GOLONGAN-GOLONGAN PENENTANG
AHLI SUNNAH WALJAMA`AH, ke-1

(Diterjemahkan dari Kitab A`lamussunnah, Ma`alim Inthilaqatul Kubro, Syaikh Moh Hadi al Mishri, penerj. Abu Fahmi)

Golongan Pertama : KHAWARIJ

Ahli Sunnah Waljama`ah tidak menghukum kelompok lain kecuali dengan dasar ilmu dan keadilan. Berbeda dengan yang dilakukan ahli tafarruq dan ahli ikhtilaf, mereka mebuat bid`ah menentang Ahli Sunnah menurut sangkaan dan hawa nafsu.
Demikian besar perhatian orang terhadap masalah firqah-firqah ini sehingga banyak buku yang membahas tentangnya. Bahkan mereka menyebutkannya dalam penulisan-penulisan makalah. Akan tetapi, untuk memastikan golongan yang disifati sebagai salah satu dari 72 golongan diperlukan dalil. Karena Allah mengharamkan perkataan tanpa didukung ilmu secara umum, dan mengharamkan perkataan tentang Allah tanpa didukung ilmu secara khusus. Hal ini juga diperlukan karena pada kenyataannya banyak orang yang memberitakan perihal firqah-firqah ini hanya berdasarkan hukum sangkaan dan hawa nafsu, sehingga ia mengklaim kelompoknya dan para simpatisannya –para pendukung- sebagai Ahli Sunah Waljama`ah, serta menjadikan para penentangnya sebagai ahli bid`ah. Inilah kesesatan yang nyata. (Juz 3:346)

Firqah-firqah terkemuka yang menentang as-Sunnah adalah Khawarij, Rafidlah, Murji`ah, Qadariyah, dan Jahmiyah. Dalam menentukan firqah-firqah ini, Ahli Sunnah Waljama`ah mengelompokannya menjadi empat atau lima kelompok, yaitu Khawarij, Rafidlah, Qadariyah, Murji`ah, dan Jahmiyah.
Bid`ah yang diikuti oleh para pengabdi hawa nafsu –yang masyhur di kalangan ahli ilmu tentang Sunnah- te  lah menyalahi Kitab dan as-Sunnah, seperti bid`ah yang dilakukan oleh kelompok Khawarij, Rafidlah, Qadariyah, dan Murji`ah. Telah berkata Abdurrahman bin Mahdi: “Ada dua golongan yang perlu diwaspadai, yaitu Jahmiyah dan Rafidlah. Keduanya merupakan kelompok terjahat ahli bid`ah.” (Juz 35:414)

Adapun untuk menentukan golongan-golongan yang binasa –menurut berita yang pertama kali sampai kepada kami-  kami memegang pembicaraan yang pertama kali dilontarkan Yusuf bin Asbath dan Abdullah Ibnul Mubarak. Mereka adalah imam yang agung dari kalangan kaum muslimin. Kedua imam itu pernah berkata bahwa pokok-pokok bid`ah ada empat, yaitu Rafidlah, Khawarij, Qadariyah, serta Murji`ah. Dikatakan kepada Ibnul Mubarak: “Bagaimana tentang Jahmiyah?” Beliau menjawab : “Mereka tidak termasuk umat Muhammad,” beliau pun pernah berkata, “sungguh kami bisa berkisah tentang perkataan Jahmiyah kami tidak bisa menceritakannya.” Pendapat Ibnul Mubarak itu diikuti oleh kelompok ulama dari pendukung Imam Ahmad dan selain mereka. Ulama-ulama tersebut mengatakan: “Sesungguhnya Jahmiyah adalah kafir. Mereka tidak termasuk ke dalam 72 golongan, sebagaimana halnya kaum munafik yang tidak masuk ke dalam golongan tersebut, yang menyembunyikan kekufuran dan menampakan keislaman mereka, sedangkan mereka adalah zindiq.” Pendukung-pendukung Imam Ahmad lainnya berkata: “Jahmiyah termasuk ke dalam 72 golongan.” Dan mereka menjadikan pokok pangkal bid`ah itu ada lima.(Juz 3:350)

Manusia yang membagi bid`ah menjadi beberapa bagian. Di antara mereka ada yang membagi berdasarkan waktu kejadiannya, dalam hal ini mereka memulai dengan Khawarij. Ada pula yang membaginya menurut berat dan ringan perbuatan bid`ah mereka. Kelompok ini memulai dari Murji`ah dan berakhir sampai Jahmiyah, sebagaimana banyak dilakukan oleh para shahabat Imam Ahmad, seperti Abdullah dan puteranya dan lain-lain juga Al-Khallal, Abi Abdillah bin Baththah, Abil Faraj Al-Maqdisi, dan lainnya. kelompok ini menempatkan golongan Jahmiyah pada urutan terakhir, mereka Jahmiyah merupakan pelaku bid`ah terberat. Hal ini sama dengan Bukhari dalam shahihnya. Ia menempatkan Murji`ah (menurut kitab Al-Iman)pada urutan pertama, dan (menurut kitab At-Tauhid) menempatkan Jahmiyah pada urutan terakhir. (Juz 13:49)

