yang berbai`at (sumpah setia kepada rasulullah) di bawah pohon (Bai`atur Ridlwan), bahkan Allah telah ridla kepada mereka dan mereka telah ridla kepada-Nya
5
Ahlus sunnah wal Jama`ah senantiasa menahan diri dari perselisihan yang terjadi diantara mereka dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah. Baranmgsiapa yang benar dari mereka maka baginya dua pahala. Dan barangsiapa yang salah dari mereka maka pahalanya satu. Sedangkan keasalahannya akan diampuni oleh Allah Ta`ala. (Catatan: mayoritas Sahabat tidka terlibat fitnah. Tatkala fitnah itu berkobar para Sahabat Ra berjumlah puluhan ribu orang, sementara yang menghadirinya tidak sampai 100 orang, bahkan tidak mencapai 30 orang. (HR Ahmad di dalam Kitabnya Al Musnad dengan sanad yang shahih dari Ibnu Sirin, juga Ibnu Katsir dalam al Bidayah wan Nihayahnya)
6
Ahlus sunnah wal Jama`ah tidak mencaci salah seorang pun dari mereka (para Sahabat), bahkan menyebutnya dengan ungkapan yang layak bagi mereka berupa pujian yang bagus.
لا تسبوا أصحابي ، لا تسبوا أصحابي ، فو الّذي نفسي بيده لو أن أحدكم  أنفق مثلَ أُحدٍ ذهبا ، ما أدرك مدّ أحدهم ، ولا تصيفه
7
Ahlus sunnah wal Jama`ah berpandangan bahwa para Sahabat Ra adalah ma`shum (terjaga dari kesalahan) secara kolektif (artinya Ijma` Sahabat itu ma`sum), adapaun secara individual tidak ma`shum.
{إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة ويد الله على الجماعة } صحيح الترمذي للألباني.
8
Ahlus sunnah wal Jama`ah berpandangan bahwa empat Sahabat : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radliayyallahu `anhum adalah ummat yang paling baik setelah Nabinya Saw. Merekalah yang disebut “Khulafa`ur Rasyidin” secara berurutan yang telah mendapat hidayah. Mereka termasuk juga sebagai “Mubasysyirin bil Jannah (yang mendapat kaba gembira bakal masuk Surga). Khilafah Nubuwwah pada masa mereka itu berlangsung selama 30 tahun termasuk khilafah al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib Ra, berdasarkan sabda Nabi Saw:
{الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ، ثـم ملكٌ بعد ذلك } رواه البخاري ومسلم.
9
Ahlus sunnah wal Jama`ah memuliakan enam orang lainnya dari sejumlah orang yang telah mendapatkan kabar gembira Surga itu, yaitu: Thalhah bin Ubaidillah, Az Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Abdurrahman bin `Auf dan `Ubaidillah bin Jarrah (dengan julukan “Amiin hadzihi ummah: orang yang paling dipercaya pada ummat ini). Lalu Ahlus sunnah wal jama`ah memuliakan para Sahabat pengikut perang Badar, juga yang membai`at Rasulullah Saw di bawah pohon pada “Bai`at Ridlwan” kemudian Sahabat lainnya
10
Ahlus sunnah wal Jama`ah : Mencintai Ahlul Bait Nabi Saw  , berdasarkan sabda Nabi Saw  sendiri:
{أُذَكِّـرُكُمُ الله َ في أهل بيتي ،   أذكـركم  الله في أهل بيتي } رواه مسلم  ،
وقوله  { إن الله اصطفى بني إسماعيل ، واصطفى من بني إسماعيل كنانة ، واصطفى  من كنانة قريشا ، واصطفى من قريش بني هاشم ، واصطفاني من بني هاشم } رواه مسلم.
Diantara ahli Bait beliau adalaj isteri-isteri Nabi Saw  yang mendapat julukan “Ummahatul Mukminin” (ibu-Ibu Kaum Mukminin) berdasarkan nash al Qur’an,
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[2] dan ucapkanlah Perkataan yang baik, Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[3] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[4] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[5] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. QS Al Ahzab: 32-33

 [1] Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.
[2] Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit Ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.
[3] Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. perintah ini juga meliputi segenap mukminat.
[4] Yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.
[5] Ahlul bait di sini, Yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah s.a.w.

