Sumber :
30 خطوة عملية لتربية الأبناء على العمل لهذا الدين.  
تأليف: سالم بن ماضي مصدر هذه المادة : الكتيبات الإسلامية.
www.ktibat.com,
Penerjemah: Abu Fahmi Ahmad, Ma`had Imam Bukhari Jatinangor,

Amma ba`du:
Anak-anak (dari keluarga muslim) merupakan potensi besar (aset) bagi umat ini. Tidak hanya itu, bahkan mereka merupakan harapan masa depan, sekaligus sebagai harta pusaka dan kekuatan inti, maka menjadi wajib bagi kita untuk benar-benar mampu memanejnya – bertanggung jawab penuh – terhadap potensi dan pusaka ini, agar mereka kelak mampu berkhidmat, mencintai agama dan mengamalkannya.
Kita tidak boleh mengabaikan generasi anak-anak dan menyia-nyiakannya. Menganggap seakan-akan  mereka itu tidak membawa (memberikan sinyal) pesan apapun. Pandangan seperti ini merupakan sebuah kekeliruan fatal yang banyak dilakukan para orang tua dan pendidik. Karenanya pemikiran-pemikiran dan gagasan dalam tulisan ini, tidak lain untuk memperbaiki pemahaman dan gambaran yang keliru tersebut.
Untuk itu saya berupaya menjadikan pemikiran-pemikiran dan gagasan ini tertuang dalam bentuk langkah praktis-aplikatif sehingga mudah dipahami dan diterapkan, yang sesuai dengan karakteristik, akal dan kejiwaan mereka, yang mengarahkan kepada mereka bagaimana (kelak) dapat berkhidmat dan mencintai agama ini.
Akhirnya...
Saya memohon (ber-isti`anah) kepada Allah Jalla Jalaluhu, agar memberikan kepadaku dan kepada kita semua  sebuah ketepatan dan kebenaran serta menjauhkan kesalahan dan ketergelinciran. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Pengabul doa.
Salim Sholih Ahmad Ibn Madhi
Keshalihan Ibu dan Ayah, merupakan "bibit utama" yang harus ada di awal dan paling utama dari seluruh langkah yang diperlukan, agar anak-anak mampu berhidmat dan membela (ajaran) agamanya. Dengan kesalehan keduanya, anak-anak akan menjadi baik. Anak-anak tumbuh sesuai yang dibiasakan orang tuanya. Sebab orangtua merupakan "bi'ah" (miliu, environment, lingkungan) pertama dan utama yang sangat menentukan "celupan" (shibghah) di masa depannya.
Penyebutan ibu di dahulukan dari pada ayah karena beban terbesar dalam pendidikan anak berada di pundak ibu, mengingat keberadaaan dan kebersamaannya yang lebih lama (lebih intens) dengan anak-anak, berbeda dengan ayah yang memang sibuk mencari rezeki (sesuai amanat ilahi). Menjadi keharusan bagi orasngtua yang shalih mendidik anak-anak agar tumbuh mencintai dan mengamalkan agama ini. Generasi yang demikian haruslah tumbuh dari lahan persemaian yang baik dan subur, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair, asy Syauqi:
الأم مدرسة إذا أعددتها
 أعددت شعبا طيب الأعراق
Ibu adalah madrasah jika engkau mempersiapkannya
Dengan mempersiapkannya berarti telah menyiapkan generasi yang harum namanya

Ibulah madrasah pertama yang menelurkan ulama, dai dan mujahid-mujahid pemberani. Karenanya ibu (istri) solehah amatlah penting dalam membangun masyarakat dan melahirkan generasi yang diberkahi. Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- pun mendorong dan memotivasi hal ini dengan sabdanya:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا  فاظفر بذات الدين تَرِبَتْ يَدَاك
Wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah agamanya maka engkau tidak akan menyesal.” [1]

Sungguh benar adanya...
Sungguh beruntung bagimu yang memilih istri solehah lagi berilmu, sehingga melahirkan untuk umat ini ulama.
Sungguh beruntung bagimu yang memilih istri mujahidah (pejuang), sehingga melahirkan untuk umat ini para kesatria.
Sungguh beruntung bagimu yang memilih istri pendakwah, sehingga melahirkan untuk umat ini para juru dakwah.
Sungguh beruntung bagimu yang memilih istri yang ahli ibadah, sehingga melahirkan untuk umat ini para ahli ibadah.
Sungguh beruntung bagimu ....

Mengapa demikian ? Sebab para ibu memiliki peran besar dan agung dalam membangun kepribadian anak dan dalam mendidik mereka agar (kelak mampu) mengamalkan agama ini. Demikian juga para ayah, yang memiliki peran besar yang tidak lebih kecil dari peran ibu.