Khawarij
Khawarij merupakan golongan pertama yang keluar dari Sunnah dan jama`ah.
Kaum muslimin telah bersepakat dalam persoalan kekhilafahan Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Hingga pada akhir pemerintahan Utsman bin `Affan terjadilah perselisihan yang menyebabkan perpecahan di kalangan mereka. Muncullah pada masa itu segolongan penyebar fitnah dan kezhaliman yang membunuh Utsman, sehingga kaum muslimin menjadi terpecah-pecah setelah itu. Tatkala terjadi perang saudara antar kaum muslimin, tepatnya Perang Shiffin, di antara kedua belah pihak bersepakat untuk mengangkat dua orang juru bicara sebagai pendamai. Maka ketika itu muncullah golongan Khawarij yang keluar dari barisan Ali, mereka tidak lagi mengakui Ali sebagai Amirul Mukminin. Mereka juga memisahkan diri dari Jama`ah kaum muslimin, menuju suatu tempat yang terkenal dengan nama Harura`. Amirul Mukminin membiarkan mereka seraya berkata : “Kalian tetap berhak mendapatkan fa`I (harta rampasan), dan kami tidak melarang kalian memasuki masjid-masjid.” Pada akhirnya mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Mereka pun membunuh Abdullah bin Khabbab dan menyerang kawasan ternak kaum muslimin. Maka tahulah Ali bahwa mereka adaah sebuah kelompok sebagaimana disebutkan Rasulullah dalam sabdanya:
“Seseorang dari kamu akan meremehkan shalatnya bersama shalat mereka, dan puasanya bersama puasa mereka, dan bacaannya bersama bacaan mereka. Mereka membaca Al-Qur`an tetapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Seorang pendatang dari kalangan mereka tanganya cacat, tumbuh gumpalan daging penuh dengan rambut.”

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Mereka membunuh pengikut Islam, sementara membiarkan para penyembah berhala bebas lalu lalang.”
Kemudian Ali berkhutbah dan member tahu orang-orang tentang apa-apa yang didengarnya dari Rasulullah, beliau berkata: “Merekalah kaum yang menumpahkan darah yang diharamkan (tanpa hak) dan menyerbu kerumunan manusia.” Kemudian Ali memerangi mereka, ia mendapati tanda-tanda itu setelah hampir-hampir tidak ada. Lalu ia bersujud syukur kepada Allah.(Juz 13:32)
Bid`ah-bid`ah pertama –seperti bid`ahnya Khawarij- tak lain hanyalah karena pemahaman mereka yang keliru terhadap Al Qur`an, mereka tidak bermaksud menentangnya, namun di dalam memahaminya tidak mengikuti dalil yang semestinya. Sehingga mereka menyangka ada keharusan untuk mengkafirkan para pelaku dosa. Mereke beralasan, jika seseorang itu mukmin, tentulah ia baik dan bertakwa. Mereka berkata:”Siapa pun yang tidak berbuat baik dan bertakwa maka ia kafir da kekal di dalam neraka.” Mereka berkata lagi :”Utsman dan Ali beserta siapa saja yang mendukung kepemimpinan mereka, bukanlah orang beriman, karena mereka telah bertahkim kepada selain yang diturunkan Allah.” Oleh karena itu, bid`ah mereka memiliki dua alasan: Pertama, siapa yang menyalahi Al Qur`an dengan amal atau pendapat yang salah, maka ia telah kafir. Kedua, Utsman dan Ali, serta para pengikut mereka termasuk kafir.

Oleh sebab itu, wajib bagi kita menghindari pengkafiran terhadap seorang muslim karena semata-mata melakukan dosa dan kesalahan, sebab hal demikian termasuk bid`ah yang pertama kali muncul di dalam Islam. Pembuat bid`ah ini mengkafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah serta harta mereka. Hal ini telah diriwayatkan oleh dejumlah hadits shahih dari Nabi tentang seruan untuk mencela tindakan mereka dan memerangi mereka. Berkata Imam Ahmad bin Hambal:”Telah sah hadits yang menerangkan perihal mereka melalui sepuluh jalan.” Imam Muslim telah mengeluarkannya dalam kitab shahihnya, dan Bukhari mengeluarkan sepenggal darinya. Sekalipun mereka tercela, masih ada keinginan untuk mengikuti Al Qur`an. Maka terhadap orang yang bid`ahnya menentang Al Qur`an dan berpaling darinya, tentulah lebih jahat dibandingkan mereka. (Juz 13:20)