Diantara mereka adalah : Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin al-Khaththab, Ummum Habibah binti Abu Sufyan, Ummu Salkamah binti Abu Umayyah bin Mughirah, Saudah binti Zam`ah bin  Qais, Zainab binti Jahsy, Maimun binti al Harits, Juwairiyah binti al Harits bin Abu Dinar dan Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab, semoga Allah meridlai mereka semua.

Ahlus sunnah wal Jama`ah berpandangan bahwa mereka adalah isteri-isteri yang suci lagi bebas dari segala kejahatan dan mereka sebagai isteri-isteri di dunia dan akhirat.

Ahlus sunnah wal jama`ah berpandangan bahwa isteri yang terbaik lagi utama adalah   Khadijah binti Khuwailid dan `Aisyah ash Shiddiqah binti ash Shiddiq; dimana Allah telah membebaskannya (dari tuduhan perbuatan keji) dalam Kitab-Nya yang mulia. Barangsiapa menuduhnya setelah Allah membebaskannya dari tuduhan itu, maka benar-benar ia telah kafir. Nabi Saw  bersabda:
{ فضْل عائشة على النساء  كفضل الثـريد على سائر الطعام } رواه البخاري.

“ Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." Al Hasyr: 10.

Menanggapi sejumlah atsar yang diriwayatkan tentang kejelekan pada shahabat melalui beberapa argumen sebagai berikut:
1.       Banyak atsar tersebut yang didustakan dan sengaja diada-adakan oleh musuh-musuh mereka untuk memperburuk nama mereka.
2.       Diantara atsar tersebut yang telah diubah-ubah dari aslinya, ditambah atau dikurangi, sehingga di dalamnya sarat dengan kebohongan dan kedustaan. Karena sudah mengalami berbagai perubahan maka atsar tersebut tak perlu diperhatikan apalagi diperhitungkan.
3.       Di antara atsar itu ada yang shahih mengenai perkara tersebut, dalam jumlah sedikit. Kiranya dapat dimaklumi, karena kapasitasnya sebagai mujtahid, maka apabila benar ijtihadnya mendapatkan dua pahal, dan apabila ijtihadnya keliru memperoleh satu pahala
4.       Mereka itu adalah manusia biasa, sehingga wajar jika diantara mereka ada yang salah, karena mereka itu tidak maksum, sebagai individu-individu.. Namun demikian, kekeliruan mereka itu dapat dilebur dengan berbagai kemungkinan, (a)  Bisa jadi mereka telah bertaubat, sehingga kejelekannya terhapus. (b) Mereka toh memiliki banyak kebaikan, keutamaan dan anugerah yang mengharuskan diampuninya kesalahan- kesalahannya jika memang ada.
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. Huud: 114.
“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik”. Al Hadid: 10 .
Pasal Keempat:
AL MUWAALAH DAN AL MU`AADAH FILLAH
DALAM AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH

Diantara prinsip-prinsip  Aqidah Ahlus sunnah wal Jama`ah adalah:
CINTA dan BENCI Karena Allah (Al Hubbu wal Bughdlu Fillah)
Artinya cinta dan loyal terhadap kaum muskminin, dan benci terhadap kaum musyrikin dan kaum kafir serta bara’ (berlepas diri) dari mereka.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” At Taubah: 71
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[*] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali (mu)”. Ali Imran: 28.

