TAKDIR DAN KEHENDAK ALLAH SERTA CARA MENGHADAPINYA
Tanya Jawab Aqidah Ahlus sunnah, Syaikh Hafizh al Hakami
134.Tanya:
Dalil-dalil apa saja yang menegaskan keimanan terhadap takdir?

Jawab:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“... karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan ...”(Al Anfaal: 44).
“... dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (Al Ahzaab: 37).
“... dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (Al Ahzaab: 38).
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya ...”(Al Hadiid: 22).
“Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, Maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah ...”(Ali ‘Imraan: 166).
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun’. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(Al Baqarah: 156-157).
Masih banyak ayat Allah yang berhubungan dengan masalah takdir, sebagaimana juga terdapat didalam hadits Jibril ‘alaihissalam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab masalah tentang iman: “... dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”(Muttafaq ‘alaih). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula:
“Ketahuilah, bahwa apa yang pasti akan menimpa kamu tidak akan meleset darimu dan apa yang tidak menimpamu tidak akan mengenaimu.”
“Dan jika suatu musibah menimpamu, maka janganlah engkau berkata: ‘Jika aku berbuat begini tentunya akan begitu dan begitu.’ Namun, katakanlah bahwa Allah telah menentukan takdir, dan apa-apa yang Dia kehendaki, maka Dia melakukannya.”
“Segala-galanya telah ditetapkan dengan suatu ketetapan (takdir yang tidak dapat diubah lagi), hingga pada persoalan kelemahan (ketidakmampuan) dan kemampuan (kecerdikan) kita.”(HR. Muslim).

135. Tanya:
Ada berapa tingkatan iman terhadap takdir itu?

Jawab:Iman terhadap takdir itu ada empat tingkatan. Pertama, mengimani ilmu Allah yang meliputi seluruh persoalan. Tak ada satu pun yang terlewat dari jangkauan ilmuNya sekalipun seberat atom yang ada dilangit maupun dibumi. Dia mengetahui seluruh ciptaanNya sebelum ciptaanNya Dia ciptakan, Dia mengetahui rezeki, ajal, perkataan, perbuatan, gerak-gerik dan diam, rahasia dan pengungkapan seluruh makhluk ciptaanNya, Dia pun mengetahui siapa diantara makhluk ciptaanNya yang akan masuk surga dan yang akan masuk neraka. Kedua, mengimani ketetapan catatan yang ada didalamnya terdapat data seluruh aktifitas makhluk ciptaanNya. Dialah yang mengadakan semuanya. Hal itu semua merupakan ukuran kadar keimanan kita terhadap Lauhul Mahfuzh dan Al Qalam. Ketiga, mengimani segala kehendak Allah (Masyiatullah) yang terlaksana dan kodratNya yang menyeluruh, baik menyangkut hal yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Semua peristiwa terjadi atas kehendak dan kodratNya. Segala yang Dia kehendaki akan terjadi dan segala yag tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“... dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.”(Faathir: 44).
Keempat, mengimani bahwa Allah subhanahu wata’ala adalah Pencipta segala sesuatu yang ada. Karenanya, tak ada sesuatu pun dilangit maupun dibumi atau yang ada diantara keduanya melainkan Allahlah penciptanya. Dia pula yang menciptakan segala bentuk aktifitas dan diamnya. Tiada Pencipta selain Dia; tak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia.

136.Tanya:
Apa yag menjadi dalil beriman terhadap seluruh ilmu Allah?

Jawab:
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”(Al Hasyr: 22).
“... dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.”(Ath Thalaaq: 12).
“... Katakanlah: ‘Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)’.”(Saba’: 3).
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) ...”(Al An’aam: 59).
“... Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan ...”(Al An’aam: 124).
“... ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?’.”(Al An’aam: 53).
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”(An Nahl: 125).
“... Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?”(Al ‘Ankabuut: 10).
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (Al Baqarah: 30).
“...Dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(Al Baqarah: 216).
Didalam hadits shahih dikatakan:
Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Apakah sekarang ini sudah bisa diketahui mana ahli surga dan mana ahli neraka?’ Rasulullah bersabda, “Ya”, lalu laki-laki itu bertanya lagi, ‘lalu untuk apakah orang beramal?’ Rasulullah menjawab, “Setiap orang beramal untuk apa yang telah dijadikan Allah baginya, atau untuk mencapai apa yang dimudahkan Allah baginya.”(HR. Bukhari-Muslim).
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang anak-anak kecil golongan musyrik, beliau bersabda:
          “Allah telah mengetahui tentang apa-apa yang mereka perbuat.”
Kemudian, didalam hadits Muslim lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah menciptakan bagi surga (itu) penghuninya, Allah menciptakan mereka untuk mengisi surga sejak mereka berada didalam tulang rusuk bapak-bapak mereka. Dan Allah juga menciptakan bagi neraka (itu) penghuninya, dan Allah menciptakan mereka untuk mengisinya sejak mereka berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda didalam hadits-hadits lainnya:
“Sungguh adakalanya seorang mengerjakan amal ahli surga pada lahirnya dalam pandangan sementara orang, padahal dia ahli neraka. Dan adakalanya seorang mengerjakan amal ahli neraka pada lahirnya menurut sementara orang yang menyaksikannya, padahal dia ahli surga.” (HR. Bukhari-Muslim).
          Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ketika kami mengikuti jenazah di Baqi’ Al Ghardad, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dan kami mengelilinginya. Beliau mengorek-ngorek tanah dengan tongkat kecil yang dipegangnya seraya bersabda, “Tiada seorangpun dari kalian, bahkan tiada suatu jiwa manusia melainkan sudah ditentukan tempatnya disurga atau neraka, nasib buruk atau baik.’ Kemudian seorang diantara yang mengelilingi beliau bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah tidak lebih baik kita menyerah saja pada ketentuan itu dan tidak usah beramal. Jikapun dia untung, dia akan sampai pada keberuntungannya, jika pun celaka, dia akan sampai pada kebinasaannya,’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Adapun orang yang bakal untung maka akan diringankan untuk mengamalkan perbuatan ahli sa’adah (yang berbahagia), sebaliknya jika dia celaka, maka ringan untuk melakukan perbuatan yang membinasakannya.’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.(Al Lail: 5-10).