Golongan Khawarij tidak berpegang pada tuntutan as-Sunnah, kecuali jika dapat ditafsiri secara global dan menurut mereka tidak bertentangan dengan zhahir Qur`an. Mereka tidak menetapkan hukum rajam bagi pezina, dan menganggap tidak perlu adanya nisab dalam pencurian. Mereka berpendapat bahwa di dalam Al Qur`an tidak ada hukuman bunuh untuk orang murtad. Murtad menurut mereka terbagi menjadi  dua jenis. Dan pendapat kaum Khawarij mengenai hal ini kami ketahui dari riwayat orang-orang tentang mereka, bukan dari kitab-kitab tertulis. (Juz 13:48)

Apabila telah diketahui pokok pangkal bid`ah, maka pokok perkataan Khawarij adalah bahwa mereka mengkafirkan muslim karena perbuatan dosanya, dan menganggap sesuatu yang bukan dosa menjadi dosa. Mereka hanya mau mengikuti Al Qur`an tanpa mau mengikuti as-Sunnah yang menyalahi zhahir Qur`an –sekalipun bertaraf mutawatir- dan mengkafirkan siapa pun yang menyalahi pendapat mereka. Mereka menghalalkan milik orang Islam karena menurut mereka telah murtad –sesuatu yang tidak mereka halalkan dari orang-orang kafir asli. Rasulullah bersabda tentang hal ini: “Mereka membunuh orang Islam, tetap membiarkan bebas para penyembah berhala.” Pantaslah jika mereka mengkafirkan Utsman dan Ali serta para pendukung kepemimpinan mereka. Khawarij pun mengkafirkan para pengikut Perang Shiffin dari kedua belah pihak, dan masih banyak lagi pendapat mereka yang lebih jahat dari itu. (Juz 3:355)

Awal mula timbulnya bid`ah dan tafaruq di dalam Islam adalah setelah terbunuhnya Utsman dan perpecahan kaum muslimin. Ketika Ali dan Mu`awuyah bersepakat atas hakim, kaum Khawarij menentangnya. Mereka berkata: “Tidak ada hakim kecuali Allah. Tidak ada hukum kecuali milik Allah.” Kemudian mereka memisahkan diri dari jama`atul muslimin, sehingga diutuslah seseorang oleh Ibnu Abbas kepada mereka untuk berdebat. Maka separo dari mereka kembali, sedangkan lainnya tetap menyerang kaum muslimin dan menumpahkan darah mereka. Lalu mereka membunuh Ibnu Khabbab sambil berkata: “Kami semualah yang membunuhnya.” Ali pun memerangi mereka.

Akar madzhab mereka adalah pengagungan terhadap Al Qur`an dan tuntutan agar mengikutinya. Akan tetapi, mereka keluar dari as-Sunnah dan jama`ah. Mereka tidak mau mengikuti Sunnah yang mereka anggap bertentangan dengan AlQur`an, seperti rajam, nishab pencurian, dan lainnya, sehingga mereka menjadi sesat. Sesungguhnya Rasulullah lebih mengetahui segala sesuatu yang diturunkan Allah kepadanya, dan Allah telah menurunkan kepadanya Al-Kitab dan Al-Hikmah. Tetapi, mereka menganggap bahwa Nabi mungkin saja melakukan kezhaliman, sehingga menyebabkan mereka tidak mematuhi hukuman Nabi dan Imam-imam sesudahnya. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Utsman dan Ali beserta para pendukung mereka telah berhukum kepada selain yang diturunkan Allah, seraya mensitir firman Allah: “Dan barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Al Maidah 44). Dengan dalil inilah mereka mengkafirkan kaum muslimin.
Dalam mengkafirkan kum muslimin, mereka –demikian pula ahli bid`ah lainnya- semata-mata berdasarkan pada dua alasan yang batil. Pertama, golongan ini menyalahi (menentang) Al Qur`an. Kedua, barang siapa menentang Al Qur`an, menurut mereka, harus dikafirkan, sekalipun kesalahan atau dosanya masih disertai pengakuan terhadap wajib dan haramnya.(Juz 13:208)



[Baca...]