[*] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.
Ahlus sunnah wal jamas`ah beri`tiqad bahwa muwalah dan mu`adah termasuk prinsip yang penting dan mempunyai kedudukan yang agung dalam syairat ini. Alasannya:
1.     Bahwa muwalah dan mu`adah merupakan bagian dari kalimat syahadat Laa ilaaha illallah. QS An Nahl: 36
2.     Sesungguhnya muwalah dan mu`aadah merupakan tali keimanan yang paling kuat (al `urwatul wutsqaa). HR Ath-Thabrani dalam al-Mu`jamul Kabiir no. 11537, dan al Baghawi dalam Syarhus sunnah XIII/53/3468.
3.     Bahwa muwaalah dan mu`aadah merupakan salah satu sebab agar hati dapat merasakan manisnya iman dan lezatnya keyakinan. HR Al Bukhari no. 16, 21, 6041, 6941, dan Muslim no. 43 dari Sahabat Anas bin Malik.
4.     Bahwa dengan terealisasinya `aqidah seperti ini, maka iman seseorang akan menjadi sempurna. HR Abu Dawud no. 4681 dari Abu Umamah., dihasankan oleh Syaikh al Albani.
5.     Bahwa barangsiapa mencintai bukan  karena Allah dan agama-Nya; bahkan ia membenci Allah, agama dan penganutnya, maka dia telah kafir kepada Allah. QS Al An`am: 14.
“ Katakanlah: "Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, Padahal Dia memberi Makan dan tidak memberi makan?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang musyrik."
6.     Bahwa loyalotas merupakan hubungan yang menjadi sendi untuk tegaknya masyarakat muslim. HR Al Bukhari no. 1`3, Muslim no. 45, at Tirmidzi no. 2515, an nasai, Ibnu Majah dan Ahmad, dari Anas bin Malik Ra.

Ahlus sunnah wal jama`ah beri`tiqad bahwa muwaalah dan mu`aadah termasuk suatu kewajiban secara syar`ii, bahkan termasuk konsekuensi logis dari syahadat :”Laa ilaaha illallah” dan termasuk dsalahs atu syarat dari syahadah tersebut, serta merupakan prinsip utama darim `aqidah dan iman yang harus diperhatikan sekaligus dijaga oleh setiap Muslim. Lihat QS At Taubah: 24, al Mujadalah : 22., dan al Mumtahanah: 1.
“ Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. QS At Taubah: 24
KLASSIFIKASI MANUSIA DITINJAU DARI PRINSIP MUWAALAH DAN MU`AADAH DALAM AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH
1.     Orang yang berhak mendapat wala’ (loyalitas) secara mutlak. Mereka adalah kaum Muskminin yang briman kepada Allah, Rasul-Nya dan mendirikan syi`ar-syi`ar agama serta ikhlas dalam mengerjakannya. QS Al Maidah: 55-56.
2.     Orang yang berhak mendapat wala’ dari satu swegi dan bara’ dari segi yang lain. Seperti kaum muslimin yang maksiat kepada Allah, melalaikan sebagian kewajiban dan mengerjakan hal-hal yang Allah haramkan, namun tidak sampai dihukumi sebagai kufur besar. Mereka itu berhak untuk dinasihati, tidak untuk dijauhi atau diisolasi, namun harus diingkari dan dibenci perbuatan maksiatnya. Dan kitatakn boleh melaknatnya, sebab mereka itu masih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. HR Al Bukhari. Dan tenbtu tetap ditegakkan hokum hadd padanya.
3.     Orang yang berhak mendapat vara’ secara mutlak. Mereka itu adalah orang-orang muysrik dan kafir, baik dia Yahudi, Nashrani, Majusi maupun penyembah berhala. Hukum ini juga berlaku bagi setiap Muslim yang melakukan perbuatan dosa besar yang telah dihukumi murtad baginya. QS At Tahrim: 9,
“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali”.
HAK-HAK MUWAALAH :
1.     Hijrah dari negeri kafir ke negeri kaum Muslimin kecuali bagi mereka yang lemah lagi tertindas (mustadl`afin) dan yang tidak mampu hijrah karena sebab-sebab syar`ii
2.     Menolong dan membela kaum Muslimin, baik dengan jiwa, harta maupun lisan, dan ikut serta merasakan kegembiraan dan kesdihannya.
3.     Mencintai kaum Muslimin seperti mencintai diri sendiri dalam kebaikan arau menolak kejahatan, tak mengejek mereka dan berusaha untuk mencintai, bergaul dan bermusyawarah dengan mereka.
4.     Memenuhi hak-hak mereka antara lain, seperti menjenguk ketika sakit, mengantarkan jenazah, santun dan lembut terhadap mereka, mendoakan, memintakan ampunan bagi mereka, mengucapkan salam kepada mereka, tidak menipu dalam transaksi atau ketika bermu`amalah dan tidak memakan harta mereka dengan cara yang batil.
5.     Tidak memata-matai, menyebarkan kabar dan reahasia mereka kepada musuhnya, tidak mengganggu dan memperbaiki hubungan di antara mereka.
6.     Bergabung dengan jama`ah kaum Muslimin, tidak memisahkan diri dan berselisih dengan mereka, saling tolong menolong bersama mereka dalam kebaikan dan ketakwaan, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran.

