Syiah Telah Lecehkan Al Qur’an & Ummul Mukminin ‘Aisyah,
Apakah Kita Akan Diam Saja?
SUKOHARJO (Panjimas.com) – Ketua Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf menjelaskan bahwa pelecehan dan penghinaan yang dilakukan oleh Syi’ah terhadap Islam dan simbol-simbol Islam sudah sangat luar biasa.
Salah satu pelecehan yang sangat luar biasa tersebut adalah perkataan lancang dari kaum Syi’ah yang telah menuduh istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, yakni ‘Aisyah berbuat zina. (Baca: Ribuan Umat Islam Sukoharjo Banjiri Tabligh Akbar Mewaspadai Pengaruh Bahaya Syi’ah di Indonesia)
Hal ini diungkapkan Habib Zein saat menjadi pemateri dalam acara tabligh akbar berjudul “Menjalin Silaturahmi, Menjaga Keutuhan NKRI & Mewaspadai Pengaruh Syi’ah” di Masjid Agung Baiturrohman Sukoharjo Jawa Tengah (Jateng) pada Ahad (12/4/2015) pagi. (Baca: Tokoh NU: Perbedaan Islam & Syi’ah Bukan Hanya Masalah Furu’, Tapi Juga Ushul)
“Jadi Syi’ah ini ngakunya cinta ahlul bait, tapi faktanya mereka justru yang melecehkan dan menginjak-injak kehormatan ahlul bait itu sendiri. Salah satu pelecehan mereka adalah menuduh ibunda Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berbuat serong, zina,” kata Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini.
“Padahal didalam Al Qur’an surat An Nur, Allah telah menerangkan secara jelas dan membantah tuduhan dan fitnah keji orang-orang munafik saat itu, yang mengatakan dan membuat fitnah ibunda ‘Aisyah telah berbuat serong,” anggota MUI Jatim ini. (Baca: Habib Zein Alkaf: Bisa Berhaji & Masuk Mekkah Bukan Syarat Tidak Kafirnya Syi’ah)
“Jadi sebetulnya apa yang dilakukan oleh orang Syiah saat ini yang melecehkan dan menghina Ummul Mukminin sejati juga melecehkan Al Qur’an. Lalu apakah kita yang mengaku cinta Rasulullah, cinta ibunda ‘Aisyah akan diam saja dengan penghinaan demi penghinaan orang Syi’ah tersebut?,” tanya Habib Zein. [GA]
SUKOHARJO (Panjimas.com) – A’wan Syuriah Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf mengungkapkan adanya sejumlah masyarakat awam dan para tokoh yang masih sangsi dengan kekafiran Syi’ah.
Salah satu hujjah atau alasan serta syubhat yang biasa dihembuskan oleh orang-orang Syi’ah maupun para pembela Syi’ah adalah, tentang bolehnya orang Syi’ah masuk Mekkah dan melakukan ibadah haji. (Baca: Ribuan Umat Islam Sukoharjo Banjiri Tabligh Akbar Mewaspadai Pengaruh Bahaya Syi’ah di Indonesia)
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini menegaskan bahwa kekafiran Syi’ah tidak diukur dari boleh dan tidaknya orang-orang Syi’ah memasuki Kota Mekkah dan berhaji. (Baca: Tokoh NU: Perbedaan Islam & Syi’ah Bukan Hanya Masalah Furu’, Tapi Juga Ushul)
“Jadi, bisa berhaji dan masuk ke Mekkah itu bukan syarat dan penghalang tidak kafirnya orang Syi’ah,” tegas Habib Zein saat menjadi pemateri dalam acara tabligh akbar berjudul “Menjalin Silaturahmi, Menjaga Keutuhan NKRI & Mewaspadai Pengaruh Syi’ah” di Masjid Agung Baiturrohman Sukoharjo Jawa Tengah (Jateng) pada Ahad (12/4/2015) pagi.
“Untuk mengukur Syi’ah itu sesat atau Kafir pedomannya bukan perkataan Saiq Aqil atau Umar Syihab atau orang yang dikasih fulus sama Syi’ah seperti mereka-mereka itu. Tapi ukuran Syi’ah itu Kafir atau tidak yang jadi rujukannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah,” jelas anggota MUI Jatim ini.
“Sekarang coba KTP mereka disuruh ganti agamanya ditulis Syi’ah, pasti mereka akan diusir dan ditendang oleh pemerintah Saudi. Lha mereka itu bisa masuk ke Mekkah karena didalam KTP mereka agamanya tertulis Islam,” tandas Habib Zein. [GA]
SUKOHARJO (Panjimas.com) – Tokoh Nahdhatul Ulama (NU) Jawa Timur (Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf mengatakan bahwa perbedaan yang ada didalam ajaran Islam dan ajaran Syi’ah bukan hanya terdapat dalam masalah furu’iyyah atau cabang semata, namun juga dalam persoalan ushul atau aqidah.
Hal ini dikatakan Habib Zein saat menjadi pemateri dalam acara tabligh akbar berjudul “Menjalin Silaturahmi, Menjaga Keutuhan NKRI & Mewaspadai Pengaruh Syi’ah” di Masjid Agung Baiturrohman Sukoharjo Jawa Tengah (Jateng) pada Ahad (12/4/2015) pagi. (Baca: Ribuan Umat Islam Sukoharjo Banjiri Tabligh Akbar Mewaspadai Pengaruh Bahaya Syi’ah di Indonesia)
Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini menjelaskan, rukun Islam dan rukun iman antara Islam dan Syi’ah saja sudah berbeda, maka sungguh aneh jika masih ada sejumlah tokoh di Indonesia yang selalu berkata dan menabur syubhat ditengah-tengah masyarakat bahwa Syi’ah dan Islam hanya berbeda dalam urusan furu’.
“Sekarang kita lihat dan perhatikan dengan seksama perbedaan yang ada didalam Islam dan Syi’ah. Rukun iman yang ada didalam Islam itu ada 5, sedangkan rukun iman Syi’ah itu ada 6. Rukun iman ini bukan masalah furu’, tapi sudah masuk dalam persoalan ushul,” jelas Habib Zein dihadapan ribuan jama’ah yang hadir.
“Kemudian dalam hal penghormatan kepada para sahabat juga berbeda. Didalam Al Qur’an sudah sangat jelas sekali Allah memuliakan dan meridhoi para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Syi’ah dengan terang-terangan telah melecehkan, menghina dan bahkan mengkafirkan para sahabat mulai Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Utsman dan sahabat mulia lainnya,” ungkap Ketua PWNU Jatim ini.
“Jadi untuk membedakan apakah ajaran didalam Islam dan Syi’ah itu berbeda dalam hal ushul, kita tidak usah mendengarkan perkataan orang-orang Syi’ah yang sedang bertaqiyyah itu. Tapi kita lihat saja langsung didalam kitab-kitab rujukan orang Syi’ah seperti ushul Kaffi karya Al Kulaini,” tegas Anggota MUI Jatim ini. [GA]