كيف نتعامل مع أبنائك ؟
(Kajian SDM Guru, hari Jum`at, 31-01-2013, oleh : Ust. Abu Fahmi SMPIT Imam Bukhari Jatinangor),
Masa Kanak-kanak merupakan masa yang paling penting dalam kehidupan manusia. Masa ini merupakan tahap awal bagi proses pertumbuhan seorag  anak untuk menjadi manusia dewasa.  Apakah dia akan menjadi manusia normal atau manusia sakit. Oleh karena itu, seluruh penyakit kejiwaan – hampir dapat dipastikan – adalah akibat dari kesalahan  dalam memahami karakteristika fase masa kanak-kanak dan tuntutan-tuntutannya.
Rasa takut, marah, suka ngompol, senang bertengkar, dusta, mencuri dsj   kelak akan berubah menjadi  sebuah penyakit apabila  disikapi dan diperlakukan dengan cara yang  salah atau menyimpang…
إن مرحلة الطفولة تعتبر أهم مرحلة في حياة الإنسان،ففيها بداية التشكيل والتكوين وعليها سيكون الإنسان بعد ذلك: سويا أو مريضا، فجميع الأمراض النفسية –تقريبا- تنشأ نتيجة لسوء فهم طبيعة هذه المرحلة ومتطلبها ، فالغضب والخوف والانطواء والتبول اللا إرادى والشجار والكذب والسرقة وغير ذلك من أمراض تنشأ في بداية هذه المرحلة إن أسئ لى الطفل فيها ولم يعامل المعاملة التربوية السليمة.
---------------------
ماثواب تربية الأبناء؟
إن عليك مسئولية أمام الله سوف تسأل عنها..
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية، وعلم ينتفع به ، وولد صالح يدعو له.. مسلم
ياأيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا ... التحريم 6
علموا أنفسكم وأهليكم الخير (رواه الحاكم في مستدركه 4:494)،
أن يؤدب المسلم نفسه وأهله، فيأمرهم بالخير وينهاهم عن الشر، بترك المعاصى وفعل الطاعات ، وأهليكم بأن تؤاخذوهم بما تؤاخذون به أنفسكم..(قال مقاتل وفخر الرازى في الكشاف)
أخرج مسلم عن أبى هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : دينار أنفقته في سبيل الله ، ودينار أنفقته في رقبة ، دينار تصدقت به على مسكين ، ودينار أنفقته على أهلك ، أعظمها الذي أنفقته على أهلك.
وقد روي القضاعى عن ابن عباس وأبو نعيم في الحلية : طلب الحلال جهاد.. وروي الطبرانى عن أبى مسعود : طلب الحلال فريضة، وروى ابن عساكر عن أنس: من مات كالا في طلب الحلال مات مغفورا له.... (منهج التربية النبوية للطفل ص. 33)
---------------------------
فلا بد من بذل الجهد والعمل الدؤوب فيإصلاح الأطفال وتصحيح أخطاءهم على الدوام ، وتعويدهم الخير ، وهذا سبيل الأنبياء والمرسلين ، فلقد دعا نوح ابنه إلى الإيمان، ووصى إبراهيم بنيه بعبادة الله وحده ، وهكذا.. لذلك قرر الإمام الغزالى رحمه الله في رسالته (أيها الولد) أن معنى التربية يشبه عمل الفلاح الذى يقلع الشوك ، ويخرج النباتات الأجنبية من بين الزرع ، ليحسن نباته ، ويكمل ريعُهُ (وهو النماء وزيادة).
إن الاسلام دين أسرة ويقرر تبعة المؤمن في أسرته وواجبه في بيته، والبيت المسلم هو نواة الجماعة الاسلامية ...
الركن الرئيس في هذا لعمل هي : مما يساعد الأب على تربية طفله ، ورعايته في العملية التربوية ، الزوجة الصالحة التى تنفهم دورها ووطيفتها وتقوم بهما على أحسن وجه...
إن البيت قلعة من قلاع هذه العقيدة ، ولابد أن تكون قلعته متماسكة من داخلها، حصينة في ذاتها، كل فرد منها يقف على ثغرة لا ينفذ إليها،.... وواجب المؤمن أن يؤمن هذه القلعة من داخلها، واجبه أن يسد الثغرات فيها قبل أن يذهب عنها بدعوته بعيدا. ولابد من أم المسلمة، فالأب المسلم وحده لا يكفى لتأمين القلعة، لا بد من أب و أم ليقوما كذلك على الأبناء والبنات... إن أول الجهد ينبغى أن يوجه إلى البيت ، إلى الزوجة إلى الأم ، ثم إلى الاولاد وإلى الأهل بعامة، ويجب الاهتمام البالغ بتكوين المسلمة لتنشء البيت المسلم، فينبغى لمن يريد بناء بيت مسلم أن يبحث له أولا عن الزوجة المسلمة ، وإلا .. والله أعلم
----------------------------
أول ما يلحظ فى هذا الحديث الشريف (إذا مات ابن آدم...) : أن الأعمال الثلاثة التى تنفع الإنسان بعد موته إنما هي ثمرات يجنيها المسلم من تربية لأبنائه.. فابنك الذى علمته الإسلام قد تعلم أن بره لوالديه من طاعة الله، وهي من أوائل ما يتعلمه ويشب عليه ومن بره بوالديه أن يدعولهما بعد مماتهما. هذه واحدة.
ثم إن تعليمك له الصلاة والصيام والخلق الحسن وغيرها من صالح الأعمال هي علم ينتفع به ، فهذه ثانية. والجميل جدا في العمل الثالث وهو الصدقة الجارية فأنت تعلمه الصلاة فتثاب على صلاته، كما يثاب هو، وعندم يتزوج يعلم أولاده ماعلمته إياه فيصلون فتثاب كما يثابون،  وهذا باقي الأعمال الصالحة