Berikut beberapa peringatan yang patut diperhatikan:
Para orang tua hendaknya memperhatikan perkara penting yang memiliki pengaruh besar pada kepribadian anak yaitu interaksi antara orang tua. Interaksi antar kedua orang tua adalah pendidikan harian yang disaksikan langsung oleh anak-anak di depan mata mereka.
Yang Semestinya dilakukan orang tua:
Hendaknya keduanya saling menghargai, lebih lagi  jika berada di hadapan anak-anak.
Seharusnya tidak mempertontonkan perselisihan (pertikaian dan perseteruan) keduanya di hadapan anak-anak.
Mengikuti petunjuk Nabi dalam hak-hak pergaulan – mu`asyarah bil ma`ruf - serta saling komitmen dalam menjaga hak-hak dan kewajiban masingh-masing (ibu dan ayah).
* * *
Contoh Praktis Pentingnya Kesalehan Ibu Dan Ayah
Dalam Membangun Kepribadian Anak :
Ibu, saat mendengar kumandang adzan, seharusnya dan selalu berusaha menghentikan segala aktivitas dan meminta anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Menjelaskan kepada mereka bahwa Allah -subhânahu wata'âla- akan mencintai kita jika kita menunaikan shalat tepat pada waktunya. Kemudian segera berwudlu` dan melaksanakan shalat. (memerintahkan anak-anak yang laki-laki bergegas menuju masjid memenuhi kewajiban shalat berjama`ah, sementara ibu bersama anak putrinya melaksanakan shalat di rumahnya).
Dengan demikian anak-anak akan tumbuh sejak dini gemar melaksanakan shalat tepat pada waktunya...kenapa?  sebab mereka telah belajar sejak kecil bahwa siapa yang melaksanakan shalat pada waktunya akan dicintai oleh Allah. Sikap dan kebiasaan ini sangatlah membantu dalam memudahkan anak merealisasikannya.
* * *
Kisah pentingnya peran orang tua dalam membangun kepribadian anak:
Sejarah Islam telah merekam kisah-kisah dan contoh kepribadian anak yang dipengaruhi oleh kepribadian ayah dan ibu mereka. Di antaranya :

Kepribadian Seorang Ayah
Diceritakan bahwa keberanian Abdullah Ibn az-Zubair adalah pengaruh dari keberanian ayah dan ibunya -radiallahu'anhuma- yang ditirunya.
Al-Laits meriwayatkan dari Abul Aswad dari Urwah, katanya:
"Az-Zubair memeluk Islam dalam usia 8 tahun. Suatu ketika dia pernah terprovokasi oleh syetan bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- ditangkap di dataran tinggi Mekkah. Az-Zubair yang masih kanak-kanak, berusia 12 tahun keluar rumah sambil menenteng pedang, yang membuat setiap orang yang melihatnya terheran-heran, seraya berkata:
“Anak kecil menenteng pedang?!”
Hingga akhirnya bertemu Nabi. Nabi-pun turut terheran-heran menatapnya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai az-Zubair?!”
Az-Zubair mengabarkan (apa-apa yang terlintas dalam fikirannya) seraya berkata:
“Aku datang untuk memenggal siapa pun yang menangkapmu dengan pedangku ini!”[2]

Keberanian Sang Ibu
Cerita keberanian Asma binti Abu Bakar, Ibu dari Abdullah Ibnu az-Zubair -radiallahu'anhum-.
Imam adz-Dzahabi berkata:
Abu al-Muhayyah Ibn Ya’la at-Taymi Menceritakan kepada kami dari ayahnya, katanya:
“Aku masuk Mekkah setelah tiga hari terbunuhnya Ibnu az-Zubair yang terpasung. Ibunya yang sudah renta datang dan berkata kepada al-Hajjaj:
“Bukankah sekarang saatnya bagi yang terpasung untuk turun?”
“Si munafik?” Sela al-Hajjaj.
“Demi Allah, dia bukanlah orang munafik. Dia adalah anak yang senantiasa berpuasa, shalat malam dan berbakti pada orang tua.”  kilah Ibu Ibnu az-Zubair.
“Pergilah engkau wahai orang tua, engkau tengah berdusta.” Ucap al-Hajjaj.
Ibu Ibnu Zubair berkata lagi: “Tidak, demi Allah, aku tidaklah berdusta setelah Rasulullah bersabda:
في ثقيف كذاب ومبير
“Di Tsaqif akan ada pendusta dan orang yang zhalim[3]....”[4]