137.Tanya:
Apa yang menjadi dalil keimanan kepada catatan yang ada di Lauhul Mahfuzh?

Jawab:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“... Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).”(Yaasiin: 12).
“Berkata Fir'aun, ‘Maka Bagaimanakah Keadaan umat-umat yang dahulu?’ Musa menjawab: ‘Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab (Lauhul Mahfuzh), Tuhan Kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa’.”(Thaahaa: 51-52).
“... Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”(Faathir: 11).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidak ada seorangpun diantara kamu melainkan tempatnya telah ditentukan Allah subhanahu wata’ala, disurga atau dineraka. Dan telah ditetapkan oleh Allah sengsara atau bahagia.”(HR. Muslim).
Suraqah bin Malik berkata kepada Rasulullah:
‘Wahai Rasulullah, jelaskan kepada kami tentang dien (agama) ini, apakah kita diciptakan sekarang sesuai dengan amal hari ini; apakah semua sudah ditetapkan dan ketetapan telah ada di Lauhul Mahfuzh; apakah berkaitan dengan yang akan datang?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tidak, bahkan urusan itu (amal yang kita perbuat) telah tertera (di Lauhul Mahfuzh) dan kita berjalan menurut ketetapan tersebut.” Lalu Suraqah berkata lagi, ‘Lalu apa gunanya kita beramal?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Beramallah kalian, sebab semuanya dimudahkan (didalam riwayat lain dikatakan setiap yang melakukan perbuatan itu diringankan untuk mengerjakannya).”

138.Tanya:
Ada berapa takdir yang masuk dalam tingkatan iman terhadap Lauhul Mahfuzh ini?

Jawab:
Semuanya ada lima jenis takdir dan semuanya kembali kepada ilmu Allah. Pertama, catatan ketetapan setiap makhluk yang sudah Allah tetapkan 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, yaitu ketika Allah menciptakan Al Qalam sebagai takdir azali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Allah ta’ala telah menetapkan segala ketetapan (takdir) bagi seluruh makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi; dan (ketika itu) ‘Arsy Allah ta’ala berada diatas air.”(HR. Muslim).
Kedua, takdir umuuri (seumur hidup), yaitu tatkala makhluk diambil sumpah janjinya ‘alastu birabbikum’ (bukankah Aku ini Rabbmu?). Ketiga, masih takdir seumur hidup tatkala Allah menciptakan nuthfah (setetes mani) dirahim. Keempat, takdir Al Hauli (tahunan), yaitu pada setiap malam Qadar. Kelima, takdir harian sebagaimana firmanNya, “... Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”(Ar Rahmaan: 29).

139.Tanya:
Bagaimana dalil yang menegaskan tentang takdir azali itu?

Jawab:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya ...”(Al Hadiid: 22).
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penciptaan takdir sebelum lima puluh ribu tahun penciptaan langit dan bumi dapat juga dijadikan dalil. Selain itu, ada juga sabda-sabda beliau yang lain, misalnya:
“Sesungguhnya yang pertama Allah ciptakan adalah Al Qalam (pena), lalu Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Lalu pena itu menjawab, ‘Ya Rabb, apa yang harus aku tulis?’ Allah menjawab, “Tulislah ketetapan-ketetapan tentang segala sesuatu hingga hari kiamat’.”
          “Hai Abu Hurairah, Qalam telah kering ...”(HR. Bukhari).

140.Tanya:
Bagaimana dalil yang menegaskan tentang takdir seumur hidup?

Jawab:
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi’ ...” (Al A’raaf: 172).
Ishaq bin Rahawiyah meriwayatkan:
Seseorang telah berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal itu merupakan suatu perbuatan yang baru dimulai ataukah ketentuan yang telah pasti?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan semua keturunan Adam dari punggung Adam, kemudian Allah menuang mereka dengan tanganNya, kemudian Dia menentukan mana bagian surga atau neraka. Adapun ahli surga, mereka diringankan dalam mengerjakan amal ahli surga, dan ahli neraka dimudahkan mengerjakan amal ahli neraka.”(HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawih).
Didalam Al Muwaththa’ dikatakan bahwa ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu ditanya seseorang tentang surat Al A’raaf: 172. Dia menjawab:
“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah menjadikan Adam ‘alaihissalam kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kananNya dan mengeluarkan daripadanya keturunan. Lalu Allah berfirman, “Ini untuk surga dan akan mengamalkan amal ahli surga.” Kemudian mengusap kembali punggung Adam dan mengeluarkan keturunan lalu dikatakan ini bagian neraka dan dengan amal neraka mereka beramal.Lalu ada orang yang bertanya,‘Ya Rasulullah, jika demikian adanya, untuk apakah amalan itu?’ Beliau menjawab, ‘Jika Allah menjadikan seorang hamba untuk (masuk) surga, maka digunakan untuk mengerjakan amal ahli surga sehingga dia mati mengerjakan amal ahli surga dan masuk surga. Dan jika menjadikan seorang hamba untuk (masuk) neraka, maka digunakan untuk mengerjakan amal ahli neraka sehingga dia mati mengerjakan amal ahli neraka, maka masuklah ia kedalam neraka’.”(HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasaa’i, dan Turmudzi).
Dan didalam hadits Turmudzi dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami sedang di kedua tanganya ada dua kitab. Lalu beliau bertanya, ‘Tahukah kalian tentang dua kitab ini?’ Kami serempak menjawab, ‘Tidak wahai Rasulullah, kecuali jika engkau memberitahukannya kepada kami.’ Lalu beliau bersabda, ‘Kitab yang ada di tangan kananku ini adalah kiab dari Rabb semesta alam yang didalamnya terdapat nama-nama ahli surga, nama bapak-bapak mereka, dan suku-suku mereka, kemudian dihimpunlah satu sama lainnya dan tidak ditambah atau dikurangi untuk selama-lamanya.’ Lalu beliau bersabda, ‘Kitab yang ada ditangan kiriku ini adalah catatan Rabb semesta alam yang didalamnya terdapat nama-nama ahli neraka, nama bapak-bapak mereka, dan nama suku-suku mereka, kemudian satu sama lain disatukan (didalam kitab ini) dengan tidak bertambah ataupun berkurang jumlahnya selama-lamanya.’ Lalu para sahabat berkata, ‘Jika semuanya telah beres (ditetapkan keputusannya) untuk apa kita beramal (didunia ini)?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tingkatkanlah amalmu dengan baik dan lebih dekatlah dengan kebaikan sebab penghuni surga itu mengakhiri hidupnya dengan amal ahli surga sekalipun beramal apapun. Dan ahli neraka mengakhiri hidupnya dengan amal ahli neraka sekalipun beramal apapun.’ Kemudian beliau mencampakkan kedua kitab tadi dan bersabda, ‘Rabb kamu telah menyudahi dari hamba-hamba ini, sebagian ada disurga dan sebagian ada dineraka’.”(Menurut Turmudzi, hadits ini hasan, shahih, dan gharib).