JAKARTA (Panjimas.com) – Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi’i Ma’arif menilai Sunni dan Syi’ah bukanlah ajaran asli dari Al Qur’an. Ia mengumpamakan bila ingin mengambil air yang bersih itu di hulu, jangan di hilir. Sedangkan Sunni dan Syi’ah keduanya ada di hilir, maka hal itu bukan persoalan yang pokok.
Sepeti dilansir Republika pada Kamis (16/4/2015), ia mengatakan jika Sunni dan Syi’ah tidak ada di zaman nabi. Sunni dan Syiah adalah hasil yang diciptakan oleh sejarah karena pertentangan politik orang arab waktu itu. Kemudian hal itu menjalar ke theologi atau aqidah, dan sistem berfikir yang berlanjut hingga sekarang.
Menanggapi hal itu, Ketua Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim), Habib Achmad Zein Alkaf menyatakan bahwa Syafi’i Ma’arif sudah pikun dan tidak tahu menahu tentang sejarah persoalan antara umat Islam Ahlu Sunnah dengan Syi’ah.
“Lebih baik saya katakan dia sudah pikun, dari pada saya katakan sebagai penjual Aqidah. Untung sudah tidak jadi Ketua Muhammadiyah,” tegas anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim ini kepada Panjimas.com pada Kamis (16/4/2015).
Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) ini menambahkan, dengan adanya statemen-statemen nyleneh dari sejumlah tokoh Islam dan lebih cenderung membela Syi’ah telah membuktikan kepiawaian orang-orang Syi’ah dalam melobi dan mempengaruhi para tokoh Islam di Indonesia.
“Ini semua menunjukkan kepandaian tokoh-tokoh Syi’ah melobi tokoh-tokoh kita. Dia kira perbedaan Syi’ah dengan Ahlu Sunnah itu seperti perbedaan NU dengan Muhammadiyah. Maklum bermilyar-milyar dolar Syi’ah hamburkan dalam pemurtadan di Indonesia,” jelasnya. [GA]


[Baca...]