Keberanian Sang Anak :
Cerita keberanian Abdullah Ibn Zubair:
Ishaq Ibn Abu Ishaq berkata:
Aku hadir pada peristiwa terbunuhnya Ibnu az-Zubair, dimana para tentara masuk mengepungnya dari setiap pintu masjid. Ketika sekelompok pasukan masuk dari suatu pintu, Abdullah Ibn az-Zubair menghalau dan mengeluarkan mereka. Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba jatuh plafon masjid dan menimpanya sehingga membuatnya tersungkur. Dia melantunkan bait syair:
أَسْمَاءُ يَا أَسْمَاءُ لاَ تَبْكِينِي - لَمْ يَبْقَ إلاَّ حَسْبِي وَدِينِي - وَصَارِمٌ لاَثَتْ بِهِ يَمِينِي([5])
 Asma, wahai Asma[6] janganlah menangisiku
Tidak akan tertinggal selain kemuliaan dan agamaku
serta pedang yang tergenggam di tangan kananku[7]

Rasa Takut Sang Ayah:
Kisah rasa takut sang ayah, Fudhail Ibn Iyadh -rahimahullah- dan kekhawatirannya kepada Allah.
Muhammad Ibn Nâhiah berkata:
عن محمد بن ناحية قال:
صلَّيتُ خلف الفضيل فقرأ «الحاقة» في الصبح، فلمَّا بلغ إلى قوله {خُذُوهُ فَغُلُّوهُ}  غلبة البكاء..([8]).
"Aku shalat subuh bermakmum di belakang al-Fudhail. Dia membaca surat al-Hâqqah. Ketika sampai pada bacaan:
“(Allah berfirman): "Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” (QS. Al-Hâqoh:30)
Al-Fudhail tidak kuasa membendung tangisnya.[9]

Ishaq Ibn Ibrahim at-Thabari berkata:
“Aku tidak mengetahui seseorang yang lebih takut terhadap dirinya dan lebih perhatian kepada manusia dari pada al-Fudhail. Bacaan al-Qur'annya sangat menyentuh (qalbu), merindu, perlahan, dan syahdu, seolah ia sedang beraudiensi dengan seseorang. Jika bertemu pada ayat yang menyebutkan tentang surga, ia pun mengulang-ulanginya.[10]

Rasa Takut Anak Kepada Allah:
Kisah rasa takut dan khawatir seorang anak (Ali putra al-Fudhail Ibn 'Iyâdh)
Abu Bakar Ibn 'Iyâsy berkata:
"Aku shalat magrib di belakang Al-Fudhail Ibnu 'Iyadh, sementara putranya, Ali berada di sampingku. Al-Fudhail membaca:
عن أبي بكر بن عياش قال:
صلَّيت خلف فضيل بن عياض المغرب وابنه علي إلى جانبي فقرأ: {أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ * حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ * كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ * كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ * لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ * ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ * ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ}فلما قال: {لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ} سقط على علي وجهه مغشيًّا عليه، وبقى فضيل عند الآية ([11]).
 “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sungguh kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” QS at Takatsur.
Ketika sampai pada ayat:  “Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,”
Ali jatuh pingsan, sedangkan al-Fudhail terus melanjutkan bacaannya.[12]
وقال أبو سليمان الداراني: كان علي بن الفضيل لا يستطيع أن يقرأ {الْقَارِعَةُ} ولا تُقرأ عليه([13]).
Abu Sulaiman ad-Dârani berkata:
"Ali Ibn Fudhail tidak sanggup membaca surat al-Qori'ah atau dibacakan kepadanya."[14]

ANAK DAN KEDUA ORANG TUA
Habib Ibn Zaid Terpengaruh Oleh Kedua Orang Tuanya

Tentang Pengorbanan Ibu:
عن أنس قال:  خطب أبو طلحة أم سليم فقالت: إنه لا ينبغي أن أتزوَّج مشركًا!.. أما تعلم يا أبا طلحة أن آلهتكم ينحتها عبد آل فلان، وأنكم لو أشعلتم فيها نارًا لاحترقت؟ قال: فانصرف وفي قلبه ذلك، ثم أتاها وقال: الذي عرضت علي قد قبلتُ، فما كان لها مهرًا إلا الإسلام([15]).
Anas berkata:
"Abu Tolhah melamar Umu Sulaim. Umu Sulaim berkata kepada Abu Tolhah:
"Tidak patut bagiku menikahi lelaki musyrik. Tidakkah kamu tahu wahai Abu Tolhah bahwa tuhan-tuhanmu dibuat oleh Abdu Alu Fulan. Jika engkau bakar tuhan-tuhan itu niscaya akan terbakar."
Abu Tolhah pun berlalu, sedangkan dalam hatinya terngiang-ngiang apa yang dikatakan Umu Sulaim. Tak lama kemudian – setelah merenungkan apa yang dikatakan ummu Sulaim - dia datang lagi kepada Umu Sulaim seraya berkata:
"Apa yang telah engkau sampaikan (syaratkan) kepadaku aku terima. Maharmu adalah dengan memeluk Islam, dan tak ada mahar lainnya darimu untukku.