[Baca...]





التناصح في الله
At Tanasuh Fillah
Materi Kajian Malam Jum`at, 17 Mei 2012
Ust. Abu Fahmi / Ust. Junika
MANUSIA SANGAT BUTUH TERHADAP DUA KEHIDUPAN

KEHIDUPAN PERTAMA:
Kehidupan badan (jasadi, badani), yang dengan nya maka manusia  mendapat suatu yang bermanfaat maupun yang merugikan dirinya.
Dan dengan nya pula, manusia  lebih mengutamakan sesuatu yang memberikan manfaat pada nya, dan apabila kehidupan jasadi ini  berkurang pada diri nya maka ia akan merasakan sakit dan lemah, gundah gulana dan keluh kesah.

KEHIDUPAN KEDUA:
Kehidupan Rohani dan Hati – setelah adanya kehidupan jasadi -  nya,  yang dengan kehidupan ruhani ini, manusia mampu membedakan antara yang haq dengan yang batil, yang bengkok dan yang lurus, hidayah dan kesesatan, maka ia pun  akan memilih kebenaran dan hidayah, ketimbang penyimpangan  dan kesesatan.
Maka kehidupan seperti ini, mampu memberi kekuatan untuk membedakan antara yang bermanfaat dengan yang mudharat, kekuatan iman, dan kekuatan untuk mencintai kebenaran dan membenci kebatilan.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa tak ada kehidupan jasadi pada manusia sampai benar-benar Malaikat meniupkan ruh ke dalam dirinya, dan begitu pula tak aka nada kehidupan ruhani dan hati sampai benar-benar Allah mengutus seorang Rasul-Nya yang meniupkan ruh berupa wahyu (al Qur’an).

52. Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. QS Asy Syura : 52.
Dengan adanya gabungan kehidupan, antara kehidupan jasadi dan kehidupan ruh penerangan cahaya,  yang ditiupkan dari rasul Malaikat dan rasul Nabi.
Barang siapa yang mendapat dua tiupan ini, maka dia telah mengumpulkan dua kehidupan pada dirinya sekaligus, dan Allah telah menghimpun baginya kehidupan dan cahaya.
Dan ada juga yang hanya mendapat satu tiupan saja,

122. Dan Apakah orang yang sudah mati[*] kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. QS Al An`am : 122.
[*] Maksudnya ialah orang yang telah mati hatinya Yakni orang-orang kafir dan sebagainya.

ALLAH TELAH MENCIPTAKAN
DUA KEHIDUPAN BAGI MANUSIA

Manusia mengalami dua fase kehidupan, yaitu:
1.    Kehidupan yang dimulai sejak kandungan dan berahkir dengan kematian,
2.    Kehidupan setelah dibangkitkan manusia dari kematiannya (kuburnya) sampai waktu yang tidak ada ahkir nya. Dimana orang mukmin hidup kekal di Surga dan orang kafir hidup abadi di Neraka. QS at Taghabun : 2
Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
QS at Taghabun : 2