Zaidiyah dan Al Hautsi Serta Cikal Bakal Pemberontakan di Yaman

Selasa, 14 April 2015 - 05:58 WIB
Para keturunan Badruddin inilah yang sekarang menjadi para pemimpin kelompok Al Hautsi (Al Houthi) dalam melawan pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Saudi
Oleh: Dr Adil Bana’imah

HARI ini, sudah masuk dua pekan operasi  militer bertajuk “Aashifatul Hazm(Badai Penghancur) yang dipimpinan Arab Saudi menyerang pemberontak Syiah Hautsi (Syiah al-Houthi atau Hautsiyyun) sejak dimulainya operasi ini hari Kamis (26/03/2015) oleh Dewan Kerja Sama Negara-Negara Arab Teluk (GCC).
Hanya saja, hingga saat ini masih banyak terjadi kerancuan dalam masyarakat dalam permasalahan terkait pemberontak Al Hautsi (Syiah al-Houthi). Siapakah mereka? Apakah mereka termasuk kelompok Zaidiyah? atau Syiah? Maka saya sampaikan tulisan ringkas ini, semoga bisa memberikan pencerahan tentang hakikat mereka.
Sebagaimana diketahui bahwasanya dahulu Zaidiyah merupakan mazhab mayoritas sebelum revolusi  rakyat Yaman menetapkan untuk menghidupkan kembali ijtihad Imam As-Syaukani yang lebih dekat kepada mazhab Ahlus Sunnah, dan sebelum persatuan Yaman berkontribusi dalam penyebaran Mazhab Syafi’i.
Mazhab Zaidiyah dinisbatkan kepada seseorang dari yang bernama Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain bin Ali rahimahumullah. Zaid ini membelot dari rezim Hisyam bin Abdul Malik penguasa Dinasti Umayyah dengan bujukan dari penduduk Kufah (syiah). Ketika mereka mengetahui bahwasanya Zaid tidak mengkafirkan Abu Bakar dan Umar, serta tidak menghina para sahabat, mereka menghinanya dan menolaknya, kemudian Zaid tewas dalam salah satu pertempuran melawan pasukan Hisyam.
Di dalam kitabnya -Siyar A’laminnubala- Imam Adz Dzahabi meriwayatkan bahwasanya suatu hari Zaid didatangi oleh sekelompok orang dari Kufah, sepulangnya ia dari bertemu dengan penguasa Iraq, Yusuf bin Umar, yang merupakan orangnya Hisyam. Lalu mereka -orang-orang Kufah- berkata: “Wahai Zaid, kembalilah maka kami pasti membaiatmu, Yusuf bukanlah siapa-siapa”. Ia pun menuruti perkataan mereka, dan bersiap perang (melawan Yusuf).
Diriwayatkan pula dari Isa bin Yunus, beliau berkata: sekelompok Syiah Rafidhah mendatangi Zaid kemudian berkata, “Berlepas dirilah engkau dari Abu Bakar dan Umar agar kami menolongmu”. Maka Zaid menjawab, “Tidak akan, bahkan aku berwala’ kepada mereka”. Kemudian kaum Rafidhah tersebut berkata, “Kalau begitu kami menolakmu (رفض)”. Sejak saat itulah mereka disebut Rafidhah. Adapun Zaidiyah mengikuti perkataannya dan berperang bersamanya.
Sekte Zaidiyah ini telah lama mengakar di Yaman semenjak Yahya Hamiduddin sukses memisahkan Yaman dari kekuasaan Turki, dan mendirikan negara Zaidiyah hingga tahun 1962 di saat meletusnya revolusi Yaman, dan di saat itu pula berakhir kekuasaan Zaidiyah di Yaman, walaupun hingga saat ini eksistensi mereka tetap kuat.
Mayoritas Zaidiyah mengakui keabsahan Khilafah Abu Bakar dan Umar serta tidak melaknat mereka, bahkan mereka ber-taraddhi (mendoakan keridhaan Allah) bagi mereka dan mengakui keabsahan Khilafah Utsman terlepas dari beberapa hal yang mereka anggap kesalahan yang melekat dalam diri Utsman.
Secara garis besar Zaidiyah memiliki kesamaan dengan Ahlus Sunnah dalam masalah ibadah dan kewajiban-kewajiban, kecuali beberapa hal kecil dalam masalah furu’.