Pengorbanan Seorang Ayah:
Anas berkata:
"Ketika perang Uhud kaum muslimin terdesak dan terpisah dari Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-, sementara Abu Tolhah tetap bersama Rasulullah melindungi beliau dengan tombaknya. Abu Tolhah adalah seorang yang mahir memanah dan bertubuh kekar. Dia mampu mematahkan dua atau tiga busur sekaligus. Ketika ada seorang yang lewat membawa sekumpulan anak panah ada yang mengatakan:
فيقول: انثرها لأبي طلحة .. فأشرف النبي r ينظر إلى القوم، فيقول أبو طلحة: بأبي أنت وأمي، لا تشرف يصيبك سهم من سهام القوم، نحري دون نحرك([16]).
"Berikan anak-anak panah itu kepada Abu Tolhah."
Nabi -shalallahu alaihi wasallam- mengangkat kepala menoleh kearah  kaum tersebut, lalu Abu Tolhah berkata: "Demi ibu dan ayahku, janganlah mengangkat kepala sehingga terkena sasaran panah mereka. Biarlah leher-ku menjadi pelindung bagi leher-mu.[17]

Anak Yang Mati Syahid:
Ibnu Kasir menyebutkan dalam kitab al-Bidâyah wa an-Nihâyah:
قتله حبيب بن زيد، مسيلمة الكذاب، حين جعل يقول له: أتشهد أنَّ محمدًا رسول الله؟ فيقول: نعم، فيقول: أتشهد أني رسول الله؟ فيقول: لا أسمع، فجعل يُقطِّعه عضوًا عضوًا حتى مات في يديه وهو لا يزيد على ذلك([18]).
"Habib Ibn Zaid dibunuh oleh Musailamah al-Kadz-dzab[19].
Ketika Musailamah menginterogasi Habib, dia bertanya:
“Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah?" “Ya.” Jawab Habib.
“Apakah engkau bersaksi bahwa aku Rasulullah? Tanya Musailamah lagi.
Habib menjawab: “Aku tidak mendengar perkataanmu!”
(Musailamah pun marah besar) dan lalu mecincang Habib sambil mengulang-ulang pertanyaannya. Habib tidak bergoyah dalam sikapnya dan tetap menjawab seperti jawaban semula sampai akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya (sebagai syahid di sisi Allah) di tangan Musailamah.[20]

(*) Satu Langkah dari 30 Langkah Yang mesti ditempuh oleh Orangtua dalam mempersiapkan anak-anaknya konsisten dalam membela agamanya. Karya: Syaikh Salim bin madhi, penerjemah: Abu Fahmi Ahmad. www.alktibat.com.



[1] Sahih al-Bukhari no.5090, Kitab: Nikah, Bab: al-Akhiffa fi ad-Diin.
[2] Siar a’lam an-Nubala I/41-42.
[3] Sabda Rasulullah itu adalah ramalan beliau akan peritiwa yang akan terjadi setelah kematiannya. Ibu Ibnu az-Zubair merupakan salah satu sahabat Nabi dari kaum wanita. Al-Hajjaj adalah salah seorang penguasa yang lalim.
[4] Siar a’lam an-Nubala 2/294.
[5]سير أعلام النبلاء، (3/377).
[6] Asma adalah nama ibu dari Ibnu Zubair.
[7] Siar a’lam an-Nubala 3/377.
[8]سير أعلام النبلاء، (8/444).
[9] Siar a’lam an-Nubala 8/444.
[10] Siar a’lam an-Nubala8/427/428.
([11]) سير أعلام النبلاء (8/443-444).
[12] Siar a’lam an-NubalaVIII/443-444.
([13]) سير أعلام النبلاء، (8/445).
[14] Siar a’lam an-NubalaVIII/445.
([15]) سير أعلام النبلاء (2/306).
([16]) البخاري برق، (3811) والفتح، (7/506).
[17] al-Bukhari no.3811 dan Fathul bâri VII/506.
([18]) البداية والنهاية، (3/116).
[19] Seorang yang mengaku sebagai nabi setelah wafatnya Rasulullah –salallahu alaihi wasallam.
[20] Siar a’lam an-Nubala III/116.

[Baca...]



UPDATE , Sabtu 30 Juni 2012. 
PERIHAL HADITS KEUTAMAAN MALAM NISHFU SAY`BAN.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Di sebagian kalangan masyarakat masih tersebar ritual-ritual di malam Nishfu Sya’ban, entah dengan shalat atau berdo’a secara berjama’ah. Sebenarnya amalan ini muncul karena dorongan yang terdapat dalam berbagai hadits yang menceritakan tentang keutamaan malam tersebut. Lalu bagaimanakah derajat hadits yang dimaksud? Benarkah ada amalan tertentu ketika itu? Semoga tulisan kali ini bisa menjawabnya.