HAK-HAK MU`AADAH :
1.     Membenci kesyirikan, kekufuran dan para pelakunya serta menyimpan permusuhan terhadap mereka
2.     Tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin (pelindung) dan tidak boleh mencintai mereka serta harus memisahkan diri dari mereka secara total walau mereka itu ada hubungan kekerabatan (sanak saudara).
3.     Meninggalkan negeri kafir dan tidak bepergian ke negeri tersebut kecuali jika ter paksa dan mempunyai kemampuan untuk menampakkan syi`ar-syi`ar agama Islam.
4.     Tidak menyerupai mereka dalam hal-hal yang merupakan kekhususan mereka, baik berkenaan dengan nilai-nilai agama (dalam syi`ar-syi`ar agama, missal: peringatan hari-hari besar, ulang tahun, dll) maupun duniawi. (cara makan-minum, berpakaian dll).
5.     Tidak mendukung orang kafir, tidak memujinya, tidak menolong mereka untuk menghadapi kaum Muslimin, tidak meminta tolong kepada mereka kecuali apabila terpaksa atau untuk menghadapi orang-orang kafir seperti mereka, menggantungkan kepada mereka, tidak bersahabat dan bergaul akrab dengan mereka, tidak menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan untuk menjaga rahasianya dan melaksanakan pekerjaannya yang sangat peting.
6.     Tidak mengikuti upacara hari besar dan perayaan mereka serta tidak memberikan ucapan selamat kepada mereka berkenaan dengan perayaan hari besar. Juga tidak mengagungkan mereka dan memanggil mereka dengan ungkapan, “Tuan”, “Yang mulia” dan sejenisnya.
7.     Tidak memintakan ampuan bagi mereka dan tidak memohonkan belas kasihan bagi mereka
8.     Tidak bersikap menjilat, basa basi, bersandiwara dan merayu mereka dengan mengorbankan agama.
9.     Tidak berhakim kepada mereka atau rela dengan hukum mereka dan tidak menuruti hawa nafsu mereka serta tidak mengikuti mereka dalam segala  urusan, karena sesungguhnya mengikuti mereka berarti meninggalkan hokum Allahdan Rasul-Nya.
10.  Ketika bertemu, tidak boleh memulai dahulu memberi salam Islam kepada mereka. Tetapi jika mereka mendahului memberi salam, maka jawablah olehmu “wa `alaikum”

Sumber Rujukan:
1. Al Wajiiz fi `Aqidatis Salaf ash Shalih, Ahlis sunnah wal jama`ah, Abdullah bin Abdul Hamid al Atsari, Daar ar Rayah, Riyadl, Th. 1418 H, hal.. 162-166.
2. A;l Madkhal Li Dirasah al `Aqidatil Islamiyan, Dr. Ibrahim al Buraikan, Daar as Sunnah, Saudi Arabia, Cet, Ke-5, Th 1418 H, hal. 224 – 247.


[Baca...]