Adapun  kehidupan yang paling tinggi adalah kehidupan para Nabi dan Rasul, yang mana mereka mengisinya secara tulus dan ikhlas semata menjalankan perintah Allah dan mentaati Nya, beribadah dan berdakwah, dan juga disertai dengan  tawakkal yang sempurna  kepada Nya. Lalu disusul selanjut nya oleh kehidupan para shahabatnya,  kemudian para Tabiin dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.
Jika hati terbebas dari dominasi kepentingan kehidupan duniawi, harta dan kekuasaan, lalu hati nya selalu terpaut pada kepentingan akhirat dan mempersiapkan diri nya untuk menghadap Allah, maka pada saat itulah  awal pembuka hati dan terpancarnya cahaya (imani).
Maka pada saat itulah hati seorang hamba akan tergerak untuk mengetahui apa-apa yang dicintai Allah yang dengannya mampu mendekatkan diri pada Allah, dan dia berusaha mengetahui apa-apa yang dibenci Allah untuk ia jauhinya. Kondisi seperti ini merupakan pertanda dari ketulusan nya, maka setiap orang yang meyakini akan perjumpaannya dengan Allah dan ia akan ditanya atas perbuatan nya maka pasti ia akan mempersiapkan diri nya untuk mengenal sang Khaliq dan menempuh jalan untuk sampai pada Nya.
Jika seorang hamba memiliki sifat ini maka ia akan dibukakan pintu lezat dan manis nya untuk ber-khalwat (menyendiri) dengan Allah, maka pada saat itulah Allah menggabungkan antara kekuatan hati hamba dan keinginan (kehendak) Nya.
Kemudian dibukakan bagi nya kelezatan dalam beribadah, dan seakan-akan ia tidak pernah kenyang dari nya, karena ia telah mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan yang lebih besar dan berlipat dari apa yang didapatkan nya pada permainan dan hal yang sia-sia, jika ia dalam keadaan salat seakan ia tida mau berhenti dari nya.
Kemudian dibukakan bagi nya pintu kelezatan dalam mendengar perkataan (Kalam) Allah, dan ia pun tidak bosan dari nya. Jika ia mendengar Kalam Allah hati nya menjadi tenang, seperti hal nya bayi yang yang diberi sebuah makanan.
Kemudian dibukakan bagi nya pintu untuk melihat keagungan Allah yang Maha sempurna, yang dengan nya ia akan melupakan segala sesuatu karena agung dan sempurna nya kekuasaan Allah itu.
Kemudian dibukakan bagi nya pintu malu terhadap Allah, dan sifat ini merupakan cahaya yang dianugrahkan Allah kepada hati hamba, yang dengan nya ia selalu merasa dalam pengawasan Allah, maka ia pun akan malu dalam setiap keadaan nya, dan dengan nya pula ia akan merasa selalu melihat Allah yang bersemayam di atas Arsy Nya, yang selalu melihat hamba Nya, yang Mahamendengarkan suara, maka pada saat ituah akan hilang sifat ambisi terhadap dunia, dan dia akan berada pada lindungan Rab nya, yang selalu ia lihat dari hati nya.
Selanjutnya baginya akan dibukakan  pintu untuk mengakui kekuasaan Allah, sehingga ia akan mengetahui bahwa yang mengatur seluruh mahluk di muka bumi ini hanya Allah.  Jika ia tetap dalam keadaan seperti ini, maka ia tidak akan menoleh dan mengharapkan sesuatu kecuali dibukakan bagi nya sesuatu yang lebih tinggi dari yang ada pada diri nya saat ini.
Maka hati nya pun tetap berada di bawah tiupan Malaikat, yang selalu memancar kan cahaya kemuliaan, sehingga batin nya pun akan memancarkan cahaya seperti air yang terpancar dari sumber nya, dan ia pun akan mendapatkan jiwa nya berada di puncak ketinggian yang tidak ada sesuatu di atas nya, yang demikian inilah tujuan hidup orang mukmin sebagaimana Allah gambarkan dalam firmanNya berikut : QS an Najm: 42.
Dan inilah inti dari ibadah, yaitu perjalanan menuju akhirat yang ditempuh dengan hati seperti hal nya perjalanan dunia yang ditempuh dengan kedua kaki.
Kemudian Allah menaikkan derajat nya dan memperlihatkan padanya cahaya kemuliaan, dan dalam keadaan inilah ia akan merasakan kecintaan yang khusus untuk hati dan jiwa, maka hati pun akan tetap berada di bawah naungan sang kekasih dan dzat yang berbuat baik pada nya- Allah Jalla Jalaluhu -
Maka orang yang dicintai Allah, akan naik derajat nya seperti derajat para nabi, para nabi akan melihat Allah di surga seperti mereka melihat bulan purnama, karena tinggi nya derajat mereka, dan kedekatan mereka terhadap Allah SWT.
Dan seseorang akan (dikumpulkan) bersama orang yang dicintai nya, setiap perbuatan pasti ada balasan nya, dan balasan cinta adalah cinta dan kedekatan, maka beruntunglah pemilik hati seperti ini.
Wahai hati yang terhalang akan cahaya keindahan , dan agung nya Dzat yang Esa, manusia pada saat ini terfitnah dengan harta, penampilan, dan jabatan. Dan mereka tersiksa sebelum mendapatkan semua itu, dan pada saat mendapatkan nya, begitu pula pada saat setelah mendapatkan nya.
Dan orang yang paling tinggi kedudukan nya adalah yang terlena dengan bidadari surga, dan mereka yang menikmati kenikmatan surga dari makanan, minuman , nikah dan pakaian .
Dan kapan kita sampai kepada derajat yang tinggi seperti ini ?
Jika mengidamkan bidadari dan nikmat surga harus didapatkan dengan mencintai Allah semata, maka kenapa kita mengutamakan kelezatan dunia dari perintah-perintah Allah?
15. Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
16. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu).
17. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
18. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain[1]. dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu Tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihatNya[2] dan mereka mendirikan sembahyang. dan Barangsiapa yang mensucikan dirinya, Sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. dan kepada Allahlah kembali(mu). QS Fathir : 15-18.

[1] Maksudnya: masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.
[2] Sebagian ahli tafsir menafsirkan bil ghaib dalam ayat ini ialah ketika orang-orang itu sendirian tanpa melihat orang lain.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, bahwa naksud dari ayat di atas adalah “Allah SWT menegaskan bahwa Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan siapa dan apapun. Seluruh makhluk tunduk patuh di bawah perintah Nya. Allah berfirman, “Hai manusia, kamulah  yang berkehendak kepada Allah.” Yakni seluruh makhluk membutuhkannya dalam seluruh gerakan dan diam mereka. Sedangkan Dzat Allah SWT tidak membutuhkan mereka. Oleh karena itu Allah berfirman, “Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (Tafsir Ibnu Katsir, Asbab Nuzul, hal 415, Jabal Raudloh Jannah).