Meninjau Hadits Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud.
Pertama: Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini  munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if].
Kedua: Hadits ‘Aisyah, ia berkata,
قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْت أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ ، فَلَمَّا رَأَيْت ذَلِكَ قُمْت حَتَّى حَرَّكْت إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ : ” يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْت أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِك ؟ ” قُلْت : لَا وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْت أَنْ قُبِضْت طُولَ سُجُودِك ، قَالَ ” أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ ؟ ” قُلْت : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : ” هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ
Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan merampungkan shalatnya, beliau mengatakan, “Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu lama.” Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu malam apakah ini?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi ampunan ampunan pada orang yang meminta ampunan dan akan merahmati orang yang memohon rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang pendendam.” Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus sanadnya]
Ketiga: Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”Al Mundziri dalam At Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah hadits yang dho’if]
Keempat: Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ
Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.” Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini bermasalah].
Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di malam Nishfu Sya’ban,
يَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا مُشْرِكٌ أَوْ مُشَاحِنٌ
Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”. Al Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus]. Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَيُمْهِلُ الْكَافِرِينَ وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ
“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban,  Dia akan mengampuni orang yang beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia meninggalkan orang yang pendendam.” Al Baihaqi mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini pun dho’if].
Keenam: Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَّا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Apabila malam nisfu Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al Madani. Ada yang menyebut namanya adalah ‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad. Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, “Imam Al Bukhari dan ulama lainnya mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di antara maudhu’ dan dho’if]
Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Wallahu Ta’ala a’lam.”[1]
Keterangan Ulama Mengenai Kelemahan Hadits Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban
Ibnu Rajab di beberapa tempat dalam kitabnya Lathoif Al Ma’arif memberikan tanggapan tentang hadits-hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.
Pertama: Mengenai hadits ‘Ali tentang keutamaan shalat dan puasa Nishfu Sya’ban, Ibnu Rajab mengatakan bahwa hadits tersebut dho’if.[2]
Kedua: Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.”[3] [Tanggapan kami, “Ibnu Hibban adalah di antara ulama yang dikenal mutasahil, yaitu orang yang bergampang-gampangan dalam menshahihkan hadits. Sehingga penshahihan dari sisi Ibnu Hibban perlu dicek kembali.”]
Ketiga: Mengenai menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat malam, Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Mengenai shalat malam di malam Nishfu Sya’ban, maka tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabatnya. Namun terdapat riwayat dari sekelompok tabi’in (para ulama negeri Syam) yang menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat.”[4]
Ada tanggapan bagus pula dari ulama belakangan, yaitu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, ulama yang pernah menjabat sebagai Ketua Lajnah Ad Da’imah (komisi fatwa di Saudi Arabia). Beliau rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menerangkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadits-hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan sandaran. Adapun hadits yang menerangkan mengenai keutamaan shalat pada malam nishfu sya’ban, semuanya adalah berdasarkan hadits palsu (maudhu’). Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh kebanyakan ulama.”[5]
Begitu juga Syaikh Ibnu Baz menjelaskan, “Hadits dhoif barulah bisa diamalkan dalam masalah ibadah, jika memang terdapat penguat atau pendukung dari hadits yang shahih. Adapun untuk hadits tentang menghidupkan malam nishfu sya’ban, tidak ada satu dalil shahih pun yang bisa dijadikan penguat untuk hadits yang lemah tadi.”[6]
Memang sebagian ulama ada yang menshahihkan sebagian hadits yang telah dibahas oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menshahihkan hadits Abu Musa Al Asy’ari di atas. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa hadits tersebut shahih karena diriwayatkan dari banyak sahabat dari berbagai jalan yang saling menguatkan, yaitu dari sahabat Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, ‘Abdullah bin ‘Amru, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakr Ash Shifdiq, ‘Auf bin Malik dan ‘Aisyah. Lalu beliau rahimahullah perinci satu per satu masing-masing riwayat.[7]
Namun sebagaimana dijelaskan oleh Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri, hadits Abu Musa Al Asy’ari adalah munqothi’ (terputus sanadnya). Hadits yang semisal itu pula tidak lepas dari kedho’ifan. Sehingga kami lebih cenderung pada pendapat yang dipegang oleh penulis Tuhfatul Ahwadzi tersebut. Ini serasa lebih menenangkan karena dipegang oleh kebanyakan ulama. Itulah mengapa beliau, penulis Tuhfatul Ahwadzi memberi kesimpulan terakhir bahwa tidak ada hadits yang shahih yang membicarakan keutamaan bulan Sya’ban. Wallahu a’lam bish showab.
Pendapat Ulama Mengenai Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban
Mayoritas fuqoha berpendapat dianjurkannya menghidupkan malam nishfu sya’ban. Dasar dari hal ini adalah hadits dho’if yang telah diterangkan di atas, yaitu dari Abu Musa Al Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Dan juga beberapa hadits dho’if lainnya jadi pegangan semacam hadits dari ‘Ali bin Abi Tholib.
Imam Al Ghozali menjelaskan tata cara tertentu dalam menghidupkan malam nishfu sya’ban dengan tata cara yang khusus. Namun ulama Syafi’iyah mengingkari tata cara yang dimaksudkan, ulama Syafi’iyah menganggapnya sebagai bid’ah qobihah (bid’ah yang jelek).