KANDUNGAN HADITS:
Terdapat 3 amal hamba yang bermanfaat baginya setelah wafatnya,  yang merupakan  “BUAH  AMAL TARBYAH”  dari Hamba terhadap anak-anaknya atau peserta didiknya ,yang bisa jadi tak didapat dari amalan-amalan lain.
Anak Anda yang telah dididik dgn didikan Islam yang benar, akan mengetahui bahwa “Birrul walidain” merupakan ketaatan kepada Allah Tabaroka Ta`ala
--------------------------------------------------------------------

Itulah pelajaran pertama yang di dapatkan lalu dia amalkan hingga dewasa. Diantara bentuk “Birrul Walidain” adalah mendoakannya setelah keduanya wafat. Inilah BENTUK PERTAMA dari Shadaqah Jariyah.
Lalu anda mengajarkan kepada anak Anda tentang shalat, puasa dan akhlak mulia serta perbuatan terpuji lainnya. Inilah yang dimaksud dengan ILMU NAFI`, merupakan BENTUK KEDUA dari Shadaqoh Jariyah.
Lebih dari itu semua, yang merupakan SHADAQAH JARIYAH KETIGA, yaitu mengajarkan kepada anakl Anda, maka Anda pun akan mendapatkan pahala dari shalatnya sebagamana dia mendapatkan pahala. Dan apabila ia menikah, iapun mengajarkan kepada anaknya apa-apa yang Anda ajarkan kepada anak anda, kemudian anaknya melaksanakannya,  maka pahalanya akan terus mengalir kepada Anda. Demikian pula dengan amal-amal shalih lainnya… sebagaimana sabda Nabi Saw, diriwayatkan oleh Imam Muslim berikut :
إن الله سائل كل راع عما استرعاه ، أحفظ أم ضيع ؟ حتى يسأل الرجل
عن أهل بيته... الحديث.
Sesungguhnya Allah SWT akan menanyakan kepada setiap pemimpin dalam perkara yang dipimpinnya apakah ia menjaganya atau menyia-nyiakannya ? Bahkan seorang ayah (suami) akan ditanyakan perihal keluarganya
-----------------------------------------------------------------
{إن الله سبحانه يسأل الوالد عن ولده يوم القيامة قبل أن يسأل الولدعن والده، فإنه كما أن للأب على ابنه حقا فللابن على أبيه حق، فمن أهمل تعليم ولده ماينفعه وتركه سدى ، فقد أساء غاية الإساءة وأكثر الأولاد إنما جاء فسادهم من قبل الآباء، وإهمالهم لهم وترك تعليمهم فرائض الدين وسننه فأضاعوهم صغارا فلم ينتفعوا بأنفسهم، ولم ينفعوا آباءهم كبارا، كما عاتب بعضهم ولده علىة العقوق فقال: ياأبت إنك عققتنى صغيرا فعققتك كبيرا وأضعتنى وليدا فأضعتك شيخا}..
(منهج التربية النبوية للطفل، محمد نور سويد، قاله الإمام ابن القيم رحمه الله)
Sesungguhnya Allah SWT  akan menanyakan pada seorang ayah perihal anaknya pada hari Kiamat seblum anak ditanya perihal ayahnya, sebab seorang ayah mempunyai hak atas anak nya sebagaimana halnya anakpun mempunyai hak atas ayahnya.
Barangsiapa yang lalai (tak peduli) mengajarkan anaknya pada hal-hal yang bermanfaat baginya, maka ia telah melakukan perbuatan yang sangat buruk. Sebab sebagian besar kerusakan anak terletak pada pundak orangtuanya (ayahnya), seringkali mereka lalai mengajarkan  kewajiban-kewajiban agama, sehingga menjadikan masa kecil anak-anak nya tidak beermanfaat, setelah dewasa pun meereka tidak manfaat bagi orangtuanya, sehingga sering kita loihat seorang bapak mencaci anaknya karena durhaka, kemudian si anak membantahnya, “Wahai ayah, engkau telah menyai-nyiakanku pada waktu kecilku, maka sekarang akupun akan menyia-nyiakanmu, engkau menyia-nyiakan masa kanakku mka aku pun akan menyia-nyiakan masa tuamu.
----------------------------------------------------------------
{من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا}...
{وأن ليس للإنسان إلا ما سعى} سورة النجم 39.
Kaidah ilmiyah yg umum : Bahwa seorang tidak akan memperoleh pahala kecuali atas usahanya sendiri. Sementara anak merupakan hasil usaha orangtua dan bahkan sebaik-baik usaha mereka. Oleh karenanya anak masuk ke dalam keumuman ayat di atas.
-------------------------------------
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
إن من أطيب ما أكل الرجل من كسبه، وولده من كسبه (رواه أبو داود، الترمذى ، النسائ، ابن ماجه وأحمد، عن عائشة رضي الله عنها)
أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله إن لي مالا وولدا وإن والدي يجتاح مالي. قال : أنت ومالك لوالدك  وإن أولادكم من أطيب كسبكم فكلوا من كسب أولادكم..
(حديث حسن، رواه أبو داود، ابن ماجه وأحمد وغيره)
عن عائشة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ولد الرجل من كسبه من أطيب كسبه، فكلوا من أموالهم. (راه أبو داود)
-----------------------
كيف تعامل طفلك ؟
 ما هي خصائص الأطفال ؟
لماذا يتحرك ابنك كثيرا ؟ ولماذا يحاول دائما فك الأجهزة واللعب ؟
هل يمكن حرمان الطفل من اللعب ؟ كيف توفر الحب والأمن لطفلك؟
الطفل يسأل في كل وقت وفي أي وقت، هل يمكن التهرب من أسئلة الطفل ؟
وما حاجات الطفل ؟ وما هي أساليب الإثارة والتشوق ؟ وكيف يحب ابنك الحديث معك ؟
-----------------------------------------------------
IDENTIFIKASI  KARAKTERISTIK  ANAK
[SIFAT-SIFAT KHUSUS ANAK]