Jelas bahwa yang berkehendak untuk mendapatkan berbagai nikmat Allah adalah hamba itu sendiri, kita sebagai manusia, yaitu melalui ibadah dengan tulus dan ikhlas semata kepada-Nya, dan memalingkan dari seluruh peribadatan yang ditujukan kepada selain Dia. Sebagaimana Allah berfirman:
17. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.
QS As Sajdah: 17,
15. Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud[1] seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.
16. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya [2] dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. QS as Sajdah: 15-16.

[1] Maksudnya mereka sujud kepada Allah serta khusyuk. Disunahkan mengerjakan sujud tilawah apabila membaca atau mendengar ayat-ayat sajdah yang seperti ini.
[2] Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.

Diriwayatkan dari Mu`daz bin Jabal Ra dia berkata, “Kami melakukan perjalanan bersama Rasulullah Saw, aku berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, ceritakan kepada kami tentang amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada surge dan menjauhkan kami dari neraka”, beliau menjawab, “Engkau bertanya tentang sesuatu yang sangat besar, dan hal itu akan mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah Swt. Ia adalah : Engkau menyembah Allah Swt dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadlan, dan melaksanakan haji”, kemudian beliau bersabda, “Maukah aku tunjukkan pintu gerbang segala kebaikan ? Puasa adalah perisai, sedekah dapat menghapuskan kesalahan dan shalatnya seseorang di penghujung malam”. Lalu beliau membaca ayat 16 dari surat al Baqarah:
16. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. QS Al Baqarah : 16. (Tafsir IBnu Katsir, Asbab Nuzul, Jabal Raudloh Jannah)

Abu Huirairah Ra berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt berfirman, Aku telah mempersiapkan untuk hamba-hamba Ku yang shalih suatu kenikmatan yang belum di dengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas di dalam hati manusia,” Dan Abu Hurairah Ra berkata, Bacalah bila kalian masih penasaran, ‘Maka tidak seorangpun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati….” (as Sajdah : 17). HR Bukhari-Muslim. (Tafsir al Wajiiz li Kitabillah al `Aziz, Syaikh Usamah ar Rifa’ii). 
Maka tidaklah pantas kedudukan yang mulia ini kecuali bagi orang-orang yang mengedepankan cinta Allah dan rindu pada Nya di atas segala cinta pada selain Nya,
Ketahuilah barang siapa yang mendapatkan kedudukan ini, maka yakinlah ia akan mendapat nikmat yang tertinggi berupa bidadari, istana dan nikmat-nikmat surga lainnya.
Hamba seperti inilah yang cinta nya tulus walaupun ia mengharapkan kebaikan dunia dan akhirat, seperti firman Allah :
28. Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. QS al Kahfi : 28
Inilah hakikat  ikhlas yaitu ketergantungan hati kepada Allah dengan sempurna.
Hamba seperti ini yang selalu dinaikkan derajat nya oleh Allah setingkat demi setingkat sampai ia berada pada derajat tertinggi, ataupun ketika ia mati pahala nya pada sisi Allah.

Maka kebahagiaan yang tertinggi  adalah orang yang menghadap Rabb nya, dan tidak menoleh kepada selain Nya, seraya berkhalwat dengan Allah. Perkara ini adalah perkara yang paling diidamkan dari nikmat surga.  Dan seseorang yang keinginannya kepada selain Allah itu kuat, maka ia akan dihalangi dari Allah sesuai keinginannya itu. 
Hal ini bukan berarti manusia tidak boleh mengharapkan sesuatu dari Allah, ataupun dia boleh meremehkan sesuatu yang di agungkan Allah berupa nikmat surga, berupa bidadari, makanan, tempat tinggal dan lain – lain, akan tetapi maksud dari kalimat di atas adalah sekalipun Surga dan Neraka itu tidak ada, maka tetap saja ia tidak terhalang dari Dzat Rabb (dalam mencintainya, beribadah kepada Nya dan berkholwat kepada Nya.
Seandai nya tidak diwajibkan mencintai Allah kecuali karena Allah adalah sang Pencipta (Khaliq), dan Raja (Malik) bagi hamba dan keutamaan nama – nama dan sifat Nya , keindahan dan keagungan Nya…
Bukankah hati manusia telah difitrahkan untuk mencintai gambar yang indah ?, Namun seorang muslim diperintahkan untuk menutup mata nya, supaya gambar tersebut tidak membekas dalam hati nya dan ia pun mengagungkan nya yang dengan nya ia akan terhalang untuk melihat muka indah sang Khaliq Allah Subhanahu wa Ta`ala (kelak di Surga).
Semua rasa cinta selain kepada Allah adalah memalingkan  sesuatu kepada yang bukan hak nya, dan menyebabkan hati menjadi sakit yang dengan nya Allah menyiksa nya, karena ia telah menyelewengkan  fitrah yang telah difitrahkan pada nya dari mencintai ilahul Haq (ma`budul haq).
Nikmat yang paling tinggi di surga adalah melihat Allah, dan menggapai kecintaan dan keridhaan nya, oleh  karena itu kesibukan penduduk surga dalam hal ini lebih agung dari segala sesuatu, seperti dalam hadits,
Kenikmatan ini tidak melalaikan penduduk surga untuk melakukan  hal tersebut karena kenikmatan nya melebihi segala sesuatu.

Dan tuhan mereka memberi  ucapan selamat kepada mereka, Allah melihat mereka, dan mereka pun melihat Allah. Dan Allah bersemayam di atas `Arsy nya yang merupakan atap firdaus, mereka tidak melirik nikmat selama mereka melihat Allah sampai mereka terhalang nya, dan tinggal cahaya  dan berkah atas mereka.
Jiwa yang mulia menyembah Allah karena Allah lah yang berhak untuk diibadahi dan dimuliakan, dicintai dan diagungkan, dipuji dan di hormati, karena memang hanya Dzat Allah sajalah yang berhak untuk ibadah.
Janganlah menjadi seperti pegawai yang jelek, jika ia diberi upah ia bekerja, jika belom dikasih maka ia pun tidak kerja, ini adalah hamba upah bukan hamba yang dilandasi cinta dan keinginan.