Pasal Kedua :
THARIQAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH
TERHADAP HAK RASULULLAH SAW
طريقة أهل السنة والجماعة في حقّ الرسول  صلى الله عليه وسلم
Sebagaimana telah kalian pahami bahwa Islam seseorang tidak sempurna kecuali dengan bersaaksi tiada ilah yang haq untuk diibadahi kecuali Allah dan bahwa
Nabi Saw  itu adalah Utusan Allah
Dan syahadat itu tidak akan terwujud kecuali terpeunhinya oleh tiga perkara:

Pertama : Aqidah di dalam hati   عقيدة في القلب

Kedua : Ucapan Lisan (ikrar),    نطق باللسان  dan
Ketiga: Amal dengan anggota badan عمل بالأركان
 
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguh nya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta”. AL MUNAFIQUN: 1   Coba kalian perhatikan ayat di atas :
Ketika orang-orang munafik berkata, “kami bersaksi bahwa engkau (Muhammad) adalah benar utusan Allah”. Langsung Allah menjawab, “Dan Allah beraksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu berlaku dusta”.
Tahukah kalian mengapa Allah berkata demikian ?
Sebab orang-orang munafik itu dalam mengucapkan kesaksian tersebut hanya pada lisan mereka saja, tetapi hati mereka tidak meyakininya.  Oleh karena itu:
Siapa yang berkata, ‘Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah, namun hatinya kosong melompong dari kesaksian tersebut, maka sesungguhnya dia itu belum mewujudkan syahadat kerasulan Muhammad tersebut’. Dan siapa yang meyakini hal tersebut namun  tidak mengucapkannya dengan lisannya maka sesungguhnya dia itu belum mewujudkan syahadat kerasulan Nabi Saw
فمن قال : أشهد أن محمدا رسول الله ، ولكن قلبه خال من هذه الشهادة فإنه لم يُحقِّقْ شهادة  أن محمدا رسول الله.ومن اعتقد ذلك ولم يقله بلسانه فإنه لم يحقق شهادة أن محمدا رسول الله
Dan siapa yang mengucapkan demikian, namun dia tidak mengikuti syari`atnya, maka sesungguhnya dia itu belum mewujudkan syahadat kerasulan Nabi Saw  .
ومن قال ذلك لكن لم يتبعه في شريعته فإنه لم يحقق شهادة أن محمدا رسول الله