Sedangkan Ats Tsauri mengatakan bahwa shalat Nishfu Sya’ban adalah bid’ah yang dibuat-buat yang qobihah (jelek) dan mungkar.
Mayoritas fuqoha memakruhkan menghidupkan malam nishfu Sya’ban secara berjama’ah. Ada pendapat yang tegas dari ulama Hanafiyah dan Malikiyah dalam hal ini, mereka menganggap menghidupkan malam Nishfu Sya’ban secara berjama’ah adalah bid’ah. Para ulama yang juga melarang hal ini adalah Atho’ ibnu Abi Robbah, dan Ibnu Abi Malikah.
Adapun Al Auza’i, beliau berpendapat bahwa menghidupkan malam nishfu sya’ban secara berjama’ah dengan shalat jama’ah di masjid adalah suatu yang dimakruhkan. Alasannya, menghidupkan dengan berjama’ah semacam ini tidak dinukil dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula dari seorang sahabat pun.
Sedangkan Kholid bin Mi’dan, Luqman bin ‘Amir, Ishaq bin Rohuyah menyunnahkan menghidupkan malam nishfu sya’ban secara berjama’ah.[8]
Apabila kita melihat dari berbagai pendapat di atas, jika ulama tersebut menganggap dianjurkannya menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, maka ada dua cara untuk menghidupkannya.
Pertama, dianjurkan menghidupkan secara berjama’ah di masjid dengan melaksanakan shalat, membaca kisah-kisah atau berdo’a. Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban semacam ini terlarang menurut mayoritas ulama.
Kedua, dianjurkan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, namun tidak secara berjama’ah, hanya seorang diri. Inilah pendapat salah seorang ulama negeri Syam, yaitu Al Auza’i. Pendapat ini dipilih pula oleh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Lathoif Al Ma’arif.[9]
Ibnu Taimiyah ketika ditanya mengenai shalat Nishfu Sya’ban, beliau rahimahullah menjawab, “Jika seseorang shalat pada malam nishfu sya’ban sendiri atau di jama’ah yang khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian salaf, maka itu suatu hal yang baik. Adapun jika dilakukan dengan kumpul-kumpul di masjid untuk melakukan shalat dengan bilangan tertentu, seperti berkumpul dengan mengerjakan shalat 1000 raka’at, dengan membaca surat Al Ikhlas terus menerus sebanyak 1000 kali, ini jelas suatu perkara bid’ah, yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama.”[10]
Ibnu Taimiyah juga mengatakan, “Adapun tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban terdapat beberapa hadits dan atsar, juga ada nukilan dari beberapa ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat pada malam tersebut. Jika seseorang melakukan shalat seorang diri ketika itu, maka ini telah ada contohnya di masa lalu dari beberapa ulama salaf. Inilah dijadikan sebagai hujjah sehingga tidak perlu diingkari.”[11]
Setelah menyebutkan perkataan Ibnu Rajab dalam Lathoif Al Ma’arif, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pun lantas mengomentari pendapat Al Auza’i dan Ibnu Rajab. Beliau rahimahullah mengatakan, “Dalam perkataan Ibnu Rajab sendiri terdapat kata tegas bahwa tidak ada satu pun dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang shahih tentang malam Nishfu Sya’ban. Adapun pendapat yang dipilih oleh Al Auza’i rahimahullah mengenai dianjurkannya ibadah sendirian (bukan berjama’ah) dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Rajab, maka ini adalah pendapat yang aneh dan lemah. Karena sesuatu yang tidak ada landasan dalilnya sama sekali, maka tidak boleh bagi seorang muslim mengada-adakan suatu ibadah ketika itu, baik secara sendiri atau berjama’ah, baik pula secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.”[12]
Malam Nishfu Sya’ban Sama Seperti Malam Lainnya
Dalam masalah ini, jika memang kita memilih pendapat mayoritas ulama yang berpendapat bolehnya menghidupkan malam nishfu sya’ban, maka sebaiknya tidak dilakukan secara berjama’ah baik dengan shalat ataupun dengan membaca secara berjama’ah do’a malam nishfu sya’ban. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.
Sedangkan bagaimanakah menghidupkan malam tersebut secara sendiri-sendiri atau dengan jama’ah tersendiri? Jawabnya, sebagian ulama membolehkan hal ini. Namun yang lebih menenangkan hati kami, tidak perlu malam Nishfu Sya’ban diistimewakan dari malam-malam lainnya. Karena sekali lagi, dasar yang dibangun dalam masalah keutamaan malam nishfu Sya’ban dan shalatnya adalah dalil-dalil yang lemah atau hanya dari riwayat tabi’in saja, tidak ada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar sahabat yang shahih yang menerangkan hal ini.
Jadi di sini bukan maksud kami adalah tidak perlu melaksanakan shalat di malam Nishfu Sya’ban. Bukan sama sekali. Maksud kami adalah jangan khususkan malam Nishfu Sya’ban lebih dari malam-malam lainnya.
Perkataan yang amat bagus dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, beliau rahimahullah mengatakan, “Malam Nishfu Sya’ban sebenarnya seperti malam-malam lainnya. Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu. Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban. Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban (15 Hijriyah).” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.”[13]
Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban. Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja. Oleh karenanya, sebenarnya keutamaan malam Nishfu Sya’ban sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.
‘Abdullah bin Al Mubarok pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?! Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).” Dikeluarkan oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dalam I’tiqod Ahlis Sunnah (92).
Al ‘Aqili rahimahullah mengatakan, “Mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, maka hadits-haditsnya itu layyin (menuai kritikan). Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah termasuk pada keumuman hadits semacam itu, insya Allah.” Disebutkan dalam Adh Dhu’afa’ (3/29).[14]
Semoga sajian ini bermanfaat untuk memperbaiki amal ibadah kita.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi wa tatimmush sholihaat.
Referensi:
1.      Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Asy Syamilah.
2.      Fatawa Al Islam Sual wa Jawab, Syaikh Sholih Al Munajjid, www.islamqa.com/ar.
3.      Lathoif Al Ma’arif fii Maa lii Mawaasimil ‘Aam minal Wazhoif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H.
4.      Liqo’ Al Bab Al Maftuh, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin.
5.      Majmu’ Al Fatawa, Ahmad Ibnu Taimiyah,Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.
6.      Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Mawqi’ Al Ifta’.
7.      Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuri Abul ‘Alaa, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut.
Kami harap para pembaca bisa membaca artikel yang berkaitan dengan artikel ini di sini.
Selesai disusun di Panggang-GK, 4 Sya’ban 1431 H (16/07/2010)