Mereka tidak meyakini adanya Imam Mahdi yang ditunggu kedatangannya, dan mereka juga tidak meyakini bahwasanya para imam terbebas dari dosa sebagaimana yang diyakini Syiah. Di kalangan Zaidiyah sendiri mucul banyak ulama besar yang kemudian mereka menjadi bagian Ahlus Sunnah seperti: Ibnul Wazir, As Syaukani, dan As Shan’ani.
Tidak ada satupun dari kelompok Zaidiyah ini yang menyimpang kecuali 3 kelompok, dan mereka saat ini hampir hilang eksistensinya; Al Jarudiyyah, As Solihiyyah, dan Al Batriyyah. Ketiga kelompok ini dalam akidahnya lebih condong kepada sekte Syiah 12 Imam (Itsna ‘Asyariyyah), khususnya Al Jarudiyyah yang kelompok ini dinisbatkan kepada Abu Aljarud Al Hamadzani, yang disebutkan tentang dirinya bahwa dia mati karena minum khamr (minuman keras).
Nah, dari Jarudiyah inilah muncul Al Hautsi (atau juga Syiah Al Houthi) yang saat ini melakukan pemberontakan di Yaman. Kemudian mereka menambah-nambahi dalam agama secara berlebihan (ghuluw) dan bidah, sehingga tak ada sedikitpun hubungan antara Al Hautsi dengan Zaidiyah. Oleh karena itu adalah suatu kesalahan apabila memikulkan tanggungjawab kepada madzhab Zaidiyah dan menuduh mereka dalang pemikiran dibalik aksi para Al Hautsi (Al Houthi).
Al Hautsi (Al Houthi) yang ada di zaman sekarang dinisbatkan kepada seseorang yang bernama Badruddin Al Hautsi yang sudah wafat sejak 4 tahun yang lalu  dan pada awalnya dia memunculkan pemikiran-pemikiran Al Jarudiyah yang sesat dan menggabungkan pemikiran-pemikiran tersebut dengan beberapa pemikiran Syiah Imamiyah. Karena hal tersebut terjadilah perselisihan antara Badruddin dengan para ulama Zaidiyah yang menyebabkan dia melarikan diri ke Iran dan hidup di sana beberapa lama, sambil menimba ilmu-ilmu sesat dari Syiah Imamiyah, kemudian dia kembali ke Yaman pada tahun 2002 untuk menyebarkan pemikiran yang ia dapat dari Iran, antara lain; bahwa para sahabat terlaknat dan mereka telah kafir, wajibnya menerapkan khumus (pungutan 1/5 harta untuk ahlul bait/imam), dan hal-hal lainnya yang sesuai dengan ajaran Syiah Imamiyah. Mereka juga mengirim para pemuda Sha’adah (basis mereka) untuk belajar di Kota Qom dan Najaf. [Baca: Siapa Pemberontak Syiah Hautsi Yang Diperangi Koalisi Negara Arab? [1]]
Para keturunan Badruddin inilah yang sekarang menjadi para pemimpin kelompok Al Hautsi (Al Houthi) dalam melawan pemerintah Yaman dan koalisi pimpinan Saudi. Badruddin Al Hautsi adalah penyeru paham Syiah, dan anaknya yang bernama Husain merupakan pendiri sesungguhnya Harakah Syabab Mu’min (cikal bakal dari tanzim angkatan bersenjata Al-Hautsi yang lebih dikenal saat ini sebagai Harakah Ansarullah) dan anaknya yang kedua yang bernama Abdul Malik inilah yang merupakan pemimpin pasukan mereka dalam perang yang terjadi saat ini yang banyak disiarkan di berbagai media massa. Husain telah terbunuh 10 tahun lalu oleh pasukan Yaman, sedangkan sang ayah telah mati 4 tahun yang lalu, dan tersisa hingga saat ini sang anak – Abdul Malik- yang terus menerus menyebarkan kerusakan di muka bumi.*
Penulis adalah dosen Universitas Ummul Qura, Makkah, tulisan ini awalnya dimuat  di situs banaemah.com dan dimuat ulang oleh  Manhajuna.com
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Syia