Bagaimana mungkin Anda meyakini tentang kerasulan Nabi Saw  , sementara Anda menolak syari`at Allah yang dibawa oleh Nabi Saw  ?
Bagaimana agar syahadat bahwa Muhammad itu utusan Allah yang Anda ucapkan itu memenuhi unsur-unsur realisasinya ?
Oleh karena itu, ketahuilah oleh kalian: Kita semua harus meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa setiap orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka dia itu bukanlah orang yang merealisasikan syahadat kerasulan Nabi Saw . Jadi bukan dia itu tidak bersaksi, namun dia tidak (belum) merealsiasikan kesaksian itu, dan sejauh mana kekurangan dia dalam merealisasikan syahadat tersebut sangat tergantung pada sejauh mana pula dia menentang-nya.
Dengan demikian, yang dituntut dalam kita bersyahadat kepada kerasulan Nabi Saw
Bersaksi padanya dengan hati, lisan dan amal-amal perbuatan, bahwa sanya benar dia itu utusan Allah. Demikian pula mereka mencintainya sebagaimana cintanya kepada Allah `azzal wa jalla,
Mereka mencintai mencintai rasul dikarenakan beliau itu utusan Rabbul `alaimin, dan kecintaan mereka pada beliau itu karena cintanya pula kepada Allah.
Maka jelaslah, kita mencintai Nabi Saw  dan mengagungkannya karena kita mencintai Allah dan mengagungkan-Nya.
Itulah THARIQAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA`AH
TERHADAP HAQ RASULULLAH Saw
Ahlus sunnah wal Jama`ah mengagungkan rasulu `alaihissh shalatu was salam dengan sebenar-benarnya ta`zhim (pengagungan) dan mereka menganggap pengagungan ini merupakan sebesar-besarnya pengagungan yang dilakukan manusia dalam ukuran Allah. Walau demikian, tetap saja Ahlus sunnah wal Jama`ah tidak memposisikan Nabi Saw  di atas apa yang telah diposisikan Allah padanya. Dan Ahlus sunnah
wal Jama`ah betpendapat: “Bahwa dia itu hamba Allah, dan sebagai manusia yang paling menghambakan diri kepada Allah. Ahlus sunnah wal Jama`ah juga mengimani bahwa Nabi Saw  itu tidak mengetahui perkara ghaib kecuali pada hal-hal yang memang Allah singkapkan baginya, dan beliau itu tidak memiliki kemampuan mendatangkan madarat atau manfaat, baik bagi dirinya maupun untuk yang lainnya.
“ Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS Al An`am : 50).
“ Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[*]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”
QS Al Maidah: 67
[*] Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh Nabi Saw
“ Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak Kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan". QS Al Jin: 21.
“ Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya". QS Al Jin: 22
Nabi Saw  itu seorang hamba dari hamba Allah, padanya tidak ada unsur-unsur rububiyah sedikitpun, dan dia itu manusia biasa yang dimungkinkan padanya terdapat kekhususan-kekhususan manusia umumnya maupun jasadiyahnya, dia tidur, makan, minum, sakit, sedih, ridlo, juga mati sebagaimana umumnya manusia juga mati.
Kita tidak boleh memuji beliau Saw berlebih-lebihan, apalagi mencela dan menghinanya. Jangan seperti kaum Nabi Isa’ `alaihissalam yang berlebihan dalam memuji-nya dan memposisikannya.
{ لاتطروني كما أطرت النصارى ابن مريم ، إنما أنا عبد ، فقولوا عبد الله ورسوله} متفق عليه.
Janganlah secara berlebihan dalam memujiku sebagaimana kaum nashrani terhadap Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah (aku ini) hamba Allah dan rasul-Nya. HR Muttafaq `alaih.

144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[*]. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

[*] Maksudnya: Nabi Saw  . ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. karena itu Nabi Saw  . juga akan wafat seperti halnya Rasul-rasul yang terdahulu itu. di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Saw  . mati terbunuh. berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Saw  itu seorang Nabi Saw  tentulah Dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan Para sahabat di hari wafatnya Nabi Saw  . untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

ومن زعم أنه حي في قبره حياةً جسديةً  لا حياة برزخية وأنه يصلى ويصوم  ويحج وأنه يعلم ما تقوله الأمة وتفعله فإنه قد قال قولا بلا علم
Barang siapa yang mengaku (meyakini) bahwa Nabi Saw  itu hidup di dalam kuburnya secara jasadi dan bukan secara ruh-nya, dan dia itu shalat, shaum dan hajji, dan mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat oleh umatnya,
maka ketahuilah orang tersebut telah berkata tanpa dasar ilmu,

