Seri Kado Pernikahan -5


Serial Manhaj Bina’ul Usrah Muslimah
Membangun Keluarga Islami Sebagai Kekuatan Inti Masyarakat
Seri Kedua: Bagian ke-5
Kado Pembekalan : Menuju Keluarga Sakinah-II
Kado Untuk Pasangan Muda
(Mempersiapkan Pendidikan Anak Usia 0 – 2 Tahun)
Oleh : Abu Fahmi Ahmad
Pondok Pesantren Imam Bukhari,
Kawasan Pendidikan Jatinangor
Sumedang-Jabar, Telpon (022) 7798738
Kado Untuk Pasangan Muda : (Mempersiapkan Pendidikan Anak Usia 0 – 2 Tahun)
Oleh Abu Fahmi Ahmad

Pendahuluan
Alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberi kekuatan, rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan Seri kedua dari Serial Membangun Lembaga Keluarga Islami, sebagaimana yang berada dihadapan pembaca budiman. Tentu saja para pembaca budiman telah selesai membaca, menelaah, dan menghayati seri pertama, yaitu tentang Kado Pernikahan.
Tulisan ini disajikan sebagai stimulan dan perangsang bagi pembaca budiman, sesuai dengan keterbatasan kami dalam menuangkan pikiran, wawasan, dan pengalaman sebagai hasil tela’ah dari sejumlah referensi yang sempat kami kaji, dan harapan kami adalah agar pembaca budiman meresponnya secara positif, artinya mengambil manfaat yang ada, menggaris bawahi apa-apa yang dianggap mengganjal dalam pikiran dan pemahaman anda, mungkin saja menyampaikan sejumlah kritik sesuai dengan daya kritik anda, dan mungkin mengurangi dan menambah perkara-perkara yang anda anggap penting. Yang pada dasarnya, kami berharap kepada setiap pembaca segera timbul kemauan keras untuk melengkapi kajian yang berkenaan dengan pembinaan keluarga Muslim ini sesuai dengan tuntunan minimal kebutuhan referensi.
Insya Allah apabila semua ini kita lakukan  dengan ikhlas dan dalam rangka tanasukh fillah (saling menasihati karena Allah) dan juga dalam mewujudkan kenikmatan ukhuwwah diantara kita, tentu saja Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan pahala kepada kita dan memberkati serta merahmati setiap langkah kita baik dalam melakukan ishlah, tashhihul khotha’ ataupun ta’widuhuma (melakukan perbaikan, meluruskan kesalahan, dan membiasakan keduanya).

Seri kedua dari Serial Membangun Lembaga Keluarga Islami, kami beri judul “Kado Untuk Pasangan Muda (Mempersiapkan Pendidikan Anak Usia 0 – 2 Tahun)
Semoga kehadiran buku kecil ini mendatangkan sejumlah manfaat dan mampu memotivasi para pembaca budiman dan mewujudkan keluarga Islami ditengah-tengah tantangan global dunia ini.

Pokok-pokok Bahasan Seri II:
Pasal Satu               : Anak-anak Sebagai Perhiasan Dunia dan Sumber Fitnah
Pasal Dua                : Upaya Syaithon dalam Mempengaruhi Anak Manusia
Pasal Tiga                : Amaliyah Orangtua Pada Hari Pertama Kelahiran Anak
Pasal Empat             : Amaliyah Orangtua Pada Hari Ketujuh Kelahiran Anak
Pasal Lima               : Pelik-pelik dalam Perkawiinan dan Solusi Islaminya

Pasal Satu
Anak Sebagai Perhiasan Dunia
sekaligus Sebagai Sumber Fitnah

1.1 Pendahuluan
Ketika kita membaca ayat yang berbunyi bahwa, “Kami telah ciptakan manusia dalam bentuknya yang paling bagus” (QS At Tin), atau ayat lain yang berbunyi, “Dan Kami telah memuliakan Bani Adam, dan Kami bawa mereka di (atas) daratan dan lautan, dan kami telah anugerahkan rezeki dari yang baik-baik serta Kami unggulkan terhadap kebanyakan makhluk ...” (QS Al Isra).
Yang harus segera kita pahami adalah bukan karena keindahan bentuk ciptaan dan keunggulannya semata, sebagaimana juga Allah nyatakan sendiri dalam surat        At Taghabun ayat 3, akan tetapi disana ada hal yang tersirat, bagian dari anatomi tubuh manusia yang sangat berharga dan berkaitan dengan diturunkannya surat Al ‘alaq           -pentingnya ilmu- dan Al Muzzammil -perintah sejumlah amaliyah yang harus dilaksanakan atas dasar ilmu- yang kelak akan mengangkat manusia dari tingkatan yang terendahnya (Al ‘Alaq) kepada manusia yang berilmu dan berperadaban, organ itu adalah otak, yang nantinya akan menjadi pasangan serasi dari bagian yang lain yaitu hati.
Sepintas mengetahui struktur otak manusia
Otak terbagi menjadi dua belahan, otak kiri dan kanan, masing-masing memiliki fungsi sebagaimana tujuan Allah menciptakannya. Dari fungsinya, maka otak belahan kiri berfungsi sebagai “The Logical Brain” yang Allah persiapkan khusus berkemampuan dalam hal membaca, menghitung, menulis, berbicara, mengerti akan sesuatu, menganalisa dan berpikir. Adapun otak belahan kanan berfungsi sebagai “The Artistic Brain” yang Allah persiapkan khusus berkemampuan sebagai pusat sensoris, perlindungan terhadap lingkungan, sosialisasi, spiritual, seni, budi bahasa, kreatifitas, perhatian dan intuisi.
Allah menjadikan kedua belahan itu sebagai pasangan serasi yang harus secara sama-sama dan seimbang dikembangkan sampai tingkatannya yang seoptimal mungkin. Otak yang demikian besar fungsinya ini, didukung oleh faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya, yaitu faktor yang mempengaruhi otak ketika anak berada dalam kandungan ibunya, seperti rangsangan gizi, kimiawi dan taruma fisik. Dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya setelah anak lahir seperti gizi kimiawi, taruma fisik, pengalaman, pendidikan, dan stimulan-stimulan.
Upaya dini yang harus dilakukan oleh orangtua jika ingin membentuk kepribadian anaknya adalah: pemenuhan gizi, dan ini bisa dipenuhi sejak anak dalam kandungan ibunya (gizi ibu hamil), dan kemudian ASI. Yang kedua adalah dengan memberikan rangsangan otak sesuai dengan kebutuhan dan tahapan-tahapannya. Upaya ini penting dilakukan mengingat keterkaitannya dengan upaya pendidikan dan pengembangan anak pada fase berikutnya.
Dalam hal ini dapat kita cermati bersama tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti terdapat dalam ayat 15 surat Al Ahqaf.
“Ya Rabbbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Enggkau ridlai, berilah kepadaku kebaikan dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku ...”.
Allah berfirman tentang do’a Nabi Ibrahim untuk dirinya dan anaknya Ismail ‘alaihissalam. “Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang”         (QS 2: 127).
 “Dan hendaklah para Ibu menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh yaitu bagi yang ingin menyempurnakan masa susuan ...” (QS 2: 233).
Juga ayat-ayat lainnya. Agar orangtua melaksanakan tanggung jawabnya secara baik dan sempurna dalam rangka menghantarkan lahirnya generasi shalihah dan kuat kepribadiannya.
Dr. Yusuf Irianto (Da’i dan pemerhati pendidikan Pondok Pesantren, yang juga Ketua PMOG SDIT Salsabila Bekasi, periode 2003-2005) mengatakan: “Ada beberapa cara yang harus kita lakukan dalam merangsang otak, khususnya pada anak usia 0 – 18 tahun, yaitu:
Yang berkaitan dengan otak belahan kiri, seperti membaca, menulis, matematika, hafalan (tahfizha), mengaktifkan fungsi panca indera, gerak badan dan keseimbangan tubuh.
Yang berkaitan dengan otak belahan kanan, seperti mendengarkan tilawah Al Qur’an dan nasyid Islami, khotbah/ pidato, diskusi, menggambar, memandang keindahan ciptaan Allah, mengarang, bela diri, latihan berorganisasi dan berdakwah (Makalah seminar di Jakarta)
Selanjutnya dia mengatakan, “Tentu saja rangsangan-rangsangan tersebut sejak dini harus dilakukan oleh orangtuanya dan orang dewasa disekitar anak, dan lalu diimplementasikan dalam kurikulum pendidikan pra sekolah dan pendidikan dasar sampai menengah. Sabab pada masa itu anak mengalami beberapa fase perubahan, pra pubertas, masa pubertas, dan pasca pubertas awal. Dan ini menjadi penting bagi pengembangan pendidikan mereka setelah usia 18 tahun keatas.
Anak adalah anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi manusia, kedatangannya mendatangkan kegembiraan hati mereka, menyejukkan pandangan mereka. Benar bahwa anak-anak adalah permata hati bagi orangtua, dan mereka tercipta sebagai bunga-bunga kehidupan dunia (zahratul hayatid dunya). Secara eksplisit Allah Ta’ala menyebutkannya dalam ayat berikut:
Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS 3: 14).
Allah Ta’ala ketika menyebut anak-anak sering pula merangkaikannya dengan kata amwal (harta), yang sama-sama Dia jadikan sebagai hiasan dunia bagi manusia.
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya disisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS 18: 46).