من خصائص الأطفال : كثرة الحركة وعدم الاستقرار -الميل لاكتساب المهارات – العناد – حب التنافس والتناحر – عدم التمييز بين الصواب والخطأ – حب اللعب والمرح – شدة التقليد – التفكير الخيالى – كثرة الأسئلة – حب التشجيع – حدة الانفعالات – الميل للفك والتركيب – النمو اللغوى سريع – الذاكرة حادة آلية
(1). Energik, tak bisa diam dan  banyak  bergerak,
(2).  Cenderung  untuk menggapai  Kemahiran  (skill),
(3).  Cenderung  melawan dan membangkang, (4). Suka  berlomba dan  adu  nyali
(5).  Tidak  mampu  membedakan  mana  benar dan mana  salah
(6).  Suka  bermin  dan  canda  ria, (7).  Daya  imitasi dan  identifikasi yang  tinggi
(8).  Kaya  akan  imaginatif,  (9).  Banyak  Bertanya
(10).  Senang  dipuji,  (11).  Sensitif,  (12).  Senang Bongkar Pasang
(13).  Cepat dalam  perkembangan bahasa,
(14). Memiliki  memori  yang  kuat.
-----------------------------------------------------------

IDENTIFIKASI  KEBUTUHAN  ASASI  ANAK

حاجات الطفل :
المسكن المناسب– الملبس – الاخراج – الغذاء – الوقاية والعلاج – الحرية – النوم – النجاح – اللعب – التقدير – البحث والاستطلاع – الحب – الأمن – والتقبل
Tempat Tinggal yg sesuai – Pakaian – Buang Air – Makanan –
Preventif dan kuratif – Kebebasan – Tidur – Keberhasilan (kesuklsesan) – Bermain -  Apresiasi (Penghargaan) -  Suka  meneliti dan mengamati – Kasih sayang -  Rasa aman – dan Ciuman (belaian kasih)

----------------------------------------------------------

BERINTERAKSI  DENGAN METODE  YANG  MENARIK

أساليب الإثارة والتشويق :
وسائل الايضاح – التشبيه – التمثيل – تغيير الحركات الوجه ونبرات الصوت – الأسئلة – الأمثلة – التغنى بالكلام العادى – التخطيط والرسم الكاريكاتور – الحركات والألعاب الرياضية والترفيهية – القصة والرواية – الأسئلة المفاجئة – الوعد بالمكافأة مقدما – المقدمة الشيقة – عدم الالتزام الترتيب – الخاتمة الشيقة
Media  (alat bantu) – penyerupaan -  perumpamaan -  Perubahan raut muka dan alunan suara -  pertanyaan -  melantunkan (melagukan)  kata kata-  tulisan indah, karikaturis,  kaligrafi -  gerakan, olahraga  dan  rekreasi (out bond  dsj)- Kisah dan bibigrafi -  Pertanyaan  yg  tiba tiba dan menarik – Janji memberi  imbalan/hadiah – Pembukaan yg menarik – Tidak mesti  berurutan saat mengabsen -  penutupan yang menarik .
-------------------------------------------------------------------------------
TUGAS KITA :  SEMUA  KELOMPOK MGMP
ADALAH MENELAAH, MEMAHAMI DAN MENERAPKAN  3  KONSEP DI ATAS : IDENTIFIKASI  SIFAT ANAK,  KEBUTUHAN ANAK, DAN MENCARI METODE YANG TEPAT
(Sumber utama : Fannu Tarbiyatun Awlad fil Islam -Seni mendidik Anak, I, Syaikh Dr. Moh Said Mursi;  Pustaka  al Kautsar Jakarta, 2003.
Dan buku Manhajut Tarbiyah an Nabawiyah Lith Thifl, Syaikh Dr. Moh Nur Suwaid,  Cara Nabi mendidik Anak, Solo)
TUGAS KHUSUS  UNTUK GURU  PAI  DAN BTAQ :
Saksikan dan Simak  PBAQ Syaikh Fahd al Kandary
Dalam 30 episode safarinya di  sejumlah negara,
Untuk  membangkitkan ghiroh dan spirit  Menghafal Qur’an, lalu merumuskan  Langkah, Metode dan Media Pembelajaran Tahfizh al Qur`an secara Terstruktur
--------------------------------------------------------

