Terjemah Ayat 18 – 25 :18). Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti menyeru kami, niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapatkan adzab yang pedih dari kami. (19). Utusan-utusan itu berkata, ‘Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang). Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas. (20). Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata, ‘Hai kaumku, itkutilah utusan-utusan itu.
(21) Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (22). Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nyalah kamu (semua) akan dikembalikan. (23). Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudahan kepadaku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku.(24). Sesungguhnya aku kalau begitu, pasti berada dalam kesesatan yang nyata.
(25) . Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu , maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku

Uraian Tafsirnya :
Ayat 18 – 19 : Tuduhan dan Ancaman Kaum Kafir kepada Utusan-Utusan Allah:
Kaum kafir menuduh : kalian datang hanyalah untuk menimpakan kesialan dan kemalangan kepada kami. Oleh karenanya, jika kalian tidak mau menghentikan seruan-seruan kepada kami, maka kami tak segan-segan akan melempari kalian dengan batu-batuan sehingga kalian benar-benar akan merasa kan siksaan yang pedih dari kami.
Para Utusan Menjawab : Kalian sendirilah yang mendatangkan kesialan dan kemalangan pada diri kalian . Telah sering kami sampaikan peringatan dan kebenaran kepada kalian, namun justru kalian terus membangkang dan menyakiti kami. Memang benar , bahwa kalian termasuk kaum yang melam- paui batas (dalam ucapan dan perbuatan jahatnya). Hal ini merupakan sunnatullah yang berlaku bagi semua kaum yang mendustakan para Rasul. Bahwa Allah menguji  mereka dengan berbagai macam hukuman, tentu dengan harapan agar mereka mau kembali, menyesali perbuatan jahatnya, dan lalu beriman, atau justru semakin jahat lagi dalam mensikapii para Rasul tersebut..

Ayat 20-21: Datang seseorang yang ingin menolong utusan-utusan Allah.
Seseorang laki yang disebut dalam ayat ini, menurut Jalaluddin As Suyuthi (penulis Tafsir Jalalain) adalah sebagai Habib an Najjar yang telah beriman kepada para rasul, yang bermukim di ujung kota. Sementara di tengah-tengah kota terdapat sebagian kaumnya yang menentang para rasul. Orang tersebut dating memberi nasihat kepada kaum-nya yang ada di kota. Para mufassir lain, menyangkal tentang sosok nama orang laki dimaksud, nama ini tidak defenitif (ma`rifat) tetapi infinitive (nakirah), karena tak ada riwayat shahih dari Nabi saw, mungkin diambil dari kitab Israiliyat. Sikap kita, yang baik adalah tidak mengingkarinya dan tidak pula menetapkannya. Ayat ini seperti juga terjadi pada rasulullah Musa as, ketika ada seorang laki dari ujung kota yang dating menemuinya, QS Al-Qashash: 20. “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu..”   Lelaki tersebut datang secara bergegas, lari cepat agar tidak kehilangan kesempatan menemui kaum yang mendutakaan para Rasul itu. Dengan bahasa yang sopan, dia berkata, hai kaumku… Ini menunjukkan kecintaan nya terhadapnya sesama kaumnya, dan dia tidak mengatakan, ‘Hai si tolol, bedebah, atau hai orang yang tak berotak…”. Inilah seruan bil-hikmah. Begitu juga yang pernah ditunjukkann oleh Nabi Nuh kepada anaknya yang membangkang, dengan ‘hai anak-ku…  Tidak seperti kaum kafir ketika menyeru kepada Nabi-nya (missal Ibrahim as), dengan ‘hai Ibrahim…. (hanya panggil namanya).

Perhatikan surat Al An`am: 66,
وكذّب به قومك وهو الحق
66. “..Dan kaummu mendustakannya (azab) [484] Padahal azab itu benar adanya. ".

[484] Sebahagian mufassirin mengatakan bahwa yang didustakan itu ialah Al-Quran.