1.2 Anak Hiasan Dunia Sekaligus Fitnah
Setiap hiasan biasanya erat kaitannya dengan permainan. Hanya saja yang kita inginkan adalah sebuah perhiasan yang  indah dan bukan hasil imitasi atau jiplakan atau hasil rekayasa semata. Dan bahkan hidup itu sendiri adalah sebuah permainan. Dan setiap permainan pasti didalamnya terdapat aturan main, pemain itu sendiri, wasit, dan lapangan untuk bermain. Karenanya Allah Ta’ala memperingatkan kita semua melalui sebuah ayatnya:
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang taman-tamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS 57: 20).
Oleh karenanya orang-orang kafir itu tertipu menganggap bahwa pemberian Allah akan anak dan harta yang banyak itu, sebagai bukti ridla Allah atas mereka, sehingga mereka berbangga-bangga, unjuk kekuatan, dan pamer dengan banyaknya anak tersebut, kemudian mereka berlaku sombong dan pongah terhadap orang-orang beriman. Sebenarnya apa yang mereka lakukan itu semata zhan jahiliyah (sangkaan jahiliyah) yang dibangun diatas pemikiran-pemikiran sesat dan menipu mereka. Tentang menyikapi yang demikian tersebut, maka Allah menegaskan kepada orang-orang beriman, bahwa banyaknya anak itu tidak akan mendatangkan manfaat sedikitpun dari Allah, sebagaimana firmannya:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir baik harta mereka maupun anak-anak mereka, sekali-kali tidak dapat menolak azab Allah dari mereka sedikitpun. Dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal didalamnya” (QS 3: 116).
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan didunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir” (QS 9: 55).
(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, mereka lebih banyak hartanya dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal-hal yang bathil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu amalannya menjadi sia-sia didunia dan diakhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi” (QS 9: 69).
Itulah golongan yang merugi dan perbuatannya sia-sia, baik didunia maupun diakhirat. Sia-sia dan rugi bukan berarti  sebagian amalannya tidak sedikitpun manfaat bagi manusia. Kita mengakui, bahwa terdapat pada diri mereka itu orang-orang baik dan melakukan produk-produk yang bermanfaat bagi manusia, dan mungkin juga pada diri mereka terdapat perilaku yang baik. Akan tetapi, itu semua akan sia-sia dan merugi dihadapan Allah Ta’ala, disebabkan kemusyrikan mereka dalam ibadah dan dalam mengikuti apa-apa yang Allah turunkan  kepada mereka.
Manusia rugi itu ada beberapa tingkatan:
Setiap manusia yang tidak beriman kepada Allah Ta’ala adalah rugi
Setiap orang mukmin akan rugi kecuali bagi yang beramal shalih.
Amal shalih pun akan minim, kecuali jika diikuti dengan tawashau bil haq dan tawashau bil shabri. Artinya mukmin akan rugi jika tidak sampai ikut berperan dalam perjuangan dakwah, menyampaikan kebenaran, memperjuangkannya, dan sabar atas ujian yang menimpanya dalam perjalanan dakwahnya itu (QS Al Ashr)
Allah Ta’ala memperingatkan orang-orang kafir akan kenyataan tersebut, agar mereka sadar dalam keadaan tertipu dalam kehidupan ini, kerena sekedar bangga atas banyak anak dan harta, sementara mereka tidak memperhitungkan besarnya fitnah yang akan timbul dan pasti.
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), kami bersegera memberikan kabaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar” (QS 23: 55 – 56).
Dan mereka berkata: Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak diadzab. Katakanlah: Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikehendakiNya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)” (QS 34: 35 – 37).
Dari sejumlah ayat diatas, jelaslah bagaimana Allah Ta’ala terus menerus memberikan peringatan kepada manusia tentang fitnah besar yang bisa saja muncul kapan saja dari anak-anak mereka, agar jangan sampai kecintaan mereka terhadap anak-anaknya membuat mereka lalai dan jauh dari perintah-perintah Allah SWT, dan terjerumus kedalam jurang kerusakan dan kenistaan yang menyebabkan murka dan amarah Allah Ta’ala. Mereka seharusnya menyimak peringatan keras Allah berikut: “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah lah pahala yang besar” (QS 8: 28).
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan (bagimu) disisi Allah lah pahala yang besar” (QS 64: 14 -15).
Hai manusia bertaqwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaithan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah” (QS 31 :33).
Lalu Allah Ta’ala mempertegas lagi dalam Surat At Taubah, agar setiap cinta tabi’i (naluri) itu tidak sampai mengalahkan cinta imani seseorang. Termasuk cinta naluri adalah cinta orang tua kepada anak atau sebaliknya.
Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugian, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari berjihad dijalan-Nya), maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”          (QS 9: 24).
Jika kita perhatikan ayat-ayat diatas, maka terjadi praktek KKN dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan kenegaraan, adalah bersumber dari adanya cinta dan benci bukan karena Allah, sehingga menempatkan cinta naluri diatas cintanya yang imani. Dan dari sinilah kemudian muncul berbagai macam ketidak adilan, kesewenang-wenangan, dan segala hal yang menjurus kepada tindakan anarkhis.
Dan dalam kehidupan kita sering pula muncul orang yang semula (sebut saja masa mudanya) sangat aktif dalam perjuangan da’wah dan pembinaan ummat, namun kemudian sungguh mengejutkan karena begitu masa perkawinannya, sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, mundur dari gelanggang dakwah dan perjuangan menegakkan risalah, amar ma’ruf nahi ‘anil munkar. Biasanya yang dikambing hitamkannya adalah isteri dan anak serta kesibukan-kesibukan duniawi yang berkaitan dengan harta dan sejenisnya.
Bisa jadi, seorang muslim kaya yang semula dermawan, kemudian tiba-tiba menjadi seorang yang kikir karena fitnah anak.
Bisa jadi, seorang muslim yang semula gigih dan pemberani, kini menjadi loyo dan pengecut karena fitnah anak.
Bisa jadi, seorang muslim yang semula gigih menuntut ilmu, tiba-tiba saja menjadi jahil dan pemalas, dan jauh dari forum-forum kajian, itupun karena fitnah anak.
Benarkah semua akibat fitnah anak, ataukah sekedar mengkambing hitamkan anak? Kalaupun kasus itu terjadi, itupun sebenarnya tidak terpisah dari istiqomah dan komitmen yang bersangkutan. Jangan-jangan isteri dan anak-anak itu sekedar  dijadikan kambing hitam bagi sikap malasnya dan lemahnya iman, yang disebabkan oleh faktor lain, ekonomi misalnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Anak itu (terkadang) menjadi penyebab jahil (ayahnya), terkadang menjadi sumber penyebab bakhil (ayahnya), terkadang juga penyebab kesedihan (bagi ayahnya)” (HR Muslim).
Mungkinkah itu telah menimpa kita? Lalu bagaimana kita bisa keluar dari keadaan menyedihkan ini? Mari kita ikuti fatwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:
Fitnah seseorang itu bisa terjadi kepada keluarganya, hartanya, anaknya, dan dirinya sendiri dan (juga) tetangganya. Hal itu bisa ditanggulanginya dengan shaum, shalat, bersedekah, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar”  (HR Asy Syaaihan dan Tirmidzi dari Hudzaifah).
Semooga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita semua anak-anak shalih yang dapat membantu kita semua untuk mentaati Allah, yang mengingatkan kita ketika lalai, dan menasehati kita ketika menjauhi (perintah) Nya.

[Baca...]



C. PENGARUH PENGARUH NEGATIF DARI KECENDERUNGAN FARDIYYAH DAN JAMA’IYYAH

Jika kecenderungan fardiyyah dan jama’iyyah tidak mendapat perhatian yang wajar, terabaikan fungsinya, tidak dipelihara dan dididik, bahkan cenderung dimatikan secara total atau melampaui batas­batas wewenangnya, tentu akan menimbulkan pengaruh pengaruh yang negative pada diri seseorang, seperti berikut ini:

1. Lari dari Persoalan dan Mengasingkan Diri

Pengaruh negatif pertama yang timbul dari kecenderungan fardiyyah dan jama’iyyah bisa mengarah kepada pemutusan hubungan atau pengucilan diri dari lingkungan manusia, menghindari bergaul dengan mereka. Hal ini disebabkan oleh lemahnya kecenderungan individu alistis yang menjadikan jiwa itu lemah, lumpuh dan tak kuasa menghadapi beban kehidupan bersama manusia lainnya. Tiada jalan lain yang harus ditempuh, kecuali dia harus menjauhkan dan mengucilkan diri dari keramaian manusia. Ujian berkenaan dengan berkenaan dengan pengucilan diri ini seakan merupakan usaha menutupi diri dari berbagai kelemahan, kelumpuhan dan kelalaian dan kepalsuan. Ini akan mengakibatkan: berlanjutnya kekeliruan-kekeliruan secara terus menerus dan membuka pintu bagi setan-setan jin dan manusia untuk masuk melakukan penyelewengan dan penyesatan dan merusak kehidupannya. Ini sebagai akibat disamping tidak memperoleh berbagai pengalaman dan percobaan, ia juga bisa dikuasai oleh rasa putus asa, keletihan, kemalasan, kebosanan dan terputusnya dari pembelaan dan pertolongan Allah.

2. Bermalas-malas dan Lesu Semangat

          Lemahnya kecenderungan fardiyyah dan jama’iyyah akan menimbulkan pengaruh negatif kedua, yaitu: timbulnya rasa malas dan lesu tiada semangat. (jika ini dibiarkan) akan mengakibatkan kesempatan bagi musuh-musuh untuk menguasai dan mengendalikan kita, sebagaimana kenyataan dan yang kita saksikan pada kebanyakan negeri-negeri kaum muslimin pada masa kini. Anehnya lagi, bahwa mereka yang lemah kecenderungan individualistisnya menjadi hilang semangatnya, enggan melakukan aktifitas-aktifitas bermakna, duduk bermalas-malas, dengan berslogankan: “Manusia itu tergantung dari agama raja-raja mereka” - - - “Biarakan hamba-hamba itu seperti apa yang ia inginkan” Dan entah atribut apa lagi yang mereka gunakan, yang tak ada gunanya itu. 