`AARIFUN adalah orang yang bekerja untuk mendapatkan kedudukan dan derajat yang tinggi, dan UMMAL yang beramal untuk mendapat pahala dan imbalan, dan sangat jauh perbedaan antara kedua nya.
Bukan arti nya kita tidak boleh meminta surga, karena hamba butuh dengan nya, namun yang dicela adalah menjadikan puncak tujuan ilmu dan puncak keinginan nya adalah surga itu sendiri, dan dia lalai akan hakikat ibadah kepada Allah.
Dan supaya dia tidak menyembah Allah hanya untuk mengharap kebaikan dari hasil ibadah nya tersebut, dan harus tujuan utama nya adalah Allah.
Allah Subhanahu wa Ta`ala melihat hati setiap hamba, dan barang siapa hati nya bergantung kepada selain Nya maka iblis akan menguasai hati nya, Allah berfirman

83. Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma'siat dengan sungguh-sungguh?, QS Maryam : 83


Barang siapa yang mengenal Allah maka kehidupan nya akan bahagia dan suci, dan Allah akan memberikan nya segala sesuatu, dan akan dihilangkan rasa takut dari nya, dan hati nya selalu gembira dengan Allah,dan manusia pun gembira bersama nya.
Dan barang siapa yang mengenal Alah dia tidak mengharapkan sesuatu selain kepada allah, dan Allah akan mencintai nya sejauh mana ia mencintai, takut, harap, dzikir, dan malu nya kepada Allah.
Dan barang siapa yang menjadikan dunia tujuan utama nya maka ia harus siap menanggung banyak musibah.

PECINTA DUNIA TIDAK TERLEPAS DARI TIGA BENCANA
Kegelisahan yang menghantui, ia akan selalu capek, dan kerugian yang tak ada ujung nya.
Yang demikian karena pecinta dunia tidak akan puas dan mengharapkan sesuatu yang lebih banyak, seandai nya anak Adam mempunyai dua lembah niscaya dia tidak akan puas dan mengharapkan yang ketiga.
Pecinta dunia seperti pemabuk, semakin banyak ia meminum arak  maka semakin tambah pula mabuk nya. Orang yang paling bahagia di dunia dan akhirat adalah orang yang beriman , bertakwa, dan ikhlas, yaitu orang yang mengerjakan amalan tidak mengharap kecuali ridho Allah,
Allah berfirman:
17. Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19. Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi.
21. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. QS al Lail : 17-21

Mereka itu adalah para Nabi dan yang berjalan di atas hidayah bimbingan mereka.
Orang-orang yang bertakwa tidak selayak nya membebankan kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan nya atau menanggung beban nya, jika ada yang membantunya maka segera diganti dengan kebaikan semisal nya, supaya tidak ada suatu kenikmatan pun yang ada pada diri nya yang didapatkan dari orang lain. Dan supaya segala amalan nya tulus untuk Allah, ia tidak mengerjakan apapun kecuali mengharap ridho Allah.
Sedangkan orang yang mengharap kenikmatan dari orang lain , maka ia akan melakukan apapun yang akan diperintahkan pada nya dan meninggalkan apa yang dilarang nya.
Semua orang yang memberi kenikmatan bisa untuk dibalas kecuali nikmat islam, barang siapa yang diberikan nikmat islam maka ia tidak akan bisa membalas orang yang menunjuki nya (kepada) jalan islam.
Oleh karena itu tidak seharus nya seorang mengharap kenikmatan dari orang lain karena ini bagian dari kesempurnaan ikhlas, supaya semua aktifitas nya hanya mengharap ridha allah
Ini yang dijanjikan oleh allah dalam firman nya (Lihat QS al Lail: 21 di atas).
Semua itu akan terealisasi dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul nya.
Allah berfirman:
69. Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin [*], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.
70. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.
QS An Nisa’ : 69-70.
[*] Ialah: orang-orang yang Amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan Inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

-----------------------
Sumber Kajian:
Mausu`ah Fiqhil Quluub, Syaikh Ibrahim at Tuwaijiri / Syaikh Ali bin Nayif Asy Syahuud,
Pasal “Fiqhud Dunya wal Akhirah – sub : wal Ihsan mudltharrun ilaa Nau`in minal Hayah.

























BERBAGAI KONDISI MANUSIA DI DUNIA
7. Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) Pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,
8. Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.
QS Yunus : 7-8
9. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya[670], di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan.
QS Yunus: 9

[670] Maksudnya: diberi petunjuk oleh Allah untuk mengerjakan amal-amal yang menyampaikan surga.
2. Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
QS at Tahghabun : 2

Manusia sejak menginjakkan kakinya di muka bumi, maka ia berstatus sebagai Musafir menuju Rabb-nya, dengan tenggang waktu perjalanan yang telah ditetapkan sesuai jatah umurnya. Sepanjang malam dan siangnya, ia berkelana menampaki tahap demi tahap safarnya, dari satu tahapan menunju ke tahapan berikutnya dan seterusnya sampai garis finis safarnya (yaitu kematian).
Hamba yang cerdas lagi kreatif adalah siapa saja yang menjadikan seluruh tahapan yang berada di hadapannya, berhasrat kuat untuk memetiknya, dengan sedlamat dan mendapatkan hasilnya. Maka ia itu uakin begitu pendeknya usia (kesempatan) dan begitu cepatnya fase itu berlalu, ia pun begitu mudah meraih amal. Ia senantiasa melakukan hal seperti itu sepanjang tahapan umurnya, usahanya patut mendapat pujian, terus mendulang untuk persediaan pada saat yang terlewatkan
 dan ketika mebutuhkannya.