[Baca...]





Apa Kata Imam Bukhari Dan Imam Syafii Rahimahumallah
Tentang Syi`ah ?

KIBLAT.NET – sebulan yg lalu (medio Maret 2015) Perdebatan tentang kesesatan aliran Syiah dan masih menjadi perbincangan akhir-akhir ini semakin memanas. Terutama setelah hashtag #SyiahBukanIslam ramai di media sosial, disusul dengan spanduk-spanduk dengan kalimat yang sama di beberapa daerah merespon serangan Syiah ke jamaah Masjid Az-Zikra Sentul.
Konon, Syiah dibagi menjadi tiga: Syiah moderat, Syiah Rafidhah dan Rafidhah Ekstrem. Apakah mereka semua sesat? Saya mencoba mengulasnya secara historis bagaimana sebenarnya faktanya berdasarkan analisis para ulama.
Spanduk Bertuliskan “Syi’ah Bukan Islam” Bertengger di Masjid Gedhe Kraton Kasultanan Yogyakarta

Asal Usul Syiah
Anda mungkin pernah mendengar dialog antara ulama Sunni dan Syiah tentang orang-orang Syiah yang suka mencuri sandal pada zaman Nabi SAW. Dialog berakhir setelah ulama Syiah membantah kebiasaan mencuri itu karena Syiah belum ada pada masa itu.
Tidak diketahui dari mana sumber kisah ini, ada yang mengatakan bahwa itu hanya lelucon untuk Syiah saja. Namun hal itu menimbulkan pertanyaan, yang bukan lelucon  bagaimana, benarkah Syiah belum ada pada masa Nabi? Lantas kapan Syiah muncul? Berikut beberapa pendapat, terutama dari ulama-ulama Syiah sendiri:

Syiah muncul pada awal Islam pada zaman Nabi saw dan dibawa oleh Beliau sendiri. Beliau menyeru kepada tauhid dan pengagungan Ali secara bersamaan. Pendapat ini diyakini oleh para ulama Syiah seperti Muhammad Husein Az-Zain,[1] An-Nubakhti,[2] Khamaeini.[3] Bahkan Hazan Asy-Syirazi mengatakan, “Tidak ada Islam kecuali Syiah. Tidak ada Syiah kecuali Islam. Islam dan Syiah adalah dua nama yang hakikatnya adalah satu yang diturunkan oleh Allah dan kabar gembira yang dibawa Rasul.”[4]

Syiah muncul pada perang Jamal, ketika Ali berperang dengan Thalhah dan Zubair. Pendapat ini diyakini oleh Ibnu Nadim (Abul Faraj Muhammad bin Ishaq Al-Baghdadi, dikenal sebagai penganut mu’tazilah dan syiah). Ia mengklaim bahwa orang-orang yang berjalan bersama Ali dan mengikutinya pada waktu itu, mereka disebut Syiah.[5]

Syiah muncul pada perang Shiffin. Ini adalah pendapat Al-Khuwansari, Ibnu Hamzah Ath-Thusi, Abu Hatim, Ibnu Hazm, dan Ahmad Amin.[6]
Syiah muncul setelah kematian Husein ra. Ini adalah pendapat Kamil Musthafa Asy-Syaibi. Ia  adalah ulama  Syiah. Mengklaim bahwa Syiah setelah kematian Husein berubah menjadi aliran yang memiliki ciri khas.[7]

Syiah muncul pada akhir kekuasaan Utsman dan menguat pada masa Ali.[8]
Pendapat yang mengatakan bahwa Syiah sudah ada pada zaman Nabi SAW dan kata-kata Syiah telah beredar luas pada masa itu beliau tidaklah bersandar kepada dalil apa pun kecuali kepalsuan.

Ulama Syiah, Muhammad Mahdi Al-Husaini Asy-Syirazi mengatakan,[9] “Mereka dinamai oleh Rasul dengan sebutan itu (Syiah) karena beliau memberikan isyarat kepada Ali as:
هَذَا وَشِيعَتُهُ هُمُ الْفَائِزُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Ini (Ali) dan kelompoknya, merekalah yang menang pada hari kiamat.”[10]
Namun ini adalah pendapat palsu. Seperti disebutkan oleh Muhammad Al-Husein di Ashlusy Syi’ah wa Ushuliha, pendapat yang mengatakan bahwa lafaz Syiah sudah ada pada zaman Nabi hanya bersandar pada kepalsuan.

Syiah menguatkan pendapat itu dengan riwayat yang direka-reka atas nama Nabi saw. Tidak ada yang shahih satu pun. Ulama Syiah sendiri, Ibnul Hadid, mengatakan, “Sumber kepalsuan dalam hadits-hadits keutamaan (fadhail) adalah dari Syiah. Pada awal  masalah ini, Syiah membuat banyak hadits palsu tentang keutamaan imam-imam mereka. Mereka mereka-reka hadits ini untuk alat permusuhan.” [11]

Menurut para peneliti[12]pendapat yang lebih kuat adalah pendapat ketiga, yakni Syiah muncul setelah perang Shiffin, ketika khawarij membelot dan membentuk kelompok sendiri di Nahrawan. Pada sisi lain yang berlawanan dengan Khawarij, muncullah para pengikut dan pendukung Ali yang menjadi cikal bakal pemikiran Syiah dan menguat secara bertahap sampai ekstrem.

Analisis tersebut menunjukkan adanya kesamaan dalam proses lahirnya kesesatan dan aliran menyimpang, mulai dari kaum Nuh masa lalu, Syiah, Khawarij, Nawashib, sampai Yazidi di Irak. Khawarij lahir dari kekecewaan kepada pihak tertentu, lalu berkembang menjadi kebencian, pengafiran dan penghalalan darah.
Tidak berbeda, Syiah lahir dari dukungan kepada Ali bin Abi Thalib, lalu menjadi kecintaan yang berlebihan bahkan sampai menuhankannya. Ali bin Abi Thalib sendiri pada masa hidupnya telah membakar orang-orang yang menuhankan dirinya. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu Abbas ia mengatakan, “Suatu ketika Ali memerangi dan membakar orang-orang zindiq (Syiah yang menuhankan Ali).”