3. Jatuh dan Runtuh Pada Awal Melangkah :

          Akibat ketiga dari lemahnya kecenderungan fardiyyah dan jama’iyyah adalah ia akan jatuh dan runtuh pada awal-awal melangkah ketika harus menghadapi percobaan. Hal ini bisa dimengerti, sebab kecenderungan individualistis lah yang mencegah untuk tidak berbuat sesuatu karena lemah-nya itu. Padahal seharusnya kecenderungan itulah yang mampu bertahan menghadapi ujian, bersabar dan meneguhkan, tidak terkecuali termasuk dalam waktu-waktu mendapat ujian berat.

4. Bungkam Terhadap Kebenaran :

          Pengaruh negatif keempat yang lahir dari lemahnya kecenderungan fardiyyah dan dorongan jam’iyyah adalah tersumbatnya Al haq yang dapat menghinakannya, sehingga ia memilih sikap tutup mulut dan bungkam. Padahal orang yang bungkam terhadap kebenaran adalah ibarat setan yang membisu, sebab telah memberikan pelauang bagi tersebarnya kebatilan, berbagai kerusakan dan kejahatan, serta untuk mempertahankannya sehingga mendatangkan buahnya yang teramat pahit dan membuat macetnya kehidupan.

5. Keta’atan yang Membuta :

          Dampak negatif kelima akibat lemahnya kecenderungan fardiyyah dan dorongan jama’iyyah adalah timbulnya keta’atan yang membabi buta, yang tiada lagi bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil, antara ta’at dan ma’shyiat, yang merupakan perkara bagi lahirnya penindasan, kekerasan, kesewenang-wenangan dan pemaksaan serta kediktatoran.

6. Penindasan dan Tindak Sewenang-Wenang :

          Dampak negatif keenam akibat lemahnya kecenderungan fardiyyah yang sampai ke tingkat mementingkan diri sendiri dan ananiyyah, kemudian ujub (tinggi hati), tertipu dan takabbur. Takabbur ini kemudian terwujud dalam praktek pemaksaan dan kesewenang-wenangan serta penindasan. Yang kesemuannya itu merupakan sumber kejahatan dan kerusakan di atas bumi. Dan ini menjangkau kawasan bumi yang subur maupun yang tandus, dan (juga) dapat mengancam kesatuan dan persatuan. Maha benar Allah Yang Maha Agung, yang berfirman:

Dan di antara manusia ada yang ucapannya tentang dunia menarik hatimu, dan dipersaksikan kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila dia berpaling dari muka mu ia berjalan di bumi untuk mengadakan perusakan kepadanya, serta merusak tanah ladang dan hewan ternak. Dan bila dikatakan kepadanya: Bertaqwalah kepada Allah; maka bangkitlah kesombongannya yang mengakibatkan dosa, maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. Dan sesungguhnya neraka jahannam itu seburuk-buruk tempat tinggal” (Al Baqarah : 204-206).

Itulah dampak-dampak negatif bagi setiap kecenderungan fardiyyah dan jama’iyyah. Hal ini telah diungkap oleh ustadz Muhammad Quthb adanya isyarat kedua dampak pertama dan dampak terakhir dari seluruh dampak tersebut, dimana ia berkata:

“Manusia yang tidak memiliki syahshiyyah (kepribadian) baik zatnya maupun wujudnya, ia tidak akan terlahir kecuali sebagai kelompok yang lemah dan hina diri, yang pantas untuk dikuasai dan diperintah oleh diktator dan penindas, kemudian saling berebut kekuasaan ketika sang diktator itu tumbang. Dan manusia yang mendorong kepribadiannya secara menyimpang sampai ke batas ananiyyah yang menghinakannya atau melampaui batas, ia tak mampu hidup seiring bersama jama’ah, dan ia hanya akan memecah belah jama’ah dan mengarah kepada kebinasaan. (Manhaj Tarbiyyah al-Islamiyah, Mohammad Quthb, 1/163)

[Baca...]



BAB DUA : PENGARUH FARDIYAH DAN JAMA`IYAH TERHADAP EKSISTEN SEORANG MUSLIM DAN KENYATAAN HIDUP

Di depan telah kami kemukakan bahwa setiap kecenderungan individualistis dan sosialistis, itu memiliki pengaruh-pengaruh positif dan negatif terhadap diri seorang muslim dan dalam kehidupan yang nyata. Namun bila keduanya itu tetap dipelihara dan ditempatkan pada tempatnya yang proporsional, maka akan berdampak positif dan membawa kepada kebahagiaan hidupnya. Tetapi jika tidak mendapat perhatian yang layak dan benar sehingga dapat mengalahkan dan menguasai kecenderungan – kecenderungan yang lain, maka akan menimbulkan kesengsaraan, dan ketidak stabilan di dalam hidup.

Di antara pengaruh-pengaruh itu adalah :

PENGARUH-PENGARUH POSITIF BAGI KECENDERUNGAN FARDIYYAH

Kecenderungan fardiyyah membawa pengaruh positif bagi diri seorang muslim dan kenyataan hisupnya, misalnya pada :              

Daya Analisa dan Nalar

Setiap muslim yang merasakan bahwa lalai terhadap pengamatan, atau analisa masalah di sekelilingnya dan dirinya, akan memberikan peluang bagi musuh-musuhnya untuk melakukan penindasan terhadapnya, padahal mereka itu termasuk orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan membangkang. Ia bias tersisih dan tertutup dari kehidupan yang selayaknya, sebagaimana diinginkan oleh setiap insan yang mengetahui akan hak kemanusiaannya, di dalam hidup di dunia ini, disamping ia juga akan mendapatkan murka Allah SWT dan siksanya.

Itulah mengapa Nabi SAW berkomentar dalam sabdanya ketika usai membaca bagian dari surat Ali Imran : (Sesungguhnya di dalam kejadian langit dan bumi serta pergantian antara siang dan malam … sampai firmanNya: Sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji), beliau SAW bersabda: Celakalah bagi orang-orang yang membaca ayat-ayat ini namun ia tidak memikirkan apa-apa yang dikandungnya. (Hadist ini cuplikkan dari hadist yang panjang sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya juz 1 hal. 440-441dari dua jalan: pertama dari Atha RA dengan kalimatnya yang berbunyi: “Berangkatlah aku, Ibnu Umar dan Ubaid Bin Umair pergi menuju Aisyah RA, lalu kami menemuinya, dan di antara kami dengannya ada hijab, dia berkata: Wahai Ubaid apa yang menghalangimu untuk menziarahiku ? Ubaid menjawab dengan mensitir ucapan seorang penyair: “Berziarahlah dengan tidak berlebihan, maka akan menambah rasa cinta dan kasih sayang”, lalu Ibnu Umar berkata: Biarkanlah kami berkata, kemudian ia bertanya kepada Aisyah : Berilah kami kabar tentang apa yang paling menarik dari yang engkau amati pada diri Rasulullah SAW, lalu Aisyah RA sambil menangis, ia berkata: segala sesuatu mengenai beliau adalah baik dan menarik, suatu malam beliau mendatangiku, hingga ketika kulit beliau menyentuh kulitku, beliau berkata: Biarkanlah aku mengabdi kepada Rabbku. Lalu Aisyah RA berkata : (Ya Rasulullah), Demi Allah sungguh aku suka engkau dekat padaku, (namun) sungguh aku lebih suka engkau mengabdi kepada Rabbmu. Kemudian beliau pergi menuju qirbah (tempat air terbuat dari kulit) mengambil air wudlu’, dengan air secukupnya. Lalu beliau melakukan Shalat, seraya meneteskan air matanya sampai membasahi jenggotnya, kemudian bersujud sambil menangis, sampai kemudian datanglah Bilal bin Abi Rabah untuk mengumandangkan azan subuh. Bilal bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah SWT telah mengampunimu semua dosa yang telah lalu maupun yang akan datang ? Berkatalah Rasulullah SAW: Wahai Bilal, apa yang menghalangiku untuk tidak menangis, sementara tadi malam Allah SWT menurunkan ayat berikut ini: Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi kaum Ulil Albab … ; kemudian beliau berkata:

“Sungguh celaka bagi yang membacanya, tetapi tidak memikirkan kandungannya. Dan dari jalan lain hadist ini berbunyi sama, namun Ibnu Katsir menyambungkannya kepada Mardawaih, ‘Abdu bin Hamid, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Hibban.

Karena itulah, seorang muslim apabila merasakan kecenderungan fardiyyah ia berusaha untuk berfikir dan merenungkan atau menganalisa setiap apa yang ada disekitarnya, atau yang ada di setiap yang melingkupinya, dalam rangka maksud tertentu dan mengambil manfaatnya, juga untuk mendapat Ridlo Allah SWT, kemudian dalam rangka memelihara eksistensi dirinya dan hasrat fardiyyah.

Melipatgandakan Semangat dan kesungguhannya:

Yang demikian itu dikarenakan bahwa setiap muslim mengetahui kerugian dari bermalas-malas dan mengabaikan setiap kesempatan, akan memberikan peluang kepada musuh-musuhnya (musuh-musuh Allah) berlaku sewenang-wenang, menindas dan menguasai dirinya, sebagai analisanya, sebab kehidupan ini berdiri di atas kompetisi dan penundukan, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:

“Cita-cita tidak diperoleh melalui angan-angan

Namun diperolehnya melalui penaklukan”.