Manusia Dalam Mengisi Fase-Fase tersebut
Terbagi Menjadi Dua Golongan:

Golongan pertama:
Mereka yang melaluinya seperti halnya musafir menuju Dar asy syaqa’ (negeri kesengsaraan), maka setiap mereka melalui fase tersebut semakin dekatlah mereka menuju negeri itu, dan semakin jauh dari Rabb mereka, dar dari negerio kemuliaan Nya. Mereka menjalani fase-fasenya dengan hal-hal yang mendapatkan murka Allah, memusuhi rasul-rasul Nya, para wali Nya dan Dien-Nya.
8. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya". QS Ash Shaff : 8
Mereka itu termasuk golongan seburuk-buruknya manusia (makhluk), yang telah menjadikan hari-hari dan malam-malam mereka menjadi fase-fase menjalani safar menuju negeri yang mereka ciptakan bagi mereka, dan melakukan perkerjaan dengan kesia-siaan, mereka bersekongkol ( bersahabat) dengan syaithan-syaithan yang dikirim kepada mereka, berjalan menuju manzilah mereka, yaitu ke neraka, sebagai Allah berfirman:
83. Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim syaitan-syaitan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka berbuat ma'siat dengan sungguh-sungguh ?, QS Maryam : 83

Golongan Kedua :
Mereka yang meniti jalan dalam safarnya, fase demi fase mereka tempuh berjalan menuju Allah Swt dan menuju Negeri Keselamatan/Kedamaian (Dar as Salam), mereka ini terbagi lagi menjadi tiga kelompok, yaitu :
zhalim linafsihi, muqtashidun, dan saabiqun bil khairat bi idznillah. Mereka itu semuanya mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan (safar) panjang, mereka yakin akan kembali ke pangkuan ilahi Rabbi. Namun mereka beraneka ragam dalam sisi kelebihan satu dengan lainnya. Seperti firman Allah berikut:
32. Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[*] dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar. QS Fathir : 32
[*] Yang dimaksud dengan orang yang Menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan pertengahan ialah orang-orang yang kebaikannya berbanding dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang kebaikannya Amat banyak dan Amat jarang berbuat kesalahan.
Terdapat 4 jenis Upaya dan pergerakan hamba dalam kehidupan tersebut,
25. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, 26. Kemudian Sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. Qs Al Ghasyiyah : 25-26






[Baca...]



Bag-9 : Khalifah Dan Istilah-Istilah Baru
Di akhir penjelasan ini harus kami jelaskan bahwa istilah ‘al khalifah fil ardli’ (khilafah di muka bumi) adalah istilah al Qur’an yang kita tidak boleh menyimpang darinya kepada istilah yang lain di dalam pembahasannya.
Dan sesungguhnya apa yang dijadikan sandaran oleh sebagian manusia dalam mempergunakan istilah-istilah yang lain dalam pembahasan ini, baik untuk suatu niat yang baik atau niat yang jahat karena adanya sebagian persamaan atau pertentangan antara dia dengan Islam. Tidaklah membantu (merealisasikan) syari’at Islam, bahkan hal tersebut mengaburkan dan mengacaukan dan kadang-kadang mengakibatkan kepada penyimpangan dan penghancuran hal itu karena semua sistem mempunyai asas dan istilah-istilah tersendiri, dan termasuk salah besar meminjam (memakai) istilah dari suatu sistem ke sistem yang lain.