Syiah pada Masa Ulama Hadits dan Imam Mazhab
Tahapan perubahan keyakinan aliran Syiah terus berkembang. Definisi-definisi ulama ahli hadits dan rijalul hadits menunjukkan adanya perbedaan antara Syiah masa lalu dan masa itu. Hal ini dapat dilihat dari definisi yang diungkapkan oleh Ibnu Hajar:
التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان ، وأن عليا كان مصيبا في حروبه ، وأن مخالفه مخطئ ، مع تقديم الشيخين وتفضيلهما ، وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا ، لا سيما إن كان غير داعية
وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض ، فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة
‘Tasyayyu’ dalam definisi para ulama masa lalu (salaf), ialah meyakini bahwa Ali lebih utama daripada Utsman, atau bahwa Ali di pihak yang benar dalam semua peperangannya, dan bahwasanya pihak yang menyelisihinya adalah keliru, dengan tetap meyakini Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) lebih utama dan mulia daripada Ali. Sebagian dari kaum Syiah (masa lalu) mungkin saja menganggap Ali sebagai manusia paling mulia setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Bila orang yang berkeyakinan seperti itu adalah seorang yang wara’, taat beragama, jujur, dan berangkat dari hasil ijtihad; maka hadits yang diriwayatkannya tidaklah ditolak semata-mata karena keyakinan tersebut. Lebih-lebih bila ia tidak mengajak orang lain kepada pemikirannya.

Sedangkan istilah tasyayyu’ dalam definisi ulama masa sekarang (ulama setelah generasi salaf) ialah Rafidhah tulen. Maka seorang Syiah ekstrem tidak bisa diterima riwayatnya, dan tidak bernilai sama sekali. (Tahdzib At-Tahdzib, 1/81)
Di tempat lain, Ibnu Hajar berkata:
والتشيع محبة على وتقديمه على الصحابة فمن قدمه على أبي بكر وعمر فهو غال في تشيعه ويطلق عليه رافضي وإلا فشيعي فإن انضاف إلى ذلك السب أو التصريح بالبغض فغال في الرفض وإن اعتقد الرجعة إلى الدنيا فأشد في الغلو
Tasyayyu’ adalah mencintai Ali dan mengutamakannya dibanding semua sahabat lain, dan jika mengutamakannya diatas Abu Bakar dan Umar maka dia tasyayyu’ ekstrem yang disebut Rafidhah dan jika tidak maka disebut Syiah, Jika diringi dengan mencela dan membenci keduanya maka disebut Rafidhah ekstrem. Jka mempercayai Raj’ah bahwa Ali kembali ke dunia maka disebut Rafidhah yang sangat ekstrem. (Hady As-Sari Muqaddimah Fathil Bari, 1/460)
Definisi Ibnu Hajar dalam dua kitab tersebut menunjukkan bahwa ada beberapa karakter dalam aliran Syiah:

Tasyayyu’=Syiah: Mencintai Ali dan mengutamakannya daripada sahabat lain dengan tetap meyakini Abu Bakar dan Umar lebih utama daripada Ali.
Tasyayyu’ ekstrem=Rafidhah: Mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar.
Rafidhah ekstrem: Mencela Abu Bakar dan Umar
Rafidhah sangat ekstrem: meyakini Raj’ah (hidupnya kembali imam-imam Syiah di akhir zaman).

Artinya, ada Syiah yang tidak ekstrem dan Syiah ekstrem yang disebut Rafidhah dengan tiga karakter masing-masing. Namun, menurut Imam Adz-Dzahabi, Syiah Ekstrem pada masa lalu dan masa sekarang memiliki perbedaan karakter. Hal ini diungkapkan dalam kitabnya:
فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو من تكلم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا – رضي الله عنه وتعرض لسبهم والغالي في زماننا وعرفنا هو الذى يكفر هؤلاء السادة ويتبرأ من الشيخين ايضا فهذا ضال معثر ولم يكن ابان بن تغلب يعرض للشيخين اصلا بل قد يعتقد بأن عليا أفضل منهما (ميزان الاعتدال 1/118).
“Penganut Syiah ekstrem pada zaman para salaf dan menurut definisi mereka, ialah orang yang mengritik dan mencela Utsman, Zubair, Thalhah, Muawiyah dan sejumlah kalangan yang memerangi Ali.
Sedangkan penganut Syiah Ekstrem pada zaman kita dan yang kita definisikan ialah mereka yang mengkafirkan para tokoh itu (para sahabat) dan memusuhi Abu Bakar dan Umar. Orang seperti ini jelas sesat dan tergelincir.” (Mizanul I’tidal, I/118).