Karenanya bisa jadi ia terhalang memperoleh kehidupan yang kokoh dan mulia, disamping tentunya telah melanggar perintah Allah dan RasulNya.

Sungguh Allah SWT telah berfirman:

Dan mereka yang berjuang di jalan Kami, maka sungguh Kami akan memberinya petunjuk kepada jalan-jalan kami” (Al Ankabut : 69)

“Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mendapatkan pengampunan Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi” (Al Hadid : 21)

Begitu pula sabda nabi SAW:

“Setiap orang yang mati ditetapkan perbuatannya seperti yang telah diamalkan kecuali bagi orang-orang yang mati sebagai pengawal perbatasan (negeri Islam) di jalan Allah maka amalan-nya terus bertambah hingga hari kiamat, dan mendapat keamanan dari siksaan kubur”[1])

Oleh karena itu seorang muslim yang ingin menyempurnakan fardiyyahny, ia harus berusaha keras mengoptimalkan tenaga dan kekuatannya untuk mewujudkan apa yang dicita-citakannya, bahkan ia harus bersusah payah untuk memperoleh kebahagiaan dirinya maupun bagi yang lainnya. Hal ini telah menjadi idaman setiap orang yang mulia disetiap tempat, tentunya untuk mendapat ridla Allah, barulah dalam rangka penjagaan eksistensi dirinya atau individualistisnya.

Memberikan Konstribusi dengan Menyampaikan Pendapat yang Akurat

          Seorang muslimin yang memahami bahwa  kehidupan yang penuh dengan persoalan, yang tidak bisa diselesaikan kecuali dengan memberikan sumbang pikir cara pemecahannya. Maka jika ia tidak memperdulikan hal itu, ia akan menghampiri berbagai kesulitan hidupnya. Oleh karena itu ia harus berusaha semampunya. Kemudian didorong oleh (ruh) agamanya untuk mempertahankan eksistensi dan hasrat fardiyyahnya guna memberikan sumbang pikir yang dapat menjawab dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Adanya Kemampuan untuk Menyelesaikan Persoalan Pelik dan Erat

          Bagi seorang muslim yang mengetahui akan adanya kesulitan dan rintangan berat yang menghadang jalan yang hendak ditempuhnya, yang bisa menggagalkan cita­citanya, ketinggian iradatnya dan kekuatan ‘azamnya (tekadnya), maka jelas ia harus mampu menjawab berbagai kesulitan tersebut. Jika tidak, maka ia akan tersisih dari kehidupan, disamping ia harus bertanggung jawab di hadapan Allah kelak di hari akhirat, sebab ia telah menjadikan dirinya tidak berjuang sungguh­sungguh, dan tidak melatih dirinya untuk bersabar.

          Allah SWT berfirman:

          “…mereka itu akan bersumpah dengan nama  Allah:  jikalah kami sanggup tentunya kami berangkat bersama­sama kamu, mereka membinasakan diri mereka sendiri” (At Taubat : 42)

          Tidak ada jalan lain, ia harus bersungguh­sungguh bekerja keras membela dan mempertahankan Dien­Nya, mempertahankan eksistensi dirinya­­ ia harus menghimpun cita­citanya, meninggalkan kemauan dan menguatkan tekadnya, sehingga ia memungkinkan untuk menjawab kesulitan­kesulitan dan taklif­taklif yang menghalangi jalan (kehidupannya). Dari sinilah, ia akan hidup terhormat dan memberikan pengaruh (positif)  dalam kehidupannya. Lebih jauh ia akan selamat kelak dari hisab dan tanggung jawabnya di akhirat.

Tegas dalam Hal Kebenaran, Menjaga Diri dari Kesombongan orang­orang yang congkak, dan Tipu Daya orang­orang yang Mempermainkan Ad Dien.

          Hal ini dikarenakan bahwa setiap muslim yang mengetahui akan bahaya “bungkam dan tidak tegas dalam kebenaran” dan menyepelekannya dalam menegakkannya setelah disampaikannya nasehat kebaikan, ia bisa tunduk tak berdaya dihadapan kebatilan dan ahli­nya, sehingga dengan semena ­ mena orang­orang sombong itu melecehkanna, begitu juga orang­orang yang mempermainkan agama. Yang pada gilirannya dapat meninggalkan kejahatan dan kerusakan di muka bumi ini.

          Tidak hanya itu, bahkan perbuatan yang ia lakukan, juga akan mengurangi kebebasan menghalangi dirinya untuk memperoleh kehidupan yang berwibawa dan mulia. Kemudian ia akan mendapatkan siksaan Allah SWT kelak di hari kiamat. Sebagaimana dinyatakan Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW sebagai berikut:

          Allah SWT berfirman:

          “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain tentulah bumi ini pasti telah rusak”                                    (Al Baqarah : 251)

          “Dan kalaulah Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara­biara, gereja­gereja, rumah ibadat orang Yahudi dan masjid­masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah” (Al Hajj : 40)

          Kemudian Rasulullah SAW bersabda:

          “Perumpamaan orang yang berdiam diri terhadap ajaran­ajaran Allah, dengan apa yang menimpa mereka, adalah bagaikan sekelompok orang yang sedang menaiki perahu, sebagian berada  di bagian papan bawah, dan sebagian lagi berada di bagian papan atas, maka orang­orang yang berada di bagian bawah melewati orang­orang yang di bagian atas ketika mengambil air. Karena tidak merasa enak melewati orang­orang yang berada di bagian atas itu, lalu mereka yang berada di bagian bawah  itu mengambil jalan pintas dengan melubangi perahu bagian bawahnya. Ketika itu orang­orang yang berada di atas mendatangi mereka yang berada di bawah itu sambil berkata: Kalian telah membuat kami terganggu, padahal kami sangat memerlukan air. Maka kalaulah orang­orang yang di atas menolong mengambilkan air untuk orang­orang yang berada di bawah, maka tidak saja menyelamatkan mereka sendiri namun juga menyelamatkan orang­orang yang berada di bawah. Tetapi jika tidak, berarti telah membinasakan diri mereka maupun orang­orang yang di bawah”[2])

          Selayaknya bagi seorang muslim itu senantiasa berusaha atas dorongan iman dan kepentingan pribadinya untuk tegar dalam menegakkan kebenaran, sehingga tidak menjadi bahan olok-olokan dan kesombongan bagi orang-orang yang congkak, yang tidak menyukai kebenaran.

Menjaga Diri dan Kehormatannya

Hal ini dikarenakan bahwa seorang muslim menyadari sikap acuh tak acuhnya (berpangku tangan) terhadap orang yang berlaku keterlaluan atas dirinya atau kehormatannya atau dalam hal hartanya, serta hak-hak lainnya, maka dia dijadikan dirinya sebagai bahan olok-olokan bagi orang yang menginginkannya. Kemudian ia terhalang dalam menjalankan tugas penyebaran risalah islamiyah di muka bumi, bahkan ia telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan Islam itu sendiri dalammembela diri, hak-haknya dalam kehormatan lainnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:

"Barang siapa terbunuh membela dirinya maka ia mati sebagai syahid, dan barang siapa terbunuh dalam rangka membela keluarganya atau darahnya atau agamanya, maka ia pun mati syahid"[3])

Berlaku Ta'at Terhadap yang Bukan Ma'syiat:

Yang demikian ini adalah karena setiap muslim beriman, ia itu harus menjadikan seorang Imam atau Amir atau waliyul Amri  yang berdiri di atas kepentingan agama – sebab kehadiran Imam ini sangatlah dibutuhkan dan menjadi keharusan, ini bisa dimengerti, sebab hanya dengannya segala perkara dapat diatur secara benar, dan kekacauan pun bisa dibasmi, sehingga kehidupan manusia mudah memperoleh berbagai kemanfaatan atau mengerahkan tenaga, waktu dan hartanya secara optimal.  

Seorang muslim harus yakin bahwa keta'atan ini merupakan syarat keberadaannya, selama bukan dalam hal kemaksiatan, guna menjauhkan kekeliruan-kekeliruan yang telah menjadi tabi'at bahkan untuk menjauhkan kesewenang-wenangan atau penindasan yang dapat membunuh kejantanan dan menginjak-injak martabat dan hak-hak serta kebebasan dan kemungkinannya. Disamping tentunya ia pun layak mendapat siksa Allah SWT dan balasanNya.

Untuk itulah, maka seorang muslim harus berusaha keras untuk mempertahankan (pertama) agamanya, lalu mempertahankan dirinya, melalui jalan penegakan keta'atan yang bertanggung jawab ini selama bukan dalam rangka kemaksiatan terhadap Allah SWT.

Mau Memberi dan Menerima Nasehat yang Baik :

Hal ini adalah karena seorang muslim menyadari bahwa kesalahan itu merupakan bagian dari tabe'at kemanusiaannya, dan bahwa menghilangkan kesalahan ini hanya bisa melalui pemberian nasehat kepada orang lain, dan bersedia menerima nasehat dari orang lain. Jika hal itu diabaikan, maka kesalahan pun bertumpuk-tumpuk, dan ini akan mendatangkan malapetaka dan kebinasaan.

Oleh sebab itu seorang muslim haruslah—mencari ridla Allah SWT, kemudian melindungi dirinya, dalam memberikan nasehat yang disertai dengan aturan dan adab-adabnya, dan bahkan ia pun mau bersedia menerima nasehat dari orang lain jika ia mengalami kesalahan, guna menaungi jiwa menjadi bersih putih dan sekaligus untuk menjadikan hidup ini baik dan bermakna.