Permintaan seorang laki-laki kepada kaumnya yang ada di kota itu adalah:
1.    Agar saudaranya se kaum itu mengikuti ajakan para rasul Allah, karena setiap rasul itu menyerukan apa-apa yang diserukan oleh semua rasul Allah, yaitu agar menerima risalah-Nya dan mengabdi kepada-Nya saja sebagai bentuk aplikasi tauhid kepadaNya “Laa ilaaha illallah”.
2.    Ikutilah para Rasul yang tidak meminta kepadamu upah atau balasan apapun, dan mereka (para rasul itu) adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (hidayah) dari Allah, dan tidak dalam kesesatan seperti kalian.
3.    Ketika orang tersebut mengatakan, ‘mengapa aku tidak menyembah kepada dzat yang telah menciptakanku ? ini seakan-akan sebagai jawaban dari pertanyaan kaum, ‘apakah kamu telah memeluk agama mereka (para utusan itu) ? Atau sebenarnya dia mengingatkan kepada kaum itu dengan “karena alas an apa sehingga kalian tidak mau mengikuti seruan para rasul ? padahal mereka diutus oleh Dzat yang telah menciptakan-Mu ? wallahu a`lam.    (wa maa liya laa) adalah bentuk pertanyaan yang berarti pengingkaran, maksudnya, apa yang menghalangiku dari ibadah kepada Allah semata ? Oleh karenyanya dia berkata “ Laa a`budu” (aku tidak beribadah) merendah di hadapan Dzat yang telah menciptakannya. Hal ini seperti disebut dalam QS 2: 21. (Perintah ibadah kepada Allah yang dikaitkan dengan tauhid Rububiyah-Nya). Juga pujian kepada Allah yang dikaitkan dengan Rububiyah-Nya (sebagai pencipta). QS Fathir: 1.
4.    Dia mengingatkan kepada mereka, bahwa aku dan kalian semua akan dikembalikan kepada-Nya. Bahasa ini sama dengan yang Allah pergunakan pada surat al `Alaq, ketika Allah mengingatkan manusia yang bertindak melampaui batas ( innal insaana la yathghaa) bahwa kalian akan kembali kepad Rabb-mu (Tsumma ilaa rabbika ar Ruj`aa),  Ini artinya, apa yang kalian lakukan, kelak semuanya akan kembali kepada kalian berupa balasan Allah yang pedih. Namun jika kalian beriman, menerima risalah para utusan, tentu kalian kembali kepada Allah dengan menerima pahala karena keimanan dan amal baik kalian.

Syaikh Muhammad Shalih Ibnu Utsaimin rahimahullah mengomentari tentang “para rasul tidak meminta balasan dari mereka” dalam menyampaikan dakwah. Dakwah mengajak orang / kaum kuffar masuk Islam adalah kewajiban yang Allah perintahkan, tidak dibenarkan meminta upah atau menerima upah. Dan beliau membedakannya dengan “mengajarkan ilmu” kepada yang membutuhkan, yang memerlukan usaha di dalam mengajarkannya, kelelahan dan pemahaman khusus, tentu pengambilan upah tidak menjadi masalah. Terdapat nash sunnah dari Nabi saw:
إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتابُ اللهِ
 “Sesungguhnya yang paling berhak untuk kalian ambil imbalan adalah dari pengajaran Kitabullah” (HR Bukhari, kitab al Ijarah, bab Maa Yu`thii fii ar Ruqyah `alaa Ahyaa’ al `Arab bi Fatihatil Kitab, no. 2276. Juga riwayat Muslim, bab Jawaazu Akhdzi al-Ujrah `alaa ar Ruqyah bil Qur’an wal Adzkar).
Lalu apakah ayat tersebut menandakan “tidak bolehnya” mengambil rezeki dari Baitul Maal untuk berdakwah? Syaikh menjawab, ‘Tentu tidak demikian kesimpulannya. Paling tidak, bahwa melepaskan diri dari itu lebih baik, karena lebih mendekatkan kepada keselamatan dan sentuhan jiwa manusia yang diserunya.
Ayat 23-25: Alasan Lain dari Seorang laki-laki tadi untuk Beribadah kepada Allah.
1.  Mengapa aku harus beribadah kepada selain Allah ? Padahal hanya yang selain Allah (semua makhluk) tidaklah bias mendatangkan manfaat dan madharat. Apabila Allah menginginkan madlarat kepaku, tentu semua syafaat (bantuan dan pertolongan) mereka tak ada manfaat sama sekali bagiku dan mereka pun tak sangaggup menyelamatkanku. Karena hanya Dia-lah yang Nafi`-Dlaar (mendatangkan manfaat dan madarat)
2.  Terkadang madlarat yang menimpa seseorang justru memiliki nilai yang sangat baik, yaitu kembali kepada Allah dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi, yang menimpa mereka (sekalipun disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri). Perhatikan ayat 41 surat ar Ruum. (Telah nampak kerusakan di darat dan di laut ……. Agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
3.  Jika demikian, (menyembah kepada selain Allah) pasti aku dalam kesesatan yang nyata. Namun, sungguh aku beriman kepada Rabb kalian (yang menciptakan, yang memebri rezeki dan yang mengurusi seluruh urusan kalian), maka dari itu dengarkanlah (seruan para utusan kalian, yang mengajak kepada iman dan kebenaran).
4.  Allahu a`lam bish shawab. Insya Allah kita lanjutkan ke ayat-ayat berikutnya.  “Ya Allah kami memohon kepada-Mu sekiranya Engkau menganugerahi kami ilmu yang manfaat dan amal shalih”.


1 komentar:

Lia Wanah mengatakan...

Bismillahirrahmanirrahim..

Assalammualaikum ustaz.. Saya bermimpi minggu lepas.. Dlm mimpi saya tu asyik ulang ayat yasin ke 18.. Baru hari ni saya teringat untuk tengok tafsir.. Sekadar berkongsi..

Mari berdiskusi...

--------------------------------------------------------------------

Awali dengan bismillah sebelum memberi komentar...

--------------------------------------------------------------------