syiah2
Adz-Dzahabi berbicara dalam konteks jawaban atas pertanyaan bagaimana penganut akidah Syiah bisa diambil haditsnya dan bisa dianggap tsiqah. Maka beliau menjelaskan bahwa Syiah masa lalu dan Syiah pada zamannya berbeda. Artinya, perawi Syiah yang diambil haditsnya pada masa lalu itu tidak sama dengan para penganut Syiah pada masa Imam Adz-Dzahabi. Syiah yang bisa dipercaya itu tidak ada dan tidak ditemukan pada masa hidup Imam Adz-Dhahabi. Hal ini diungkapkan olehnya:
فما استحضر الان في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مامونا بل الكذب شعارهم والتقية والنفاق دثارهم فكيف يقبل نقل من هذا حاله حاشا وكلا
Saat ini aku tidak mengetahui ada seorang pun (penganut Syiah) dalam masalah ini, yang memiliki kejujuran dan bisa dipercaya. Sebaliknya, berdusta telah menjadi semboyan mereka. Taqiyah (bermuka dua) dan kemunafikan telah menjadi jubah mereka. Bagaimana mungkin orang yang seperti ini bisa diterima riwayatnya? Sama sekali tidak mungkin.” (Mizanul I’tidal, I/118).
Perlu disebutkan bahwa definisi adalah uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.[13] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.[14] Definisi merupakan usaha para ilmuwan untuk membatasi fakta dan konsep.[15] Artinya, definisi berubah ketika faktanya berubah. Definisi Syiah oleh Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi menunjukkan hal ini, karena fakta Syiah masa lalu tidak sama dengan Syiah masa sekarang.

SYiah

Perubahan Sikap Ulama terhadap Syiah
Perbedaan karakter Syiah masa lalu dan masa selanjutnya melahirkan sikap yang jelas dan tegas dari para ulama. Imam Bukhari di kitab Khalqu Af’alil ‘Ibad mengatakan:
ما أبالي صليتُ خلف الجهمي والرافضي أم صليت خلف اليهود والنصارى؛ ولا يسلَّم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم
“Aku tidak membedakan apakah aku shalat bermakmum di belakang seorang penganut Jahmiyah atau Rafidhah, ataukah bermakmum di belakang Yahudi dan Nasrani (semuanya tidak sah). Mereka tidak boleh disalami, tidak boleh dibesuk ketika sakit, tidak boleh dinikahi (wanitanya), tidak dilayat jenazahnya, dan tidak boleh dimakan sembelihannya.”

Imam Bukhari sangat tegas. Penulis kitab hadits yang dinilai sebagai kitab paling shahih setelah Al-Qur’an tersebut menyamakan Syiah dengan Yahudi dan Nasrani. Tidak ada ucapan salam, tidak dilayat jenazahnya, tidak dinikahi wanitanya, dan tidak dimakan sembelihannya adalah konsekuensi terhadap orang yang murtad dan keluar dari Islam.
Para Imam Mazhab juga tidak kalah tegas dalam hal ini. Imam Ahmad seperti disebutkan dalam kitab As-Sunnah (1/493), pernah ditanya oleh Abdullah putranya:
سألت أبي عن رجل شتم رجلاً من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ما أراه على الإسلام
“Aku bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang mencaci salah seorang sahabat Nabi SAW. Maka ayah menjawab, ‘Menurutku ia tidak berada di atas Islam’.”
Imam Asy-Syafi’i mengatakan:
لم أر أحداً من أصحاب الأهواء، أكذب في الدعوى، ولا أشهد بالزور من الرافضة
“Saya tidak pernah melihat seorang pun di antara para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam pengakuan dan lebih bohong dalam kesaksian daripada Rafidhah.” (Al-Ibanah, II, 545).

Syiah Hari Ini dan Sikap Ulama
Syiah hari ini dapat dilihat dengan jelas di Iran. Karakter dan keberadaan Syiah di beberapa negara lain, termasuk Indonesia mulai tampak jelas dengan pecahnya revolusi Suriah. Terutama pada pertengahan 2013 saat kekuatan militer rezim
Syiah Bashar Asad mulai melemah. Masuknya Hizbullah Lebanon dalam pertempuran Qushair pada pertengahan Mei-Juni 2013 telah mengundang perhatian ulama dunia untuk bersikap. Salah satunya adalah pertemuan ulama dunia di Kairo Mesir pasca peristiwa itu, yang melahirkan fatwa kewajiban umat Islam untuk menolong Ahli Sunnah Suriah yang dizalimi.
Yang terbaru adalah pemberontakan Syiah Hautsi Yaman yang telah merebut Ibukota Shan’a pada September 2014 lalu.