Introspeksi Diri :

Hal ini dikarenakan seorang muslim, tidak bisa menutupi dirinya dari kesalahan, yang merupakan ciri kemanusiaannya. Kemudian ia itu tidak jatuh aib apabila melakukan kesalahan. Namun yang termasuk aib (cela) itu adalah apabila ia melakukan terus menerus. Ia pun menyadari sepenuhnya bahwa introspeksi diri itu merupakan satu-satunya jalan yang paling tepat untuk mengetahui aib-aib dirinya dan juga cacatnya lalu ia mengobatinya dan membersihkannya dari kesalahan tersebut, sebagaimana firman Allah SWT: 

Wahai orang ­orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri melihat terhadap apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” (Al Hasyr : 18)

Oleh karena itu seorang muslim harus berusaha keras mencari ridha Allah, (lalu) mempertahankan meng­introspeksi dirinya, agar ia tidak menumpuk­numpuk kesalahan, sebab yang demikian itu dapat menimbulkan kegelisahan jiwa (intern). Dan juga akan merusak kehidupannya.

B. PENGARUH ­PENGARUH POSITIF JAMA’IYYAH

          Demikian halnya jama’iyyah jika ia tumbuh di dalam jiwa secara proporsional sesuai dengan tuntutan, tidak berlebihan dan tidak berkurang, maka ia akan mempunyai pengaruh positif bagi eksistensi seorang muslim dan juga dalam realita hidupnya. Hal ini bisa nampak pada aspek berikut ini:

Mengetahui Akan Dirinya

          Maksudnya (bahwa kecenderungan jama’iyyah) itu dapat membantu seorang muslim mengungkapkan kepribadiannya dan apa­apa yang ada pada dirinya, baik menyangkut kesempurnaan, atau kuat­lemahnya. Walaupun ia pintar (atau) cerdas, maka kecerdasannya itu tidak akan mampu (atau sulit) mengenali dirinya sendiri secara detail dan menyeluruh. Ia hanya bisa mengenali dirinya itu melalui bantuan orang lain, dan melalui jalan inilah bisa mengungkap dirinya yang sementara ia sendiri tidak menyadari (tidak mampu) mengungkap kepribadiannya sendiri, baik menyangkut apakah ia itu suka mementingkan orang lain, egois, atau apakah ia suka tolong menolong. Ini hanya akan terungkap jika ia hidup di tengah­tengah jama’ah (masyarakat) dimana terjadi pergaulan sesama anggota masyarakat, dan saling memenuhi kebutuhan masing­masing, kemudian barulah ia melihat dirinya apakah ia itu berhati keras atau jumud? Sehingga ia menjadi rakus dan kikir!

Menjadi tak peduli dan egois, ataukan dengan cara yang lembut dan penuh santun? Sehingga ia suka berderma dan memberi! Sehingga ia mementingkan orang lain dan tolong menolong.

Demikian pula ia tak mungkin mengenali kepribadiannya, apakah ia penyabar dan tidak bersifat tergesa­gesa, atau mudah marah dan tergesa­gesa, kecuali jika ia berada di dalam satu jama’ah (masyarakat). Mungkin saja ia bertemu dengan klas masyarakat yang berada di bawah klasnya, apakah ia mesti menghadapi kekasaran lisan itu harus dengan kelembutan? Atau kekerasan hati mereka itu harus dihadapi dengan kasih sayang?  Dan disinilah ia bisa menjadi tabah dan tidak tergesa­gesa, atau menghadapinya dengan cara yang sama atau bahkan lebih keras lagi? Disinilah terkandung kita berlaku bodoh, mudah marah dan tergesa­gesa dalam mengambil tindakan.

Manusia tidak bisa mengendali dirinya, apakah ia itu pemberani atau penakut atau licik? Itu semua terjawab jika ia berada di tengah­tengah masyarakat (jama’ah) nya, lalu ia melihat di antara mereka yang berbuat salah. Kemudian ia memperhatikan dirinya, apakah ia rela mengatakan kepada yang melakukan kesalahan itu, bahwa kebenaran bukanlah yang kau katakana? Dan kebenaran bukanlah seperti apa yang kau lihat? Kebaikan itu bukan pula seperti yang kau lakukan, disinilah ia akan menampakkan sikap pemberani, atau justru ia berlaku pengecut untuk mengatakan seperti itu sehingga ia diam seribu bahasa.

Dan seperti itu manusia tidak mengetahui apa yang ada pada dirinya tentang kepribadiannya, apakah ia itu jujur, dusta, amanat atau hidup teratur, berantakan dan lain­lainnya, kecuali ia hidup di tengah­tengah jama’ah (masyarakat) menceritakan individu­individu yang ada di dalamnya atau mempercayakan harta, darah dan kehormatan mereka atau memberikan kepada mereka sebuah janji, atau memberi janji dengan suatu jaminan tertentu, kemudian merenungkan … apakah ia telah berkata pada mereka dengan sesuatu yang sesuai dengan kenyataan dan fakta? Maka ia menjadi jujur. Dan jika ia tidak sesuai maka ia termasuk orang pembohong, ataukah ia itu memelihara darah, harta dan kehormatan mereka? Ia akan termasuk orang yang bisa dipercaya ataukah justru berlaku menyimpang dan tidak memelihara darah mereka sehingga ia menjadi penghianat? Dan apakah ia itu bisa memelihara janji dan memenuhinya, sehingga ia menjadi orang yang teliti dan penuh perhatian? Atau ia menyepelekan dan berlaku serong, sehingga ia menjadi orang yang hilang kepeduliannya?

Demikianlah peranan sebuah jama’ah atau masyarakat bagi seorang muslim, yaitu sebagai medan uji­coba guna mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya apakah ia memiliki sifat sempurna, kurang, kuat ataukah lemah. Ini adalah perkara yang mudah untuk ia kerjakan, jika ia benar­benar sungguh­sungguh dan senang melakukannya karena terdorong oleh semangat keagamaan (iman) yang ada pada dirinya, sehingga ia melakukannya sesuai dengan pertumbuhan dan memperhatikan aspek­aspek kekuatan, serta meluruskan dan menyempurnakan aspek­aspek kelemahannya.

Nabi SAW telah banyak memberikan perhatian kepada peranan masyarakat, yaitu ketika beliau bersabda:

Orang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, dan orang mukmin itu saudara orang mukmin lainnya, ia harus memelihara apa yang dimilikinya dan mengawasinya dari belakang”[4])

Sabda beliau tersebut seolah mengingatkan kepada kita bahwa beliau berkata: cara terbaik bagi seorang mukmin/muslimuntuk mengenali dirinya tentang aibnya, faktor­faktor kekurangannya dan kelemahannya adalah tak lain dengan berjama’ah, karena itu ia bagaikan “tempat bercermin”.

Orang yang ingin mengetahui aibnya dan mengetahui kelemahan­kelemahannya, ia harus berusaha sungguh­sungguh memperbaiki dan membersihkannya (mendidiknya), seperti orang yang berdiri dihadapan cermin ketika melihat penampilannya.

Meluruskan Hal­Hal yang Menyimpang

          Maksudnya adalah perbaikan, pembersihan, dan pelurusan terhadap apa­apa yang mungkin ada pada dirinya, apakah berupa kekurangan, kelemahan ataukah penyelewengan. Karena masyarakat bisa banyak membantu melihat aib­aibnya seorang muslim, lalu ia melihat dirinya jika ia tidak melakukan hal itu akan mendatangkat peranan yang lain dari masyarakat itu yang sesuai untuk dia. Mungkin saja pada suatu ketika masyarakat itu bisa memberikan gambaran yang benar terhadapnya, dengan contoh­contoh keteladanan. Kadangkala menggunakan nasehat yang disertai dengan persyaratan dan adab­adabnya. Kadangkala juga dengan ejekan dan cemoohan. Bahkan dengan pengisolasian dan pemutusan hubungan untuk waktu tertentu.

          Demikianlah jama’ah menggunakan berbagai metoda dan media dalam mengembalikan kepribadian seorang muslim sebagaimana yang dituntut.

          Peranan jama’ah (masyarakat) seperti ini yang mendapat perhatian Nabi saw, seperti terlihat dari lanjutan hadits di atas:

          “ Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, jika mendapatkan dia bersalah, maka segeralah meluruskan. Atau tentang ucapan beliau: Agama adalah nasehat, serentak kita menjawab: bagi siapa wahai Rasulullah ? Beliau berkata: Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para Imam dan seluruh ummat Islam ini”[5])

          Terdapat pula pada sebuah atsar sahabat yang berbunyi:

          “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memberikan hadiah padanya teman yang baik, dikala lupa dia diperingatkannya”[6]

Memfungsikan Potensi yang Dimiliki :

          Penyaluran potensi dan pemanfaatan kecenderungan­kecenderungan dalam menjalakan keseimbangan dan kesempurnaan, dengan mengisi waktu­waktu senggang yang sering digunakan setan­setan ­­ manusia atau jin ­­ untuk menyelewengkan dan menyesatkannya. Hal ini dikarenakan bahwa manusia tersusun dari jasad, roh dan akal. Dimana roh dibekali dengan seperangkat kecenderungan atau instink yang mirip jaringan­jaringan yang halus dan saling berpasangan. Setiap dua kecenderungan itu berdampingan di dalam jiwa, dan keduanya pada suatu saat bisa berlawanan, seperti halnya: rasa takut dan berharap, cinta dan benci, kadang menatap keadaan dan hayal, kekuatan luar dan kekuatan batin, percaya pada hal­hal yang bisa dicerna, disiplin dan suka rela, fardiyyah dan jama’iyyah negatif dan positif , dan begitu seterusnya.