[Baca...]





8 Amalan Agar Dapat Menemani Rasulullah di Surga
Oleh: Badrul Tamam
Senin, 25 Muharram 1435 H / 28 Oktober 2013

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Dekat dengan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah kenikmatan yang agung. Karenanya para sahabat beliau adalah manusia-manusia terbaik dari umat ini. Menemani sang utusan dengan iman mengangkat kedudukan mereka di atas manusia-manusia mulia sesudahnya. Ini kebersamaan dengan beliau di dunia, lalu bagaimana dengan membersamai beliau di akhirat?
Pastinya, membersamai beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam di akhirat jauh lebih utama lagi. Pastinya, orang yang menemani beliau di surga berada pada tingkatan tertingginya. Karenanya kita temukan beberapa sahabat sangat berkeinginan membersamai atau menemani beliau di sana. Apakah kita juga berkeinginan mendapatkan derajat yang sangat mulia ini? berikut ini beberapa amal dan doa yang menjadi sebab kita mendapatkan keutamaan agung ini.

1. Mutaba’ah (mengikuti) & taat kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-Nisa’: 69)
Disebutkan dalam Al-Mu’jam al-Kabir milik Al-Thabrani, dari Ibnu Abas Radhiyallahu 'Anhuma: ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku mencintaimu sehingga aku ingin menyampaikan kepadamu jika aku datang dan tidak melihatmu maka aku merasa nyawaku keluar. Aku juga sampaikan kalaulah aku masuk surga dan berada di bawah tempatmu maka hal itu sangat menyedihkan buatku. Aku ingin satu tingkat bersama dirimu. Maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak menjawab sedikitpun sehingga Allah 'Azza Wa Jalla menurunkan ayat di aats. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memanggilnya dan membacakan ayat tersebut kepadanya.

2. Mencintai Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
Disebutkan dalam Shahihain, dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, berkata: Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang hari kiamat dan berkata, "Kapankah hari kiamat tiba?", beliau menjawab, "Apa yang engkau persiapkan untuk menghadapinya ?". Ia menjawab, "Tidak ada, melainkan saya mencintai Allah dan Rasul-Nya". Maka Rasulullah bersabda, "Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai."
Anas bin Malik berkata: "Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (di akhirat kelak).
Kemudian Anas berkata: “Sungguh saya mencintai Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, Abu Bakar dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (di akhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.” (HR. Bukhari)
Tetapi pecinta sejati yang akan mendapatkan kemuliaan ini adalah yang menempuh jalan orang yang dicintainya, mengikuti langkah-langkahnya, berada di atas manhajnya, dan mengambil petunjuknya. Ingat, Yahudi dan Nasrani mengaku mencintai para nabi mereka tetapi tidak mendapatkan nikmat menemani mereka di akhirat dikarenakan mereka menyalahi petunjuk para nabinya.
Kita lihat Abu Thalib sangat mencintai keponakannya namun tidak bisa membersaminya di akhirat karena ia tidak mengikuti Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam keimanan dan petunjuk. Siapa yang ingin bersama orang yang dicintainya ia harus menempuh jalan orang tersebut.
. . . Ingat, Yahudi dan Nasrani mengaku mencintai para nabi mereka tetapi tidak mendapatkan nikmat menemani mereka di akhirat dikarenakan mereka menyalahi petunjuk para nabinya. . . .
3. Memperbanyak Shalat Sunnah
Disebutkan dalam Shahih Muslim, Rabi'ah bin Ka'ab Al Aslami Radhiyallahu 'Anhu bercerita bahwa dia pernah bermalam bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Kemudian ia meyiapkan air wudhu dan keperluannya. Beliau lalu bersabda kepadaku, "Mintalah sesuatu kepadaku", saya berkata, "Saya meminta agar saya bisa bersamamu di surga.” Beliau menjawab, "Adakah permintaan selain itu", saya berkata, "hanya itu.” Beliau lalu bersabda, "Maka bantulah aku atas dirimu (untuk memohon kepada Allah agar memenuhi permintaanmu) dengan memperbanyak sujud (shalat)".” (HR. Muslim)
Dari hadits ini, Ibnul Qayyim mengatakan, “apabila kamu ingin mengetahui tingkatan semangat, maka lihatlah kepada semangatnya Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslami Radhiyallahu 'Anhu, di mana Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda kepadanya, “Mintalah sesuatu kepadaku”, lalu ia berkata, “Saya meminta agar saya bisa menemanimu di surga,” sementara orang selainnya meminta sesuatu yang memenuhi perutnya atau menutupi kulitnya.” (Madarij al-Saalikin: 3/147)
Hadits ini juga menjadi dalil bahwa membersamai Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam di akhirat kelak tidak diperoleh hanya dengan berangan-angan semata, harus dibuktikan dengan amal nyata.