[1] Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 3/365-367. Kata yang didalam kurung [...] adalah kesimpulan dari kami.
[2] Lathoif Al Ma’arif, 245.
[3] Lathoif Al Ma’arif, 245.
[4] Lathoif Al Ma’arif, 248.
[5] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/188.
[6] Idem.
[7] Lihat As Silsilah Ash Shohihah, no. 1144.
[8] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah (2/594) pada pembahasan “Ihyaul Lail”.
[9] Lathoif Al Ma’arif, 247-248.
[10] Majmu’ Al Fatawa, 23/131.
[11] Majmu’ Al Fatawa, 23/132.
[12] Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 1/190.
[13] Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115.
[14] Lihat Fatwa Al Islam Sual wa Jawab, no. 49678.



[Baca...]



BUSYROO LAKUM ….
CIVITAS AKADEMICA  IMAM BUKHARI FULLDAY & BOARDING SCHOOL
JATINANGOR – JALAN RAYA BANDUNG-SUMEDANG  KM 20,5 JAWA BARAT
--------------------------------- 

SDIT DAN SMPIT FULLDAU & BOARDING SCHOOL
TAUHUN PELAJARAN 2011/2012,
ALHAMDULILLAH RABBIL `ALAMIN
LULUS 100 % KELAS VI DAN KELAS IX

SALAH SEORANG SISWI SDIT IMAM BUKHARI FULLDAY SCHOOL,
BERNAMA : SYAKIRA HUSNA LATHIFAH
MEMPEROLEH NILAI UN TERTINGGI SE KAB. SUMEDANG,
BI`IDZNILLAH WA BIQADRILLAH….

SEMOGA MENJADIKANNYA SEBAGAI BEKAL  MOTIVASI
UNTUK MERAIH PRESTASI LEBIH BESAR LAGI DI SEKOLAH LANJUTANNYA KELAK, DAN SEMOGA ANUGERAH KECERDASANNYA DAPAT MENJADI MODAL BAGINYA UNTUK LEBIH SEMANGAT DALAM MENAATI ALLAH DAN DALAM MEMBELA AGAMA ALLAH…… SELALU MENAMPILKAN KEPRIBADIAN SHALIHAH DIMANAPUN DAN KAPANPUN SEBAGAIMANA PARA USTADZ-USTADZAHNYA DI IMAM BUKHARI SELALU MENGAJARKAN DEMIKIAN…
DAN MENJADI QURRATU `AIN BAGI AYAH-IBU NYA ….