          Setiap pasangan kecenderungan ­­ seperti anda perhatikan ­­, yaitu keseimbangan dan saling berhadapan itu mengemban tugas dalam mengikat eksistensi manusia dalam kehidupannya. Dia seakan­akan seperti pasak­pasak yang berserakan yang mengikat sebuah struktur secara menyeluruh, mengikat dari setiap arah, namun pada suatu ketika bisa memperluas ruangnya, memperlonggar kehidupannya, tidak hanya terbatas pada kondisi tertentu, serta tidak pula pada level tertentu, sekalipun mewujudkan kesatuan dan saling melengkapi dalam kehidupan, seorang muslim wajib memberikan hak­hak pada kecenderungan itu, tanpa melebihkannya atau menguranginya.

          Jama’ah adalah satu­satunya tempat penyaluran potensi seorang muslim, sehingga menjadikan seluruh kecenderungan itu bekerja secara proporsional, seimbang. Semua itu agar bisa membentuk kepribadian yang serasi, seimbang dan saling melengkapi tanpa ada penyimpangan dan pembengkokan, dan tatap terpelihara dari tipu daya setan serta penyesatannya. Dan inilah barangkali yang diisyaratkan oleh Nabi SAW dalam sabdanya:

          “Hendaklah kalian itu berjama’ah, sebab setan itu bersama satu orang, dan dia dari dua orang adalah lebih jauh, dan barangsiapa menghendaki surga yang terbaik maka hendaknya dia itu iltizam terhadap jama’ah”[7])

Optimis dan Pantang Putus Asa :

          Maksudnya adalah memberikan kepercayaan diri dan optimis… yang demikian ini sebab seorang muslim yang bekerja secara sendirian untuk kepentingan Dinullah, dia itu selalu diliputi was­was pada dirinya (seakan dia bertanya­tanya): apa yang dapat aku lakukan dengan kesendirian ini, sementara musuh­musuh Allah ­­intern ummat maupun ekstern ummat­­ banyak jumlahnya, dan mereka memiliki strategi dan cara­cara yang keji serta membahayakan, disamping kini mereka itu memegang kendali dunia Islam? Senantiasa ancaman yang membahayakan ini menghantuinya, sementara alat untuk mengusirnyapun tak ada, sehingga menjalarlah rasa keputus asaan ke dalam seluruh jiwanya, lalu diapun meninggalkan aktifitas untuk kepentingan Dinullah.

          Adapun jika dia bekerja untuk kepentingan Dinullah melalui jama’ah, lalu datanglah perasaan seperti tadi, maka dia akan mampu mengusirnya sebab dia tidaklah sendirian di medan ini. Namun banyak orang lain yang berjalan di medan yang sama, diman mereka memiliki berbagai strategi, cara­cara dan memiliki seperangkat alat yang bisa diandalkan untuk menghadapi musuh­musuh mereka dan menghancurkan strategi dan tipu daya mereka.

          Demikianlah jama’ah telah memberikan ketetapan dan kepercayaan serta harapan bagi seorang muslim, sebab dia yakin bahwa pertolongan Allah akan datang, begitulah kepemimpinan dan kemenangan ada pada Dinullah SWT.

Memperbaharui Semangat dan Cita­Cita:

          Maksudnya memperbaharui semangatnya dengan hal­hal memperkuat cita­citanya, membangkitkan kemauan, dan melipatgandakan daya yang dimilikinya. Hal ini disebabkan oleh karena seorang muslim itu ketika menemui rasa malas dan keputus asaan, disebabkan oleh beratnya beban yang ditanggung, jauhnya jalan yang harus ditempuh, atau beratnya pekerjaan, maka manakala dia bertemu dengan kawan­kawannya yang tampak pada wajah mereka itu cahaya keta’atan, melihat begitu khusyu’­nya mereka, dan begitu semangatnya menghadap Allah, maka hilanglah segala kemalasan dan keputus asaannya, dan timbullah rasa semangat baru, segar dan giat serta melipatgandakan daya yang dimilikinya yang seakan dia tidak bekerja untuk kepentingan Dinullah sebelumnya.

          Hal ini Nabi SAW telah mengisyaratkan peranan seperti ini ketika beliau bersabda:

          “Maukah aku berikan berita pada kalian tentang sebaik­baik manusia? mereka menjawab: Ya; bersedia ya Rasulullah. Kemudian beliau berkata: Yaitu orang yang bila dilihat dapat mengingatkanmu kepada Allah Azza wa Jalla”,[8])

Memperoleh Pengalaman­Pengalaman dan Percobaan­Percobaan:

          Maksudnya adalah memeberikan kepada seorang muslim, dengan berbagai pengalaman atau percobaan yang dapat membantunya, bilamana dia sedang menghadapi hambatan­hambatan atau kesulitan­kesulitan diperjalanannya… demikian itu disebabkan oleh jalan dia yang harus ditempuh dalam menegakkan Dinullah penuh dengan berbagai rintangan dan penuh bahaya, seorang muslim yang baik dan berpikiran luas adalah yang memiliki berbagai pengalaman dan percobaan. Dengan bekal itu semua, dia bisa mampu mengatasi berbagai rintangan dan selamat dari bahaya­bahaya.

          Tidak ada medan yang lebih leluasa dan baik dalam memperoleh pengalaman­pengalaman dan percobaan­percobaan itu kecuali jama’ah.  Sebab dalam jama’ah (masyarakat) itulah seorang muslim bisa mengenali tindakan dan tingkah laku setiap individu yang hidup didalamnya, daripada dia hidup sendirian.

Tolong Menolong dalam Rangka Memperteguh Manhaj Allah di Muka Bumi

          Maksudnya adalah tolong menolong dalam hal pelaksanaan kewajiban Allah SWT, seperti halnya kewajiban seorang muslim terhadap Allah adalah: Menyeru kepada Agama ini, berjihad pada jalanNya sehingga kokoh berdiri di muka bumi, sehingga berkibar tinggi benderanya di alam raya ini. Dan seorang muslim tidak akan mampu melakukan kewajiban tersebut secara sendirian, namun haruslah dia memerlukan bantuan kawan­kawan yang memperkuat ikat pinggangnya dan membantu dalam urusannya. Bukti kecil yang bisa menjelaskan hal ini, misalnya: sepotong roti, sekalipun kecil, ia baru sampai kepada seseorang setelah melalui sekian banyak orang yang terlibat di dalam proses produksi dan peredarannya, dari mulai mempersiapkan, memproduksi hingga menghidangkannya.

          Bagi yang masih ragu, silahkan bertanya pada dirinya: siapakah yang membajak tanah? siapakah yang menaburkan biji­bijinya? siapa yang menyiraminya dengan air? Siapa pula yang menyiangi rumput­rumput yang membahayakan pertumbuhannya? Dan siapa yang memetiknya? Siapakah yang membersihkannya? Siapa yang memindahkan ke tempat penggilingan? Lalu siapa yang membuatnya menjadi roti? Siapa yang membuat adonan? Siapa pula yang menyajikannnya kepada kita? Siapakah … dan siapakah …? Ini semua masih diseputar peranan manusia, belum lagi peranan alam disekitarnya, seperti: matahari, udara, air, tanah dan unsur­unsur lainnya, dan di atas semua itu adalah Allah ‘Azza wa jalla, sebagaimana firmannya:

          “Maka terangkanlah yang kamu tanam kepadaKu, kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?” (Al Waqi’ah : 63­64)

          Atas semua itu, maka siapa yang mendakwakan dirinya mampu melakukan itu secara sendirian ­­­ membuat roti­­­ kecil lagi sederhana maka dia akan mampus sebelum roti itu terwujud.

          Jika demikian halnya, terhadap persoalan sepele­­ seperti membuat roti saja­­ seseorang itu tak mampu melakukannya sendirian, apalagi persoalan yang menyangkut had (hokum dan ketentuan) Allah ­­ perkara da’wah dan jihad pada jalanNya ­­ dalam rangka melindungi Manhaj Allah dan mengokohkannya di atas bumi. Oleh karena itu menjadi perhatian Allah SWT akan hal ini, ketika dia berfirman:

Hendaklah ada di antara kamu sekalian umat yang menyeru pada kebaikan, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah termasuk orang-orang beruntung” (Ali Imran: 104)

“Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu semata-mata milik Allah”. (Al Anfal: 39)

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu pada jalan Allah…”   (At Taubat : 41)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang yang beriman, dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki” (At Taubah: 14-15)

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu…” (Al Hajj: 78)

Menjaga Kewibawaan dan Kemuliaan

Maksudnya adalah menjaga kewibawaan, kehormataan dan kemuliaannya, sehingga musuh-musuh tidak akan berani mengganggu atau berlaku sewenang-wenang terhadap darah, harta dan kehormatan, karena sesungguhnya Jama’ah kaum muslimin baginya merupakan pembela dan penolong. Sekalipun musuh-musuh itu melakukan gangguan dan menyakitinya, maka tentu saudara-saudaranya seiman (satu jama’ah) akan merapatkan barisan dan melawan kezhaliman mereka. Hal ini pernah terjadi ketika orang Yahudi bani Qainuqa’ menginjak-injak kehormatan seorang muslimah dan pengusiran Nabi SAW terhadap mereka, atau seperti terjadi ketika seorang Romawi menampar seorang muslim di ‘Amuriyah, lalu dilaporkan kepada khalifah Al Mu’tashim Al ‘Abbasi, maka Khalifah mempersiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk memberi pelajaran bagi perbuatan mereka itu.