4. Berakhlak Mulia
Dari Jabir Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
Sesungguhnya orang yang paling saya cintai dan paling dekat majelisnya denganku di antara kalian hari kiamat kelak (di surga) adalah yang paling baik akhlaknya…". (HR. Al-Tirmidzi dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)

5. Memperbanyak Membaca Shalawat
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً
Manusia yang paling utama (dekat) denganku hari kiamat kelak adalah yang paling banyak bershalawat atasku.” (HR. Al-Tirmidzi, dan disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad)
Al-Munawi Rahimahullah menjelaskan makna hadits di atas, yaitu orang yang paling dekat kepadaku (Rasulullah) dan paling dimuliakan dengan syafa’atku serta paling berhak terhadap limpahan kebaikan-kebaikan dan dihindarkan dari keburukan-keburukan pada hari kiamat. (Lihat: Faidhul Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir: 2/560)

6. Merawat, Menyantuni & Membantu Anak Yatim
Berbuat baik kepada anak-anak yatim termasuk sebab keberuntungan di akhirat dengan mendapatkan surga tertinggi. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Saya dan orang yang merawat anak yatim di surga kelak seperti ini,” seraya beliau mengisyaratkan jari tengah dan telunjuknya lalu merenggangkan keduanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Imam al-Nawawi menjelaskan makna Kaafil al-Yatim: orang yang mengurusi kebutuhan-kebutuhannya. (Riyadhus shalihin. Bab: Mulathafah al-Yatim)
Ibnu Baththal Rahimahullah –disebutkan dalam  Fathul Baari- berkata: “wajib bagi siapa yang  mendengar hadits ini untuk mengamalkannya, supaya ia bisa menemani Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam di surga, dan tidak ada kedudukan di akhirat yang lebih utama darinya.”

7. Mendidik Anak-anak Wanita Agar Menjadi Mukminah Shalihah
Imam Bukhari meriwayatkan dalam al-Adab al-Mufrad, dari Anas Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تدركَا، دَخَلْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ
Barangsiapa yang memelihara (mendidik) dua wanita sampai mereka dewasa, maka saya akan masuk surga bersamanya di surga kelak seperti ini", beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya." (Imam Muslim juga meriwayatkan serupa dalam Shahihnya
Dalam Mushannaf Ibnu abi Syaibah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Siapa yang mempunyai dua orang saudari atau dua orang putri lalu ia berbuat baik kepada keduanya selama mereka bersama dirinya maka saya dan dia di surga seperti ini,” beliau mendekatkan kedua jarinya.

8. Memperbanyak Do’a
Yakni doa agar didekatkan dengan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan menemani beliau di akhirat. Dalil umumnya adalah apa yang diminta Rabi’ah kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam agar beliau mendoakannya untuk menemaninya di surga. Juga doa yang dipanjatkan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ
Ya Allah saya meminta kepada-Mu keimanan yang tidak akan berubah dengan kemurtadan, kenikmatan yang tiada putus, dan (aku memohon kepada-Mu) agar menjadi pendamping Muhammad shallallahu'alaihi wasallam di derajat tertinggi dari surga yang kekal." (HR. Ahmad dengan sanad shahih. Syaikh Al-Albani menyatakan isnadnya hasan). [Baca: Doa Menemani Rasulullah di Surga]

Doa ini bagian tawakkal hamba dalam mengusahakan sebab-sebab supaya bisa bersama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam di surga. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Diringkas dari tulisan DR. Mahran Maher Utsman yang berjudul: Murafaqah Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam fi Al-Jannah. Sumber: http://www.saaid.net.
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2013/10/28/27333/8-amalan-agar-dapat-menemani-rasulullah-di-surga/#sthash.ndpjFDsH.dpuf


[Baca...]




[Baca...]




[Baca...]