Yaman adalah basis Syiah Zaidiyah, yang dikenal dalam sejarah sebagai kelompok Syiah yang dekat dengan ahli Sunnah. Sebagian kalangan menyebutnya Syiah Moderat. Zaidiyah dinisbatkan kepada imam mereka, Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib (80-122H). Imam Zaid memimpin revolusi melawan Bani Umayyah pada masa Hisyam bin Abdul Malik (122H).

Sekte Zaidiyah masih mengakui kekhilafahan Abu Bakar dan Umar. Mereka juga enggan untuk melaknat keduanya sebagaimana sekte-sekte Syiah yang lain. Namun, Syiah Zaidiyah hari ini telah berubah. (baca: Pergeseran Zaidiyah). Wilayah Saada, Yaman Utara tempat bermukim mereka telah menjadi basis kekuatan kelompok Hautsi, yang berkiblat kepada Iran, terutama setelah pemimpin mereka, Badrudin Al-Hautsi, pulang dari Iran.

Dr. Yusuf Qardhawi Menyesali :
Sebelumnya beberapa ulama ahli sunnah berupaya mendekatkan (taqrib) Suni dan Syiah. Salah satu wujudnya adalah penandatanganan Risalah Amman tahun 2004 oleh para ulama Suni dan Syiah, dengan tiga poin kesepakatan, yang mengarah kepada upaya saling menghormati.

Namun, tokoh besar yang ikut menandatangani Risalah tersebut, Dr Yusuf Al-Qardhawi,  hari ini menyatakan telah tertipu oleh Syiah. Kezaliman Syiah terhadap Ahli Sunah Suriah telah menyadarkannya. Ulama kelahiran Mesir tersebut menceritakan pengalamannya di banyak negara menjelaskan bahwa Syiah bukan hanya satu golongan saja. Namun fakta kekejaman Syiah di Suriah membuat beliau menyatakan:
الشيعة خدعوني.. وحزب الله كذبة كبيرة
“Syiah telah menipuku.. dan Hizbullah adalah pendusta besar.”[16]
Ketua Persatuan Ulama Sedunia tersebut juga mengatakan, revolusi Suriah menampakkan dan menjelaskan hakikat Hizbullah dan  pendukungnya yang tertipu oleh setan. Mereka, menurutnya, tidak pantas disebut hizbullah (tentara Allah), tetapi hizbusy Syaithan (tentara setan).[17]

Konklusi
Sejarah telah menunjukkan perbedaan yang jelas antara Syiah masa lalu dan masa sekarang. Syiah yang bisa dipercaya itu sdh tidak ada pada zaman Imam Adz-Dzahabi yang hidup pada tahun 673-748 Hijriah, apalagi sekarang? Sikap ulama terhadap Syiah juga tegas, ketika hakikat Syiah telah jelas bagi mereka. (Agus Abdullah)
-----------------------------------
Referensi:
[1] Syi’ah wa At-Tasyayyu’, 19.
[2] Firaq Asy-Syi’ah, An-Naubakhati, 39.
[3] Al-Hukumah Al-Islamiyah, 136.
[4] Asy-Sya’air Al-Husainiyyah, 11.
[5] Al-Fahrasat, Ibnu Nadim, 249.
[6] Nama Ahmad Amin adalah dua orang. Kedua-duanya adalah penulis. Pertama adalah seorang Mesir penulis buku Dhuha Al-Islam wa Fajrul Islam wa bada’a Al-Islam. Kedua adalah seorang rafidhah penulis kitab At-Takamul fil Islam.
Syi’ah wa At-Tasyayyyu’, 25.
[7] As-Shilah baina At-Tashawwuf wa At-Tasyayyu’, 23.
[8] Risalah f Ar-Radd ala Ar-Rafidhah, 42.
[9] Qadhiyatu Asy_Syi’ah, 3.
[10] Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di Tarikh Dimasyq, 24/333 dan Ibnu Al-Ghathrif di Juz’inya dari Abu Sa’id Al-Khudri, Al-Albani mengatakan dalam Adh-Dhaifah, hadits ini palsu (maudhu’).
[11] Syarh Nahjul Balaghah, 1/783
[12] Lihat Ensiklopedi Aliran yang Berafiliasi kepada Islam,
[13] Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
[14] Departemen Pendidikan Nasional(2008);Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 303. Cet Pertama Edisi IV.
[15] Parera, J.D.(2004);Teori Semantik.Jakarta :Penerbit Erlangga.Hal 200- Cet. 2
[17] http://www.qaradawi.net/new/takareer/6663–q-q-



[Baca...]