YANG BERSANGKUTAN (SYAKIRA) KINI DITERIMA
DI AKSELERASI SMPN-2 SUMEDANG JAWA BARAT.
-------------------------------------------------

KEGEMBIRAAN KAMI YANG TAK KALAH PENTING:
SEBAGAIN BESAR ANAK-ANAK CERDAS DAN BERKEPRIBADIAN SHALIH/SHALIHAH, PAPAN ATAS DALAM PRESTASI SELAMA MEREKA DI SDIT DAN SMPIT NYA, BAIK YANG FULLDAY MAUPUN YANG BOARDING,
KHUSUSNYA UNTUK 3 ANGKATAN TERAKHIR (2009 – 2011) :
TIDAK SAJA DITERIMA DI SEKOLAH-SEKOLAH FAVORIT (NEGERI/SWASTA, RSBI, UNGGULAN DAN AKSELARASI),
JUGA DI PONDOK-PONDOK PESANTREN MODERN PAPAN ATAS :
DI GONTOR – PESANTREN AL ISRYAD SALATIGA – MU`ALLIMIN AL MUKMIN NGRUKI - SMA FG BEKASI – NURUL FIKRI LEMBANG – HIDAYATUN NAJAH BEKASI – IHYA’ AS SUNNAH TASIK MALAYA – IMAM BUKHARI SOLO – IMAM BUKHARI JATINANGOR – ASY SYIFA’  SUBANG – RIYADLUS SHALIHIN PANDEGLANG – ISLAMIC CENTRE BIN BAZ JOGYAKARTA – HUSNUL KHATHIMAH DAN MULTAZAM DI KUNINGAN - DAN MASIH BANYAK LAGI ….

----------------------------------------
BERITA LOMBA :
MEREKA YANG MERAIH PRESTASI DI ARENA LOMBA, TINGKAT SMP
MESSA AL MA`SOM, MEI 2012 :

·      IZZATUL ISLAM (KELAS VII BOARDING) , JUARA PERTAMA TAHFIZH AL QUR’AN,
·      NADHIFAH AISYAH (KELAS VIII), JUARA KE-3 LOMBA MIPA (MATEMATIKA),
·      MUTIARA KHANSA’ (KELAS VIII), JUARA KE-2 LOMA MIPA (FISIKA)…


APABILA PADA TH PELAJARAN 2010/2011,
TERDAPAT SATU SISWA YANG DITERIMA DI TES NASIONAL
MAN SERPONG / GORONTALO, YAITU  ADETIKO (ASAL BEKASI),
MAKA PADA TAHUN 2011/2012 INI, DITERIMA DUA SISWA/SISWI
SMPIT IMAM BUKHARI, YAITU : ADZ DZIKRA DZKRULLAH , Dan TANIA.

------------------------------

IMAM BUKHARI JATINANGOR DAN
PESANTRTEN ISLAM AL IRSYAD SALATIGA :

ALHAMDULILLAH, 8 SISWA SMPIT IMAM BUKHARI BOARDING, PADA TES SELEKSI TH 2012/2013, UNTUK MASUK I`DAD LUGHAWI, DARI 11 YANG MENGIKUTI TES SELEKSI, 9 DIANTARANYA DITERIMA DI PESANTREN ISLAM AL-IRSYAD SALATIGA, …. MEREKA INI 10 BESAR DI SMPIT INI (PAPAN ATAS PRESTASI DARI KELAS 1 – 3), SALAH SATUNYA DITERIMA DI MAN INSAN CEDEKIA (SERPONG / GORONTALO) ……

DAN TAHUN 2012/2013, PESANTREN ISLAM AL IRSYAD SLATIGA MEMBERI KEPERCAYAAAN KEPADA IMAM BUKHARI JATINANGOR, DENGAN MENGIRIM KAN 3 (TIGA) SISWA NYA UNTUK BER-HIDMAT DI SMPIT IMAM BUKHARI BOARDING SCHOOL JATINANGOR, YAITU : BURHANUDDIN, ABDURRAHMAN MUNDZIR, DAN FATIH FATHURRAHMAN.
(KE TIGA SISWA INI ADALAH ALUMNI DARI SMPIT IMAM BUKHARI, YANG BERPRESTASI SEJAK DI SMPIT NYA MAUPUN SELAMA DI AL IRSYAD).

[Baca...]



Bismillah...

Berikut ini informasi nilai sengaja dipublish di sini dengan tujuan siswa SMPIT IB dapat mengetahui nilai mapel B. Ing plus mengetahui blog ini juga. Silahkan dilihat:

1. Nilai UTS dan UKK kelas 7 dan 8 Putra





2. Nilai UTS dan UKK Kelas 7 dan 8 Putri




Siswa - siswi sekalian, silahkan diambil faedahnya, dimana jika kita bersungguh-sungguh Insya Allah kita akan dapatkan yang diinginkan, dan pencapaian kita dari waktu kewaktu seharusnya meningkat, jika menurun berarti kita bisa termasuk orang-orang yang merugi. Yup.. semangatlah selalu dalam belajar.

lihat juga : http://myimambukhari.wordpress.com/?p=96&preview=true

[Baca...]