Inilah posisi seorang muslim manakala ia berada di tengah-tengah jama’ah (yang kuat). Namun jika ia sendirian maka tentu musuh-musuhnya akan mengincarnya dengan segala cara dan akan membuat tipu daya atau makar dengan segala kekuatan dan semua media yang mungkin.

Dan inilah sebenarnya yang menjadi missi utama musuh-musuh Islam untuk selalu menginginkan kaum muslimin itu dalam kondisi terpecah-pecah. Dan mereka yakin betul bahwa satu-satunya cara untuk menguasai kaum muslimin, menghinakannya, merampas hartanya dan hasil buminya adalah dengan menjadikan kaum muslimin itu berselisih dan berpecah-pecah.

Di antara semboyan yang selalu mereka slogankan adalah:

“Pecah belah-lah mereka – kaum muslimin – tentu anda akan dapat menguasainya”.

Berdasarkan faktor yang hakiki ini kita dapat memahami tujuan dari perintah Allah SWT untuk tetap berjama’ah dan menjalin persatuan ummat serta menjauhi perpecahan dan perselisihan yang membahayakan.

Allah SWT berfirman: 

“Dan berpeganglah kamu semua pada tali Allah (Dinullah) dan janganlah kamu bercerai berai” (Ali Imran: 103)

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan yang jelas, mereka itulah orang­orang  yang mendapat siksaan yang berat” (Ali Imran: 105)

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan Rasul­Nya janganlah kamu berbantah­bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (Al Anfal: 46)

Membuat Pintu Pahala dan Ganjaran

          Maksudnya adalah membuka berbagai peluang untuk memperoleh ganjaran dan pahala bagi seorang muslim jika ia berada di tengah­tengah jama’ah. Sebab di dalamnya ia akan mendapat berbagai kesempatan dan lapangan yang bisa diperoleh tambahan pahala dan ganjaran. Sehingga ia bisa mengucapkan salam sesama mukmin, menasehati mereka, memenuhi seruan mereka, mendo’akan bagi yang bersin, mengunjungi yang sakit, melawat yang mati, menanyakan yang tidak hadir, mengantarkan yang bepergian, menjemput yang datang, memenuhi hutang piutang yang membutuhkan, melapangkan kesulitan mereka, memberi hadiah kepada mereka, menerima hadiah dari mereka, membimbing mereka, mengajari mereka yang jahil, dan belajar dari mereka yang pintar… dst. Inilah segi­segi kesempatan­kesempatan yang bisa mendatangkan pahala dan ganjaran ­­ jika mereka berada dalam jama’ah kaum muslimin­­ Namun jika seorang muslim itu sendirian (tanpa mau berjama’ah), maka mungkin ia bisa melakukan perbuatan­perbuatan seperti itu? kesempatan­kesempatan itu tertutup dan terkunci rapat­rapat.

Layak mendapat Pertolongan Allah SWT

          Maksudnya bahwa dengan berjama’ah itu, layak baginya untuk memperoleh pertolongan dan pembelaan Allah SWT. Hal ini dikarenakan bahwa kaum muslimin sekalipun mereka itu banyak jumlahnya, sekalipun kuat persiapan mereka, tetaplah bahwa mereka itu membutuhkan pertolongan Allah, Dia­lah yang menciptakan segala sesuatu dan segala urusan ada di tangan­Nya, terlebih lagi disaat kaum jahiliyah telah mengendalikan kuat­kuat dalam segala sisi kehidupan dan di segala tempat. Dimana dunia islam pun berada di bawah kendali mereka, dan tiada lagi tempat yang bisa membuat kita bernapas dengan lega, sunatullah telah berjalan… dan pertolongan Allah itu tidak akan turun kecuali melalui pengorbanan dan rela memikul amanat taklif. Sedangkan bentuk pengorbanan dan beaban yang mesti pikul adalah: orang muslim hendaknya berjuang menghadapi jiwa dan hawa nafsunya … serta selalu berada dalam satu jama’ah, sebab dengan jama’ah itulah seorang muslim dapat menunaikan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

          Mafhum seperti ini telah menjadi perhatian Nabi SAW ketika bersabda:

                                      “Tangan Allah bersama jama’ah”[9])



[1])   HR turmudzi di dalam kitab sunannya, kitab Fadlail Jihad, bab keutamaan orang yang mati dalam mengawal pertahanan perbatasan (murabith) pada jalan Allah, 4/165 hadist no. 1621, hadist Fudlolah bin ‘Ubaid, hasan Shohih.
[2]) HR Bukhari, bab berbagai kesulitan, kitab Asy Syahadah
[3])    HR Abu Daud dalam kitabnya,  As Sunan,  pada kitab As Sunah, bab: orang yang mati dibunuh karena mencuri , 4/246 No. 41772; Imam Turmudzi di dalam As Sunan, kitab Ad Diyat, bab: tentang orang yang  terbunuh karena mempertahankan hartanya adalah mati syahid, 4/30, No. 1421,  keduanya dari hadits Sa'id bin Zaid Marfu', lapadz oleh Abu Daud. Dan Imam Turmudzi menyatakan diakhir riwayatny,  hasan shahih 
[4] ) HR Abu Daud, di dalam As Sunan, Kitab Al Adab, bab tentang nasehat, 4/280 No. 4918dari hadits Abu Hurairah, Marfu’.

[5]) HR Imam Daud dalam sunan­nya, kitab Al Adab. bab nasehatdan pengawasan, No. 280, dari Abu Hurairah dengan sanad marfu’

[6])  Atsar seperti ini belum kami temukan, namun Abu Daud menyebutkan dalam Sunannya, pada kitab Al Imarah, bab menjadikan seorang menteri dari haditsnya Aisyah yang marfu’ dengan bunyi kalimat: jika Allah menghendaki seorang Amir yang baik maka dijadikan baginya seorang menteri yang berlaku benar, mengingatkannya bila lupa dan membantunya dikala tidak lupa. Alhadits dan diriwayatkan pula oleh Imam An Nasa’i dalam sunan­nya, pada kitab al­Basi’ah, bab menterinya seorang imam, 7/159 dari hadistnya Al Qasim bin Muhammad dari bibinya, Aisyah RA, dengan sanad marfu’ yang berbunyi: “Barang siapa di antara kamu sekalian mengemban tugas Allah, baginya kebaikan, maka Allah menjadikan baginya pembantu yang shalih, jika ia lupa diingatkannya dan apabila dalam keadaan ingat dibantunya”, tapi dalam sanad hadits ini terdapat Baqiyyah yang mana keadaannya telah dikenal.

[7] ) HR Turmudzi dalam sunannya: 9/10, pada catatan pinggir kitab ‘ Aaridlah al­Ahwadzi, dari hadits Ibnu Umar RA. Marfu’ di akhir riwayatnya ia berkata: hadist ini adalah hasan shohih, ghorib dari jalur ini).

[8] ) HR Ibnu Majah dalam sunannya, kitab Az Zuhud, bab orang yang tak perlu dihargai, 2/1379 No. 4119, dari hadits Suwaid bin Sa’id RA berkata: menceritakan padaku Yahya  bin Salim dari Abi Khutsaim dari Syahr bin Khusyab dari Asma bin Yazid RA bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Maukah aku ceritakan kepadamu sekalian tentang orang-orang yang paling baik di antara kamu? Mereka menjawab: Ya.. wahai Rasulullah, beliau berkata: sebaik orang-orang dari kamu adalah orang yang bila dilihat bisa mengingatkan kepada Allah Azza wa Jalla, dan dikeluarkan oleh Al Bushori dari kitabnya: Misbah az zujajah fi zawaid Ibnu Majah: 4/125, kemudian berkata : Sanad hadits ini baik, dan syahr serta suwaid keduanya diperselisihkan, sedang rawi-rawi yang lainnya semua dapat dipercaya, diriwayatkan oleh abu bakar abi syaibah dalam musnadnya, dan juga ‘Abd bin hamid dalam musnadnya, dan Abu Ya’la al –Mushily dalam musnadnya, dari jalur Syahr bin Khausyab).
[9] ) HR Turmudzi di dalam kitabnya As sunan, 4/466,  No. 2166 dari hadits Ibnu Abbas RA, Mafru’ juga dari Imam An Nasa’i di dalam As Sunan-nya kitab tahrimuddam, bab Qatlu man faaroqal  jama’ah, 7/92-93    

[Baca...]



BAB SATU ; URGENSI FARDIYAH DAN JAMA`IYAH BAGI MANUSIAH

Kecenderungan individualistik (fardiyyah)merupakan kecenderungan seseorang untuk lebih mementingkan diri sendiri, memelihara keberadannya, kebebbasannya dan kepentingannnya. Adapun kecenderungan sosialistik (jama’iyyah) merupakan kecenderungan hidup berkelompok dalam sebuah jama’ah, dimana kecenderungan tersebut merupakan bagian dari kecenderungan utama yang selalu ada secara berpasangan dalam hidup manusia.

          Masing ­ masing kecenderungan itu, ada yang menjadi pasangan bagi lainnya, dan ada pula yang berlawanan, sebagaimana terbukti dalam kenyataan hidup manusia sehari­harinya.