Yang wajib dilakukan oleh hamba adalah:
Pertama mencintai Allah, karena ini merupakan seagung-agungnya jenis ibadah kepada Allah.. kemudian mencintai Rasulullah Saw, sebab dia telah mengajak (uama manusia) menyeru kepada Allah dan mengenal-Nya, menyampaikan syari`atNya dan menjelaskan hukum-hukumNya. Maka apapun hasil yang diperoleh orang-orang mukmin berupa kebaikan di dunia dan di akhirat, maka (tidak terlepas)dari peran beliau, dan bahkan seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan menaatinya dan mengikutinya
Nabi Saw  bersabda:
{ثلا ث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما ، ,أن يحب المرء لا يحبه إلا لله ، وأن يَكْرَ هَ أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يَكْرَ هُ أن يُـقْذَفَ في النار} (متفق عليه)
Tiga hal apabila terdapat pada diri seseorang maka ia telah mendapati manisnya iman, ‘menjadikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai selain keduanya, seseorang mencintai orang lain semata karena Allah, dan adanya sikap tidak suka untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah melepaskan darinya seperti ketidak sukaannya untuk dilemparkan ke dalam api neraka” Muttafaq `alaih.
Maka tentulah cintanya kepada Rasulullah itu ada setelah atau mengikuti cintanya kepada Allah, dan ini merupakan suatu keniscayaan dalam tingkatan cinta.
{ لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين } (متفق عليه)
Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sehingga menempatkan cinta kepadanya melebihi dari cintanya kepada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia”
Muttafaq `alaih .
Ketika Umar bin Khtahthab Ra berkata, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu yang ada kecali dari diriku sendiri. Lalu Nabi Saw  berkata, ‘Demi yang diriku ada di tangan-Nya, sampai dia benar-benar lebih engkau cintai dari dirimu. Lalu berkatalah Umar, ‘kalau begitu seklarang engkau lebih aku cintai dari diriku
HR Bukhari
ومحبته  تقتضي : تعظيمه وتوقيره واتباعه وتقديم قوله على كل أحد من الخلق وتعظيم سنته .
Cinta kepada Rasulullah Saw itu menuntut adanya : pengagungan (ta`zhim), penghormatan (tauqir), ittiba` kepadanya, dan mendahulukan ucapannya dari semua ucapan makhluk, serta mengagungkan sunnahnya
Kedudukan Nabi Saw sebagaimana halnya Allah memujinya dan menyebutkan kedudukannya yang Allah dengannya Allah memuliakannya. Baginya kedudukan yang tinggi sebagaimana Allah posisikan dia. Dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, juga makhluk-Nya yang terbaik secara mutlak. Dia adalah rasul yang diutus Allah untuk semua manusia, kepada jin dan manusia, dan dia sebaik-baik para rasul dan penutup para nabi, tidak ada nabi setelah nya. Sungguh Allah telah melapangkan dadanya dan meninggikan sebutan namanya, dan menjadikan siapa saja yang menentang peritahnya maka ia terhinakan dan kerdil. Dan dia adalah sang pemilik maqam yang terpuji. QS al Isra’: 79 dan Al Hujurat: 3-5

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat-ayat di atas, dia berkata, “ayat-ayat ini berbicara tentang etika bagi orang-orang beriman yang diajarkan oleh Allah dalam hal berinterkasi dengan Nabi Saw  , yaitu berupa penghormatan, pemulyaan, serta pengagungan, yaitu agar mereka tidak meninggikan suara mereka di hadapan Nabi Saw  melebihi suaranya, dan Allah melarang hamba-hambaNya untuk memanggil Nabi Saw  seperti panggilannya terhadap semua manusia  lainnya.  Panggil saja belia saw itu: Ya Nabiyallah, ya Rasulallah

63. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. An Nur: 63.
Sebagaimana halnya Allah Ta`ala memanggil Nabi Saw   dengan, “Ya ayyuhan Nabiy, ya Ayyuhar rasul. Dan bahkan Allah bershalawat atasnya Saw, begitu pula para Malaikat  dan orang-orang beriman bershalawat atasnya saw.
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[*]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[*]”. Al Ahzab: 56

[*] Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad.
[*] Dengan mengucapkan Perkataan seperti:Assalamu’alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi.
Dan termasuk pengagungan terhadap nabi saw adalah mengagungkan sunnahnya dan meyakini wajibnya mengamalkan nya, karena ia merupakan wahyu dari Allah Ta`ala.
3. Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
1.       Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
An Najm: 3-4

Sumber:
1.       Minhaj Ahlis sunnah wal Jama`ah Fil `Aqidah wal `Amal, Syaikh Nashiruddin al Albani dan Syaikh Muhammad Shalih ibn Utsaimin.
2.       At Tauhid Lis shaffits Tsalits al `Aaali , Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al fauzan
3.       Al Wajiiz Fi  `Aqidah As Salaf ash Shalih Ahlus sunnah wal jama`ah, Abdullah bin Abdul Hamid al Atsari


[Baca...]