Langkah Baru
Telah kita ketahuidari apa yang telah lalu makna-makna ‘al khilafah fil ardli’ sebagaimana tercantum di dalam al Qur’anul karim yang kadang-kadang bermakna umum, yaitu pengangkatan khalifah jenis manusia secara keseluruhan seperti pengangkatan Adam dan anak cucunya sebagai khalifah.
Dan kadang-kadang bermakna lebih khusus dari makna umum. Yaitu pengangkatan suatu ummat sebagai suatu khalifah menggantikan ummat yang lain. Yang dimaksudkan oleh makna khusus ini kadang-kadang adalah khilafah ‘khola’if’ yaitu apabila yang menggantikan itu menggantikan ummat kafir yang telah dibinsakan oleh Allah. Dalam hal ini ummat yang menggantikan dituntut tidak mengikuti (jalan hidup) ummat yang digantikan.
Dan kadang-kadang yang dimaksudkann oleh makna khusus adalah khilafah ‘khulafa’ yaitu apabila ummat yang menggantikan tersebut menggantikan ummat mukmin yang sudah habis masanya. Dalam hal ini ummat yang menggantikan dituntut untuk mengikuti jalan hidup dan jejak langkah ummat yang digantikan.
Sebagaimana kita telah ketahui juga bahwa khilafah seluruh ummat terhenti pada ummat Rasulullah saw karena mereka sebagai pewaris berbagai ummat dan risalah. Dan sesungguhnya ummat tersebut (ummat Rasulullah saw) mencakup untuk khilafah ‘khola’if’ dan khilafah ‘khulafa’ dan ummat tersebut dituntut untuk tidak mengikuti (jalan hidup) ummat kafir yang telah dibinasakan oleh Allah swt dan juga dituntut untuk mengikuti ummat mukmin yang sudah habis masanya. Oleh karena itu, Allah swt mengisahkan kepada kita di dalam al Qur’anul karim ummat-ummat terdahulu untuk dijadikan pelajaran bagi kita. Dan di dalam khilafah ‘khola’if’ supaya kita tidak mengikuti orang-orang kafir di dalam jalan hidup dan perilakunya. Dan di dalam khilafah ‘khulafa’ mengambil suri tauladan terhadap orang-orang yang shaleh. 
“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran)." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS. Al An’am: 90)
Dan sebagaimana yang telah kami jelaskan juga bahwa ‘al khilafah’ kadang-kadang bermakna lebih khusus dari pergantian suatu ummat kepada ummat yang lain. Apabila yang dimaksudkan adalah khilafah hukum dan pemerintahan sebagaimana perihal Daud as.
Sehubungan dengan khilafah khola’if adalah khilafah kauniyah, yang diakhiri dengan dibinasakannya ummat yang digantikan dan munculnya ummat yang menggantikan yang dalam hal ini tanpa adanya suatu kehendak atau kemauan dari ummat yang menggantikan.
Sedangkan khalifah khulafa’ adalah khalifah syar’iyah yang diawali dengan mewarisi ummat yang shaleh yang sudah habis masanya. Tetapi hal itu sulit terlaksana kecuali dengan syarat-syarat tertentu yaitu iltizam kepada tauhidullah dan taat terhadap perintah-perintah-Nya, sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya. Namun ini semua bisa diusahakan oleh manusia karena berada di dalam batas-batas kemauan dan kehendaknya. Maka kami dapati khilafah ‘khulafa’ perkaranya tidak menentu antara pasang dan surut sesuai dengan jauh dekatnya dari ajaran-ajaran dien dan nilai-nilai Islam. Hal itu sebagaimana kami perhatikan di dalam tarikh khilafah ummat ini. Dan ketika persoalannya sampai kepadanya pada hari kehancuran daulah khilafah, setelah penopang kekuatan hakikinya lenyap dan menyimpang dari manhaj Allah. Jadilah mangsa bagi kekuatan musuh yang berskongkol untuk menghancurkannya dan yang menantikan kehancurannya. Dan dengan demikian, digulunglah lembaran-lembaran kekuatan di dalam tarikh ummat-ummat ini dan lembara kelemahan mulai muncul akibat terlepasnya tali khilafah dan terpecah belah menjadi berbagai negara.
Sesungguhnya realitas kelemahan dan perpecahan yang kita alami telah membikin musuh-musuh kita tergiur untuk menghabisi kita, dan menjadikan orang-orang kafir membentuk suatu kekuatan yang berani terhadap kita. Menginjak-injak kehormatan tempat-tempat suci kita. Membunuh anak-anak, menjajah sebagian tanah air, isteri-isteri kita tanpa ada rasa takut dan tanpa mempedulikan adat dan undang-undang. Sesungguhnya hal itu semua tidak mungkin terjadi seandainya khilafah itu ada dan kaum muslimin mempunyai eksistensi sehingga mampu menghimpun kekuatan dan persatuan.
Apabila realitas kita sekarang ini merupakan hasil secara tabi’i  dari perbuatan tangan-tangan kita, dengan jauhnya kita dari sumber kekuatan dan kejatuhan kita di bawah pengaruh perang intelektual (Gazhwul Fikri) musuh-musuh kita. Maka kita jangan bersandar pada kelemahan kita. Kita jangan menyerah pada kenyataan yang ada serta jangan pesimis. Sebab, kita tahu bahwa sejarah ummat dan bangsa itu pasang dan surut, kuat dan lemah, dan maju dan mundur. Kewajiban kita tidak lain hanyalah berusaha menghimpun kekuatan kita, memperkuat tekad kita dan mengejar ketinggalan-ketinggalan kita dari syarat-syarat kebangkitan dan kekuatan-kekuatan penopangnya.
Sesungguhnya masa dimana suatu negara dapat mengendalikan dirinya sendiri dan merasa cukup punya kekuatan dan sumber alam yang banyak sehingga tidak memandang perlu untuk bekerja sama dengan yang lain. Itu semua telah berlalu. Kini, dengan cepatnya ilmu pengetahuan, alam ini seolah-olah menjadi satu negara. Komunikasi yang cepat, tranformasi ilmu pengetahuan modern dan penemuan-penemuan baru sudah bisa dilaksanakan meskipun dari tempat yang terpisah-pisah di berbagai negara. Jarak yang jauh rasanya sudah menjadi dekat. Kepentingan ummat dan bangsa sudah menyatu. Maka timbullah blok-blok ideologi dan pemikiran serta blok-blok politik sehingga tidak ada tempat bagi negara-negara yang memisahkan diri sebagai negara-negara yang kecil di alam yang besar. Sesungguhnya perkembangan ini justru mempertegas apa yang dibawa oleh Islam sebelum empat belas abad yang lalu tatkala menegakkan daulahnya di atas asas akidah, dan menjadikan umat menyatukan bangsa-bangsa dan susku-suku yang bermacam-macam. Mereka disatukan oleh ukhuwah islam (persaudaraan Islam). Dan khilafah Islamiah merupakan bukti sejarah yang bisa menaungi kaum muslimin dan sekaligus sebagai suatu kekuatan yang melindungi mereka dari kekuatan penjajah.
Sesungguhnya apa yang kita saksikan pada kenyataan kita sekarang dengan munculnya negara-negara besar yang dapat menyatukan bangsa-bangsa yang bermacam-macam oleh ideologi yang satu seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat. Dan juga kita saksikan bahwa adanya persekutuan-persekutuan wilayah (blok-blok) dan persekutuan polotik serta pasar pedagangan yang menghimpun negara yang bermaca-macam. Dimana mereka disatukan oleh kepentingan bersama. Semua ini mempertegas keyakinan kita bahwa untuk sebuah khilafah Islamiah masih ada tempat di alam kita ini. Kita harus berusaha sekuat tenaga supaya ada jalan bagi kaum muslimin untuk mempersatuka mereka kembali, mewujudkan kepentingannya dan memelihara eksistensinya. Hal semacam itu tidak akan kita dapati kecuali di dalam sistem khilafah.



[Baca...]