          Dapat kita saksikan bahwa anak kecil semenjak kuku­kuku jarinya masih lunak, ia telah timbul keinginan berusaha mempertahankan kehendaknya terhadap sesuatu, ia juga memiliki kecenderungan untuk bergaul bersama teman­temannya yang sebaya, mewujudkan kemauan bebasnya, yang sering membutuhkan pengorbanan, dan terkadang harus mengalah atas sebagian yang dimilikinya. Sebab hanya dengan demikianlah ia bisa hidup dengan teman­temannya.

          Demikian pula anda dapat saksikan pada sebagian nash­nash syar’iyyahyang berbicara tentang persoalan manusia menyangkut aktifitasnya, baik yang bersifat fardie maupun jama’i. Antara lain tersebut di dalam firmanNya:

“Dan setiap manusia kami tetapkan perbuatannya seperti tetapnya kalung pada leher dan kami keluarkan dia pada hari kiamat yang baginya sebuah kitab dijumpainya dalam keadaan terbuka, bacalah itu, dan cukuplah diri sebagai penghisab terhadap dirimu” (Al Isra’:13).

“Dan orang berdosa tidak akan memikul dosa yang lain dan bila seseorang yang merasa berat dosanya memanggil (orang lain) untuk menanggungnya maka tidak akan dipikulkan sedikit pun walaupun (yang dipanggil) itu keluarganya” (Fathir : 18)/

“Dan tak ada yang diperoleh manusia itu kecuali dari apa yang telah diusahakan, dan sesungguhnya akan diperlihatkannya kelak, kemudian di balas dengan balasan yang sempurna” (An Najm: 39­45).

“Setiap manusia terhadap apa yang telah dilakukannya adalah bertanggung jawab” (Ath Thur: 21)  

“Setiap manusia pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya” (‘Abasa: 37).

“Bahkan manusia pada hari itu sebagi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasannya” (Al Qiyamah : 13 ­14)

          Semua merupakan nash Al Qur’an yang berkaitan dengan kecenderungan individualistik (fardiyyah).

          Adapun yang berkaitan dengan jama’iyyah maka Allah SWT berfirman:

“Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah, sekiranya ahli­kitab beriman tentulah ia lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang mukmin dan kebanyakan mereka itu orang­orang yang fasik” (Ali Imran : 110)

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang­orang dzalim saja di antara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaannya” (Al Anfal : 25).

“Wahai orang­orang yang beriman; perangilah orang­orang kafir yang ada disekitarmu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu”  (At Taubah : 123).

“Wahai orang­orang yang beriman; jika kamu menolong (Din*) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukan mu” (Muhammad : 7)

“Dan jika ada dua golongan dari orang­orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya, kalau salah satu dari mereka itu berbuat aniaya pada golongan lain, maka perangilah golongan aniaya itu sehingga golongan itu kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah sesungguhnya Allah menyukai  orang­orang yang adil” (Al Hujurat : 9)

          Setiap kecenderungan­kecenderungan yang saling berpasangan ini, baik yang saling menguatkan atau yang berlawanan, jika diarahkan kepada jalan yang baik, dan secara proporsional, tetap dan benar, maka dapat berpengaruh secara positif dan tepat guna pada jiwa dan kehidupan manusia. Namun jika unsur­unsur itu dibiarkan berjalan tanpa arah yang benar, menyimpang dari perjalanannya yang bena, maka dapat menimbulkan kegoncangan dan konflik batin, yang berlanjut pada akibat timbulnya keragu­raguan dan ketidak stabilan di dalam kehidupan diri manusia.

          Prof. Dr. Mohammad Quthb berkata:

           Fardiyyah dan jama’iyyah merupakan bagian dari jaringan­jaringan yang terdapat pada diri manusia. Dan kedua kecenderungan ini meskipun kontradiktif namun mempunyai keterikatan kuat satu sama lain, seperti perasaan manusia pada unsure ego­nya. Dan juga kecenderungan untuk hidup berkelompok, bermasyarakat, fakta demikian ini memiliki andil sangat besar dalam kehidupan manusia … dan struktur masyarakat adalah berdasar usaha mempersatukan kedua kecenderungan tadi, setiap dari keduanya adalah bersifat asasi dan esensi, konflik batin pun terjadi, sebagaimana terjadi sikap ragu­ragu di dalam kenyataan hidup, ketika ukuran yang ditetapkan pada orang tertentu dilanggar (terlampaui batasnya), lalu menyimpang dari jalannyadan melewati batas­batas dari yang lain, akan tetapi jika keduanya jalan pada tempatnya yang benar, maka tidaklah terjadi konflik pada individu maupun masyarakat, dan tidak pula terjadi perselisihan”[1])

          Agar pembicaraan kita ini tidak bersifat verbalistis, maka seyogyanya kita memasuki pembahasan menyangkut pengaruh­pengaruh atau akibat­akibat yang positif maupun negatif terhadap seorang muslim dan juga kehidupannya dari setiap kecenderungan Fardiyyah maupun Jama’iyyah.



[1]) Manhaj At Tarbiyyah al­islamiyyah, Mohammad Quthb : 1/162­163


[Baca...]




MEMBENTUK KEPRIBADIAN MUSLIM
DR. SAYYID MUHAMMAD NUH

SEIMBANG ANTARA  FARDIYYAH – JAMAIYYAH DALAM MANHAJ ISLAM
FARDIYAH DAN JAMA`IYAH (KECENDERUNGAN INDIVIDUALISTIS DAN SOSIALISTIK) BAGI MANUSIA
Oleh: Dr. Sayyid Muhammad Nuh; Daar al Wafa' Lith Thaba`ah wan Nasyr wat Tauzi` al Manshurah, 1409 H; Terjemah (Th. 1993; Wala' Press Jakarta-Bekasi): Abu Fahmi; editor: Deden Abdul Kohar; Updated (Desember 2011)  : Aan Hasanah, S.Pd.

MUKADDIMAH 

                Tak diragukan lagi, terutama bagi orang yang berakal sehat, bahwa manusia ­­ seperti halnya mahluk lain ­­ adalah ciptaan Allah SWT, akan tetapi manusia diciptakannya sebagai pemimpin di dunia ini, disamping statusnya sebagai hamba dihadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Dan tak kala Rabbmu berkata kepada malaikat; sesungguhnya Aku menciptakan bumi seorang khalifah …” (Al Baqarah : 30).
“Dialah yang menciptakan kamu sekalian dari tanah kemudian menyuruhmu untuk memakmurkannya …” (Huud : 61).
“Sesungguhnya aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada­Ku” (Adz Dzariyat: 56).
          Agar manusia mampu mengemban tugas kekhilafahannya ini­­ yang kami maksudkan adalah tugas kepemimpinan dalam kapasitasnya sebagai ujud ubudiyyah yang sempurna kepada Allah Rabb semesta alam, Allah SWT telah membekali mereka sejak awal penciptaannya dengan memberinya faktor­faktor yang memungkinkan manusia biasa melakukan tugas tersebut, yaitu berupa komponen: fisik, otak dan roh; atau materi, jiwa dan makna.
Allah SWT berfirman:
“Dzat yang menjadikan sesuatu dengan sebaik ­baiknya, maka Dia memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian menjadikan keturunannya, terbuat dari setetes air yang hina (mani), lalu Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh ciptaanNya, dan Dia juga membuat bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. Namun sedikit sekali diantara kamu sekalian yang bersyukur” (As Sajdah : 7 ­ 9)
          Kemudian jiwa atau hati itu dibekali oleh Allah dengan seperangkat kecenderungan ­ kecenderungan (ghorizah) menyerupai garis halus yang saling berhadap­hadapan dan berpasangan, setiap dua kecenderungan yang berdekatan dalam jiwa, pada suatu saat keduanya bias saling berlawanan, sebagaimana halnya: rasa takut dan berharap, suka dan benci, melihat dalam kenyataan dan menghayal, kekuatan inderawi dan non inderawi, yang riil dan yang abstrak, kepercayaan yang dapat dicerna oleh inderawi dan yang tak dapat dicerna oleh inderwai. Cinta kepada rela berbuat, baik yang negatif maupun yang positif, tinggi hati dan rendah hati, sikap keras dan lembut … dst.
          Semua kecenderungan tersebut yang saling berpasangan ini, memegang peran penting dalam hal pembentukkan eksistensi manusia. Mereka itu bagaikan pasak­pasak yang tersebar,  namun saling berpasangan untuk membuat dan memperkokoh suatu bentuk dengan ikatan­iktannya yang saling menguatkan satu sama lain dari semua segi. Walaupun demikian semuanya mempunyai kelonggaran untuk dijaga, diperbaiki dan Allah telah berfirman:
ونفس وما سوّ ـها فالهمها فجورها وتقوـها
“Dan demi jiwa dan apa yang menyempurnakannya (ciptaannya) maka mengilhamkan pada jiwa itu jalan kedurhakaan dan ketaqwaan” (Syams: 7 ­ 8).
          Disamping itu pula, kecenderungan yang berpasangan tersebut, tidak bias melaksanakan tugas dan fungsinya kecuali bila dipelihara keseimbangannya sehingga tidak melampaui batas ketentuan semestinya. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Allah dalam firmanNya:
 قد أفلح من تزكى .  قد أفلح من زكاها   
“Sesungguhnya telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya” (Al A’la : 14 dan Asy Syams : 9)
          Hal itu pula yang menjadi perhatian Ibnu Mas’ud RA ketika ia berkata:
خالط الناس ودينك ولا تكّلمنّه
“Bergaullah kamu dengan ummat manusia dan agamamu jalankanlah sebagaimana mestinya, namun janganlah kamu sekali­kali membuat agamamu cacat.[1])



[1]) Risalah Al Islah, oleh Syekh Muhammad Khidir Husain, 1/110).

[Baca...]